:::

Fan Ting-fu Aksi Seni Restorasi Konservator Kaligrafi & Lukisan Oriental

1

 

 

Studio SJ Art and Conservation (SJAC) yang terletak di Guandu, Taipei dengan interior berwarna putih memberikan atmosfer ruangan berkesan hening. Para staf petugas dalam ruangan ini bekerja dalam suasana tenang, nada berbicara kecil, bahkan langkah kaki dan gerakan tangan pun sangat kalem, karena "Tamu penting" yang menyambangi studio kerja ini adalah benda berharga dan antik yang berusia ratusan tahun, benda antik yang dikonservasi dan dirawat dengan ekstra hati-hati.

Pemilik SJAC, Fan Ting-fu senantiasa berbicara dengan suara kecil namun cepat, terlihat dari tingkah lakunya seperti remaja dewasa yang kecanduan terhadap seni. Fan Ting-fu sangat tekun melakukan upaya perawatan terhadap benda dan ia adalah konservator Taiwan pertama yang pernah bekerja di Museum British, London.

 

Menambal ceruk, mengisi lukisan yang terkikis, tantangan berat bagi mata.Menambal ceruk, mengisi lukisan yang terkikis, tantangan berat bagi mata.

Pada masa kuliah, Fan Ting-fu bermula dari profesi sebagai pelukis tinta modern, untuk mendalami tampilan bentuk seni, ia terjun dan mempelajari bidang seni Zhuang Biao (Seni tradisional dekorasi tepi lukisan dan kaligrafi di atas kertas). Dari seni ini, ia mengenal banyak wawasan tentang teknik dan pengetahuan tentang restorasi, maka ia pun meniti karir sebagai konservator merestorasi benda peninggalan.

Merestorasi Benda, Menjernihkan Pikiran

“Untuk mendapatkan inspirasi berkarya maka belajar seni Zhuang Biao,” ujar Fan Ting-fu tanpa basa-basi.

Selama ini karya lukisan yang telah selesai dibuat, sebagian besar seniman akan meminta pengrajin untuk tahap akhir Zhuang Biao menyempurnakan tampilan karya seni mereka. Namun bagi Fan Ting-fu, si pemburu kreasi bebas berharap agar hasil karyanya dapat disempurnakan sendiri, mulai dari konten hingga tampilan bentuknya. Oleh karena itu, Fan Ting-fu mendalami teknik seni tradisional Zhuang Biao dan mulailah dia menginjakkan kakinya pada dunia restorasi.

Fan Ting-fu Aksi Seni Restorasi Konservator Kaligrafi & Lukisan Oriental

Setelah lulus kuliah, Fan Ting-fu melanjutkan studi di Graduate Institute of Conservation of Cultural Relics and Museology, suatu departemen akademik khusus melatih para konservator benda antik profesional yang pertama di Taiwan, Fan Ting-fu secara resmi menekuni dunia restorasi dan mengatakan, “Sangat menaruh minat pada teknik seni tradisional Zhuang Biao dan restorasi, banyak hal mendetail yang perlu dipertimbangkan, mencakup bahan material maupun teknik dan pengetahuan, hal demikian yang tidak pernah dipikirkan oleh para seniman.” Hanya saja saat konservator merestorasi benda antik memerlukan waktu yang lama, duduk di hadapan benda antik dan merawatnya, dari membersihkan debu-debu, menambal ceruk hingga memberi sentuhan warna. Karena lingkup pembenahan yang sangat halus dan kecil maka terlihat seakan-akan pelaku restorasi tidak bergerak. Ini merupakan pekerjaan yang sulit dan tidak menyenangkan bagi Fan Ting-fu yang suka beraktivitas di luar.

Kuas adalah perkakas penting yang digunakan untuk Zhuang Biao dan merestorasi kaligrafi dan lukisan. Konservator menghabiskan waktu bertahun-tahun berlatih penggunaan kuas untuk mengasah keterampilan dalam restorasi.Kuas adalah perkakas penting yang digunakan untuk Zhuang Biao dan merestorasi kaligrafi dan lukisan. Konservator menghabiskan waktu bertahun-tahun berlatih penggunaan kuas untuk mengasah keterampilan dalam restorasi.

Lagipula merestorasi bukan berkreasi, membuat Fan Ting-fu harus menekan hasratnya untuk berkreasi, ia mengambil contoh pada tahapan sentuhan warna sepenuhnya (Mengadopsi penambalan zat pewarna yang senada dengan warna dasar), berpegang pada konsep restorasi namun tetap dapat teridentifikasi, membedakan bagian yang direstorasi dengan wujud asli. Saat diperlukan pemberian warna, maka warna yang digunakan semestinya mendekati dengan warna aslinya. Beragam prinsip dan ketentuan restorasi yang mendetail membuat Fan Ting-fu yang kreatif menjadi frustasi dan menjalani masa-masa pahit. Fan Ting-fu mengaku untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan ini menghabiskan waktu lebih dari dua tahun lamanya.

Konsep Restorasi Disesuaikan Dengan Perkembangan Masa

Hingga saat ini, berbicara tentang restorasi, sebagian besar akan berlawanan arah dan mengejar museologi Barat. Namun sebaliknya Fan Ting-fu menjelaskan, kaligrafi dan lukisan oriental justru memiliki sistem tersendiri seperti cara pemulihan benda kuno semestinya dimulai dari konsep Zhuang Biao. Fan Ting-fu lebih lanjut menjelaskan, “Restorasi Zhuang Biao Tiongkok telah ada di masa lalu, hanya saja dahulu lebih condong dengan konsep memulihkan secara sederhana, agar benda dapat berfungsi normal. Sementara untuk konsep restorasi modern, selain kondisi fisik benda peninggalan, latar belakang historis, nilai estetika bahkan persepektif dan nilai original tetap dipertahankan.”

Merestorasi Benda, Menjernihkan Pikiran

Upaya restorasi modern menuntut para konservator memiliki pengetahuan yang luas baik di bidang sejarah, estetika, sejarah seni dan kimia. Para konservator wajib mematuhi prinsip “Reversibiltas” (Semua tambahan baik teknik maupun material bisa dilepaskan agar mempermudah pengembalian obyek pada kondisi semula), “Dapat teridentifikasi” (Bekas pemulihan dan wujud asli ada keselarasan namun dapat dibedakan) , “Otentik” mengadopsi konsep meminimalisasi intervensi dalam proses pemulihan.

Restorasi modern sangat mengutamakan pendataan hasil pengamatan dan rencana restorasi sebelum mulai dikerjakan. Setelah konservator menerima proyek restorasi maka mulai menulis tabel hasil pengamatan ujicoba terhadap obyek. Fan Ting-fu mengatakan, “Serupa dengan berkas rekam medis barang antik”, sebelum menulis rencana restorasi benda peninggalan terlebih dahulu menjalani beragam ujicoba zat pelarut.

Di bawah kaca pembesar mengamati reaksi zat pelarut terhadap benda peninggalan.Di bawah kaca pembesar mengamati reaksi zat pelarut terhadap benda peninggalan.

Cuci, Lepas, Tambal dan Beri Sentuhan Warna Sepenuhnya

Bagaimana merestorasi kaligrafi dan lukisan? Pada awalnya diperlukan pemahaman terhadap metode Zhuang Biao, Fan Ting-yu mengatakan, “Penjelasan dari kata benda ‘Zhuang Biao’ adalah ‘Menambah busana pendukung’ dan ‘Aksesoris’ yang berarti bahwa karya inti dilengkapi dengan item pendukung kemudian diberi hiasan.” Karya lukisan yang kotor dan berdebu perlu dicuci bersih, selanjutnya karya inti dikeluarkan dari kerangkanya dan merestorasi bagian yang rusak dengan menambal, pada bagian warna yang hilang akan diberi sentuhan warna. Prosedur demikian dapat diringkas menjadi “Cuci, lepas, tambal, beri sentuhan warna sepenuhnya”, penjelasan cepat dalam hitungan detik yang disampaikan oleh Fan Ting-fu, namun sebenarnya dalam prakteknya memerlukan ratusan langkah pengerjaan.

Pengujian melalui sinar ultraviolet guna memahami rincian pola benda peninggalan.Pengujian melalui sinar ultraviolet guna memahami rincian pola benda peninggalan.

Fan Ting-yu menjelaskan, para pengamat kaligrafi dan lukisan oriental akan menyaksikan obyek seni dari jarak dekat, jika mengadopsi penambalan warna dengan cara demikian, penambahan garis-garis warna membuat lukisan terlihat janggal. Maka dari itu, pada periode akhir beberapa negara seperti Taiwan dan Jepang mengadopsi proses pemulihan dengan “Sentuhan warna sepenuhnya”, tanpa mempengaruhi kognisi karya lukis, jika ada karya tulisan maupun lukisan yang rusak maka konservator akan mengisi warna senada pada bagian kecil (Sentuhan warna sepenuhnya) bukan ditambal dengan garisan-garisan tipis (Tidak menggunakan pena), metode yang diterapkan disesuaikan dengan kondisi lokal.

Restorasi Bagian Interpretasi Budaya

Berkonsentrasi penuh, konservator menghabiskan masa hidupnya untuk melestarikan benda peninggalan.Berkonsentrasi penuh, konservator menghabiskan masa hidupnya untuk melestarikan benda peninggalan.

Lulus dari strata II, Fan Ting-fu magang di Museum Shanghai, setelah itu baru bekerja di Divisi Kaligrafi dan Lukisan, Museum Nasional Istana di Taipei dan studio Hirayama, Museum British di London. Fan Ting-yu mengatakan, pelatihan selama di Museum Shanghai cenderung seperti program magang atau guru mewariskan keahlian kepada muridnya, membuatnya memahami bahwa pemulihan Zhuang Biao bukan sekedar teknik seni, di balik beberapa tahapan pengerjaan “Cuci, lepas, tambal dan beri sentuhan warna sepenuhnya” memuat akumulasi kultur. “Menjadi konservator maka meneruskan langkah yang diwariskan oleh guru.” Pada aliran seni demikian, Fan Ting-fu beranggapan Zhuang Biao bukan sekedar teknik seni melainkan himpunan memori budaya dari sekelompok orang, kewajiban seorang konservator adalah mewariskan pelestarian benda peninggalan.

Pengalaman kerja di Museum British, semakin memperluas wawasannya. Selama bekerja di sana mengenal rekan dan pakar yang berasal dari negara dan budaya yang berbeda dan memberikan perspektif berbeda dalam merestorasi benda peninggalan, pengalaman ini membuatnya semakin memahami bahwa restorasi tidak hanya memulihkan material obyektif, namun pada proses juga dipengaruhi interpretasi dari kebijakan kebudayaan pemerintah. Fan Ting-fu mengatakan, “Restorasi adalah bagian dari interpretasi budaya.” Tidak ada jawaban yang tepat dalam restorasi, yang ada adalah melalui debat pembahasan beragam isu yang mencakup perkembangan benda peninggalan, tujuan pelestarian dan teknik yang diterapkan, baru disebut sebagai restorasi yang rasional.

Fan Ting-yu beranggapan teknik restorasi kaligrafi dan lukisan Taiwan telah bersumbangsih di kancah internasional, maka ia mengupayakan agar dapat berpartisipasi dalam berbagai organisasi internasional seperti The International Institute for the Conservation of Historic and Artistic Works (IIC) dan The American Institute for Conservation of Historic and Artistic Works (AIC), berharap suara Taiwan dapat menggema di komunitas internasional, membentuk studio SJ Art and Conservation (SJAC) membawa layanan restorasi profesional bertaraf benda museum kepada publik agar masyarakat awam semakin memahami makna dan nilai restorasi

Studio kerja San Jien Arts and Conservation (SJAC), San Jien artinya 3 ruangan yang terdiri dari satu ruang seni, satu ruang restorasi dan satu ruang kehidupan.Studio kerja San Jien Arts and Conservation (SJAC), San Jien artinya 3 ruangan yang terdiri dari satu ruang seni, satu ruang restorasi dan satu ruang kehidupan.

Ketika Fan Ting-fu kembali berpikiran untuk menjadi seniman, namun ia mengukuhkan baik berkreasi maupun restorasi, keduanya memerlukan “Kreativitas”, hanya saja bagian yang dikreasikan berbeda. Restorasi tidak memiliki standar jawaban tepat, maka dari setiap benda peninggalan yang akan direstorasi merupakan suatu ajang tantangan, melalui proses demikian, Fan Ting-fu mengakui, “Merasa dirinya melakukan aksi seni.” Sepanjang perjalanan karir seni, dirinya adalah seorang konservator benda peninggalan yang melakukan praktik seni.