:::

Harmonisasi Lama dan Baru Ritual Penuh Senyuman Konfusianisme Ajaran Mutakhir nan Abadi

Arsitektur bergaya Minnan dan atmosfer kuil humanitas, menjadi fitur khas Kuil Konfusius Taipei.

Arsitektur bergaya Minnan dan atmosfer kuil humanitas, menjadi fitur khas Kuil Konfusius Taipei.

 

Konfusianisme adalah tulang punggung dari peradaban sejarah yang kaya, jantung dari kehidupan sosial yang damai nan berkembang.

Guru Besar Konfusius lahir pada 2.568 tahun silam, untuk menyambut hari jadi sang Guru, instrumen-instrumen dipersiapkan untuk menggelar upacara peringatan kuno; meliputi ritual, musik, tarian dan jamuan makanan. Saat ini, Kuil Konfusius Taipei merupakan yang terbesar di Taiwan. Pergelaran seremoni menelusuri asal muasal, penyelenggaraan festival kebudayaan nan elegan merupakan akar Kuil Konfusius. Berakar pada tanah yang subur, menumbuhkan cabang baru dan menyejahterakan seluruh kehidupan.

 

Perayaan Ritual Kuno Khidmat nan Agung

Kuil Konfusius Taipei dibangun di atas area dengan luas lebih dari 4.000 ping (Setara dengan 1,32 hektar). Kuil ini berdiri kokoh selama hampir 80 tahun, dan telah didaftarkan sebagai salah satu bangunan  bersejarah pada tahun 1990.

“Arsitektur bergaya Minnan dan atmosfer kuil humanitas, menjadi fitur khas yang dimiliki oleh kami,” demikian ujar Chen Tsung-wei, Sekretaris Eksekutif Dewan Pengelola Kuil Konfusius Taipei.

Upacara musim gugur, merupakan kegiatan akbar Kuil Konfusius.Upacara musim gugur, merupakan kegiatan akbar Kuil Konfusius.

“Upacara musim gugur, merupakan kegiatan akbar Kuil Konfusius,” lanjut Chen Tsung-wei. Ritual, musik, tarian dan jamuan makanan dipersiapkan di dalam kuil. Upacara yang digelar pada tanggal 28 September setiap tahunnya ini, merupakan upacara peringatan tingkat nasional yang terbaik dan terlengkap. Dimulai dari prosesi persiapan, penyambutan dewa, upacara sembahyang, pengantaran dewa hingga penutupan; semuanya dilaksanakan dengan menyelesaikan 37 langkah ritual. Pelaksanaan upacara yang khidmat, sarat dengan ritual dan musik, membuat upacara ini memiliki nilai pembelajaran yang tinggi.

Kekuatan Reformasi Tak Terurai oleh Kata-Kata

Siswa yang mengenakan jubah panjang merah, berperan sebagai pemain musik. Sedangkan siswa dengan jubah panjang kuning, berperan sebagai penari. Siswa-siswa tersebut menjadi fokus utama dari upacara ini. Pemain musik telah berlatih selama 1 tahun. Beberapa tahun terakhir, murid dari Chongqing Junior High School menjalankan peran ini.

Alur upacara dan musik pengiring dalam upacara ini, telah diwariskan sejak era Dinasti Song. Sun Rui-jin, yang bertanggung jawab sebagai pelatih musik ini, mengaku cemas akan hilangnya sang penerus di masa mendatang. “Saya tidak berharap, pemain musik ritual Konfusius akan berakhir di era saya”. Meskipun dirinya bukanlah keturunan dari Guru Besar Konfusius, namun tanggung jawab untuk meneruskan warisan masa lalu, menjadi kewajiban dan tugas yang tidak terhindarkan bagi Sun Rui-jin.

“Membuka peluang bagi anak-anak untuk berlatih secara mandiri, merupakan motivasi saya untuk menyelesaikan misi ini tanpa ada penyesalan”. Latihan giat melewati musim dingin dan panas ini, mengasah karakter dan stamina anak-anak. Secara pribadi, Sun Rui-jin merasakan norma ketat dalam ritual musik ini, secara perlahan telah memupuk rasa tanggung jawab dan kebanggaan di dalam diri anak-anak.

“Ada seorang siswa pemain musik yang hampir tidak lulus sekolah (SMP)”. Setelah lebih dari 1 dekade, tiba-tiba Sun Rui-jin menerima telepon dan sang murid memberitahukan sang guru akan kondisi pekerjaan yang dilakukannya saat ini. Kekuatan apa yang telah membimbing sang anak dari jalan yang sesat? “Saya bertanya, siapa gerangan yang telah memengaruhi kamu? Ia menjawab Konfusius. Seketika itu juga saya berlinang air mata”. Di saat itulah, Konfusianisme bukan hanya pembelajaran yang ditemukan di buku-buku tua bersejarah, melainkan bentuk dari kebijaksanaan tertinggi yang bersatu dengan pengalaman hidup.

“Murid Ritual” memikul tanggung jawab untuk memimpin jalannya ritual dalam upacara akbar.“Murid Ritual” memikul tanggung jawab untuk memimpin jalannya ritual dalam upacara akbar.

Sejak tahun 1931, siswa Taipei Municipal Dalong Elementary School, telah menjalankan peran penari. Tradisi ini tidak pernah putus selama 87 tahun terakhir. Gerak kaki dan tangan penari, memperlihatkan unsur kelembutan dari ajaran Konfusiansime. Melalui tatapan dan langkah mereka, tercermin bagaimana sang penari telah berlatih sedemikian rupa, mengendalikan gerakan tubuh yang statis dan dinamis.

‘Kuliner Konfusianisme’ yang terkenal, mewariskan perenungan ‘Setiap makanan yang disajikan, haruslah yang terbaik’. Hal yang sedemikan detail, telah menjadi pedoman dalam kebudayaan kuliner Tionghoa. Jamuan persembahan dalam ritual ini, mengikuti tradisi kuno dan berpedoman pada kaidah ‘Harmoni’. Sejak tahun 2007, persiapan jamuan makanan dilakukan oleh siswa Kai Ping Culinary School, yang pada akhirnya menghantarkan mereka pada sebutan ‘Juru Masak Konfusius’. Jumlah menu yang harus dipersiapkan adalah; 3 sup, 4 makanan, 10 keranjang (Bambu), 10 kacang-kacangan, dan 27 penganan, dengan total 189 menu.

Perpaduan Lama dan Baru

“Lokasi semula dari Kuil Konfusius Taipei terletak dimana Taipei First Girls’ High School saat ini berdiri,” demikian kata Li Chien-lang, Dosen National Taiwan University of Arts. Selang 110 tahun, fakta ini baru ditemukan setelah Kuil Konfusius Taipei menggelar program ‘Pengembaraan Menelusuri Asal Muasal’ di Festival Kebudayaan pada tahun 2017.

Tahun ini, di bawah perencanaan yang digagas oleh Chinese Association of Confucius bekerja sama dengan tim penelitian ritual yang dibentuk oleh Dosen National Taiwan University (NTU), Yeh Kuo-liang dan Huang Chi-shu, rencana untuk memulangkan ‘Akar’ Konfusianisme ke Taipei First Girl’s High School pun dimulai. Secara perdana, upacara pengukuhan tersebut dipimpin oleh Kepala Sekolah, Yang Shih-ruey. Diiringi dengan alunan musik kuno, upacara penyerahan gulungan bambu pun berlangsung. Gulungan bambu ini diberikan agar para murid dapat menanam rasa syukur mereka, dan memberi inspirasi serta tekad pengabdian untuk belajar, guna mencapai masa depan yang lebih gemilang.

Semenjak tahun 1931, siswa Taipei Municipal Dalong Elementary School, telah menjalankan peran penari. Tradisi ini tidak pernah putus selama 87 tahun terakhir.Semenjak tahun 1931, siswa Taipei Municipal Dalong Elementary School, telah menjalankan peran penari. Tradisi ini tidak pernah putus selama 87 tahun terakhir.

Musim Gugur yang Anggun Puisi dan Teh

Pada tahun 2018, melalui Festival Kebudayaan, Kuil Konfusius Taipei menggelar serangkaian kegiatan yang elegan. Acara yang berlangsung pada 22 September ini, dimulai dengan pembacaan oleh Perhimpunan Puisi Tianlai Kota Taipei, yang didirikan di era kolonialisasi Jepang dan telah memiliki sejarah ratusan tahun. Di bawah langit cerah sesudah hujan, lantunan puisi musim gugur dikumandangkan. Nyanyian puitis terdengar merdu di antara gerbang sisi barat dan timur Kuil.

Tanggal 23 September pagi hari, Kong Yi-ru (Generasi Konfusius ke-73) bersama dengan Nancy Chao, Wang Jin-xi dan Ke Li-yue, menginterpretasikan jamuan ‘Teh Konfusianisme’, bercengkerama dengan teman-teman sambil menikmati secangkir teh.

Siang hari, pianis Kong Wei-liang (Generasi Konfusius ke-78), dan violis Tsai Yi-hsuan melantunkan melodi yang memukau. Melalui instrumen klasik, nada musik modern disenandungkan.

Kong Tsui-chang , generasi ke 79 penerus utama Konfusius, pelaksana upacara kepada Guru Besar, memikul tanggung jawab sejarah dan keluarga besar.Kong Tsui-chang , generasi ke 79 penerus utama Konfusius, pelaksana upacara kepada Guru Besar, memikul tanggung jawab sejarah dan keluarga besar.

Kemuliaan Konfusius Misi Keluarga Besar

Kuil Konfusius adalah aula leluhur bagi keturunan Guru Konfusius, tempat ini juga menjadi benteng spiritual mereka. Keturunan Konfusius secara perdana menghadiri acara akbar Festival Kebudayaan Kuil Konfusius, yang menjadi bagian sangat penting. ‘Silsilah keluarga yang terus terjaga selama 2.500 tahun, hanya Konfusius yang dapat bertahan’. Generasi ke-79 penerus utama Konfusius, “Merupakan satu-satunya pelaksana upacara penghormatan kepada Guru Besar,” lanjut Kong Tsui-chang.

Kong Fan-lin (Generasi Konfusius ke-74) mengemukakan, “Saya berharap kesempatan ini, dapat membuat keluarga besar Konfusius merasa tergerak dengan misi yang dibawa sejak lahir,” mengukuhkan kesadaran akan tanggung jawab keluarga, menunjukkan efek riak, dan bergotong-royong mempromosikan ajaran Konfusianisme.

Dalam kegiatan kali ini, seluruh anggota keluarga turut bahu-membahu. “Meskipun kekuatan dari masing-masing kami sangatlah kecil, tetapi setiap kekuatan kecil ini bersatu dan membuat nama Konfusius bersinar,” ujar Kong Xiang-yun (Generasi Konfusius ke-75).

“Setelah tiba di Amerika Serikat, setiap kali saya melihat gambar dari Konfusius, hati ini tersentuh. Saya mendorong diri saya, untuk lebih giat lagi dan jangan mempermalukan nama besar leluhur saya,” kata Kong Wei-liang. Darah Konfusius yang mengalir di dalam tubuh tidak dapat dipisah, dimanapun berada, hal ini tetap tidak dapat berubah.

Esensi budaya Konfusianisme diinterpretasikan melalui upacara minum teh oleh Kong Yi-ru. Upacara minum teh Konfusius, kental akan unsur lemah lembut, ramah, sopan, hemat dan tidak mendahului.

Arsitektur bergaya Minnan dan atmosfer kuil humanitas, menjadi fitur khas Kuil Konfusius Taipei.Arsitektur bergaya Minnan dan atmosfer kuil humanitas, menjadi fitur khas Kuil Konfusius Taipei.

Navigasi Kehidupan nan Abadi

‘Jika Konfusius tidak dilahirkan, kebudayaan Tionghoa akan tenggelam di kegelapan malam’. Ucapan tersebut tertuang dalam puisi Zhuxi di era Dinasti Song Selatan, yang memberikan Konfusius penghormatan tertinggi. Setelah melalui rintangan selama 2.568 tahun, sampai hari ini Konfusius masih menjadi pedoman di era kehidupan modern. Pedoman ini, sudah sepatutnya dijunjung oleh khalayak manusia.

Kong Tsui-chang memikul tanggung jawab sejarah dan keluarga besar, “Pada tahun 2009, saat mengenakan jubah panjang pelaksana upacara, suasana khusyuk nan khidmat langsung terpancar, misi suci warisan leluhur langsung terasa di sekujur tubuh hingga ke kepala.” Kong Tsui-chang mengikuti jejak langkah leluhur, berkelana ke berbagai negara, menyebarkan Konfusianisme. “Di Korea Selatan, Jepang dan Vietnam Utara, sangat kental rasa pengabdian dan penghormatan mereka terhadap Konfusianisme”.

Hakikat dari peninggalan budaya berharga ini adalah nilai ‘Kebajikan’. Rasa cinta terhadap langit, bumi dan seluruh makhluk hidup, memperlakukan satu sama lain seperti selayaknya kita ingin diperlakukan. “Jiwa dan unsur yang terdapat dalam ajaran Konfusianisme, seperti; kebajikan, kesetiaan, kesopanan, kebijaksanaan dan kepercayaan; tidak hanya dapat digunakan sebagai tolok ukur bagi pengembangan masing-masing individual, melainkan dapat berfungsi sebagai prinsip pemerintahan sebuah negara,” ujar Kong Tsui-chang. Tidak hanya menjadi permata bagi kebudayaan Suku Tionghoa, ajaran Konfusianisme juga dapat memengaruhi seluruh umat manusia.

Pembelajaran musik dan tarian dalam Konfusianisme dapat berperan sebagai navigasi dimanapun manusia tersebut berada, ia dapat menerangi cahaya kehidupan. Sepanjang 25 abad, ajaran Konfusianisme tidak hanya terus mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga menjadi remedi yang mujarab bagi kebobrokan dunia. Layaknya pelaksana dalam upacara penghormatan Guru Konfusius, pancarkan misi ‘laksanakan kewajiban terhadap dunia dengan sebaik-baiknya, demi menciptakan perdamaian bagi generasi mendatang’.