:::

Paviliun Taiwan Hadirkan Isu-Isu Sosial dalam Pameran Venice Biennale ke-58

Karena lokasi yang ditempati oleh paviliun Taiwan adalah lokasi bekas penjara (Palazzo delle Prigioni), Cheang Shu-lea berharap desain paviliun ini dapat menggabungkan segi historis lokasi pameran dengan isu-isu sosial yang sedang terjadi.

Karena lokasi yang ditempati oleh paviliun Taiwan adalah lokasi bekas penjara (Palazzo delle Prigioni), Cheang Shu-lea berharap desain paviliun ini dapat menggabungkan segi historis lokasi pameran dengan isu-isu sosial yang sedang terjadi. (Foto oleh CNA)

 

Paviliun Taiwan dalam pameran “La Biennale di Venezia” ke-58 di Italia menampilkan isu-isu sosial, seperti transgender dan kehidupan seksual dalam format digital.
 
Paviliun yang didesain oleh artis Taiwan, Cheang Shu-lea, diberi nama “3 x 3 x 6”. Angka tersebut merepresentasikan rata-rata luas ruang penjara yang ditempati oleh seorang pelaku kejahatan kriminal sebesar 9 meter persegi. Sedangkan, angka 9 menyimbolkan 6 kamera pengawas yang dipasang di dalam ruang penjara tersebut.
 
Karena lokasi yang ditempati oleh paviliun Taiwan adalah lokasi bekas penjara (Palazzo delle Prigioni), Cheang Shu-lea berharap desain paviliun ini dapat menggabungkan segi historis lokasi pameran dengan isu-isu sosial yang sedang terjadi.
 
Dalam paviliun ini, Cheang Shu-lea juga menampilkan pertunjukkan teater yang diangkat dari 10 kasus pidana. Dalam kasus-kasus tersebut, anggota masyarakat dijatuhi hukuman pidana karena jenis kelamin atau karena penyimpangan seksual.
 
Beberapa kisah yang ditampilkan adalah cerita tentang “Michel Foucault”, seorang filsuf homoseksual, yang dikenal karena memperjuangkan hak-hak kaum homoseksual; kisah tentang “Casanova”, seorang pemuda Venesia dari abad ke-18 dengan kisah cinta lintas gender; dan “Marquis de Sade”, seorang pemuda yang namanya digunakan untuk menggambarkan kekerasan seksual “Sadism”.
 
Untuk mendobrak stereotip yang ada pada masyarakat, Cheang Shu-lea mengundang artis peran dengan bentuk tubuh dan ras yang berbeda dengan konsepsi masyarakat, misalnya Marquis de Sade yang digambarkan bertubuh kurus, dalam pertunjukkan ini diperankan oleh pemeran wanita bertubuh gemuk, atau seorang aktor Asia memerankan tokoh orang Eropa.     
 
Penyelenggara pameran “La Biennale di Venezia”, Paul Preciado, yang juga merupakan teman karib Cheng Shu-lea, adalah seorang transgender yang juga membagikan pengalamannya dalam kesempatan ini. Ia berharap pameran ini dapat menghilangkan batasan gender laki-laki dan perempuan.
 
Paul Preciado menyebut Cheang Shu-lea bukan sebagai seniman perempuan, tetapi sebagai pemimpin tren gender masa depan.
 
Cheang Shu-lea adalah seniman wanita asal Taiwan pertama yang menampilkan pameran tunggal dalam pameran “La Biennale di Venezia”. Pada tahun 2003, Cheang Shu-lea pernah ikut serta dalam pameran tersebut, dan kali ini ia kembali dengan menampilkan hasil karya bertema gender, politik, internet, dan hukum.
 
Di sela-sela pameran, paviliun Taiwan juga mengadakan sebuah forum diskusi dalam bentuk pertunjukan teatrikal, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pengunjung tentang sistem tatanan hukum yang memarginalisasi kaum lemah, serta rendahnya tingkat toleransi masyarakat terhadap kaum yang berbeda dengan mereka.
 
Forum tersebut dilaksanakan di lokasi yang unik, yaitu Rumah Sakit Jiwa San Servolo, yang terletak di lepas pantai Venesia.  
 
Rumah sakit jiwa ini digunakan pertama kali pada abad ke-18 hingga tahun 70an untuk menampung penderita gangguan jiwa, yang pada saat itu termasuk kaum transgender dan kaum homoseksual.
 
Paviliun Taiwan dalam pameran “La Biennale di Venezia” 2019 dibuka untuk umum mulai tanggal 10 Mei – 24 November 2019, dengan waktu kunjungan setiap hari Selasa-Minggu pukul 10.00-18.00.