:::

Kelezatan Masakan Rumahan Asia Tenggara Dapur IBU x Toko Buku Dongguashan

Henny Kartika (kiri) dan Deena Bouchard (kanan) bergandengan tangan mewujudkan impian mereka.

Henny Kartika (kiri) dan Deena Bouchard (kanan) bergandengan tangan mewujudkan impian mereka.
 

Ketika memasuki restoran Dapur IBU X Toko Buku Dongguashan (IBU Café Book) di Jalan Nanshing, Desa Dongshan, Yilan, pemandangan pertama yang menyapa mata adalah dinding yang dipenuhi dengan deretan buku-buku yang memesona, sementara samar-samar aroma kental bumbu dan kelapa menyambut hidung. Di sini pengunjung dapat meminjam buku dengan gratis, mencicipi masakan Asia Tenggara, serta melakukan pertukaran dengan penduduk migran baru dan pekerja migran Asia Tenggara, ini merupakan hasil dari praktik sosial seorang asisten professor yang meneliti problematika Asia Tenggara ditambah dengan impian dari dua orang penduduk migran baru dipadukan dengan kebijakan yang dipromosikan oleh pemerintah Desa Dongshan.

 

Jarang-jarang matahari menyinari lorong jalan di Desa Dongshan. Luo Ji-kun, pemandu wisata setempat, memandu pengunjung “jalan tua Dongshan” masuk ke jalan kecil dan berhenti di sebuah bangunan hijau berlantai tiga yang unik.

“Ini adalah sebuah restoran yang dikelola oleh penduduk migran baru, dengan keistimewaan berupa dapur yang digunakan “bergiliran” oleh ibu-ibu yang berasal dari Indonesia, Filipina atau Vietnam. Tujuan dari restoran ini bukan untuk mendapatkan keuntungan, melainkan menyediakan tempat untuk belajar bahasa dan pertukaran bagi Pekerja Migran Asing (PMA) dan penduduk migran baru. Sebenarnya ini merupakan tugas yang harus dikerjakan pemerintah agar pekerja migran Asia Tenggara dan penduduk migran baru dapat belajar bahasa Mandarin, meminjam buku secara gratis berdasarkan konsep “saling berbagi buku” (orang menyumbangkan buku bekas untuk dipinjamkan pada orang lain).”

Luo Ji-kun berbicara dengan perlahan dan santai, “Saya juga mendorong semua orang untuk datang dan baca buku di sini, kalau baca sambil berdiri tidak perlu keluar uang, tetapi kalau menempati tempat duduk maka harus belanja. Setiap orang yang memiliki buku dapat menyumbangkan bukunya, juga bisa datang ke sini untuk makan, memberikan dukungan pada mereka berarti membantu menyelesaikan masalah sosial, ini yang membuat saya terharu.”

 

Sesuap Hidangan Kampung Halaman Pelepas Rindu

Ini juga merupakan proyek pertama program “Subsidi Revitalisasi Bangunan Tua” dari Pemerintah Desa Dongshan yang juga melahirkan salah satu pelopor pendiri Toko Buku Dongguashan. Liang Li-fang, seorang asisten professor di National Dong Hwa University, saat melakukan survei masalah kesehatan Pekerja Migran Asing, berkenalan dengan Henny Kartika, seorang penduduk migran baru dari Indonesia yang menjadi penerjemah membantu nelayan di pelabuhan Nanfangao, selama perjalanan pulang Henny Kartika mengungkit impian hatinya selama bertahun-tahun.

Henny Kartika yang menikah dan datang ke Taiwan sekitar 20 tahun silam ingin memiliki sebuah ruang untuk berbagi hidangan Asia Tenggara, kebetulan pemerintah daerah Desa Dongshan mencanangkan program revitalisasi bangunan tua yang mungkin dapat mewujudkan impiannya.

Gagasan Henny Kartika sebenarnya sama seperti gagasan dari kebanyakan penduduk migran baru dan pekerja migran asing. Seperti dia yang harus memasak tiga kali sehari di rumah, mertua dan suaminya tidak terbiasa dengan aroma santan dan cabai, bahkan anak-anaknya juga tidak menyukai masakan Indonesia, Henny Kartika yang terbiasa makan dengan sambal, kerapkali menunggu setelah larut malam dan sunyi barulah memasak hidangan yang ia sukai, dengan demikian baru dapat melepaskan sedikit kerinduan di tengah kesepian tinggal di negeri asing.

“Dapur IBU” mulai beroperasi pada akhir tahun 2019, IBU berarti “mama” dalam bahasa Indonesia, karena yang bertugas membuat hidangan adalah kaum ibu penduduk migran baru dari berbagai negara Asia Tenggara yang menikah dan datang ke Taiwan.

 

Hidangan Lezat Beraroma Sedap

Dua orang ibu yang rutin mengelola dapur saat ini adalah Deena Bouchard dari Filipina dan Henny Kartika dari Indonesia, dan akan bergabung dengan para ibu dari Vietnam dan Thailand pada hari Minggu. Mempertimbangkan modal dan pemasukan kedua juru masak ini mengajar bahasa Indonesia dan Inggris pada hari biasa, dan restoran hanya dibuka pada hari Kamis hingga Minggu.

Deena Bouchard yang lahir di Filipina menikah dengan orang Taiwan yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, Deena mengikuti suaminya datang ke Taiwan 23 tahun yang lalu, sekarang mereka berdua sudah menjadi warga negara Taiwan. Deena Bouchard yang bermimpi memiliki restoran, dengan kemahirannya membuat saus pisang tomat dari buah pisang segar, menambah cita rasa asam manis pada spageti yang sangat disukai anak-anak.

Deena Bouchard sangat mahir membuat roti kayu manis gulung dan tiramisu alpukat atau tiramisu mangga di saat musim panas. Saus krim keju buatannya dituangkan di atas roti kayu manis gulung, ditambah dengan aroma segar lemon dan semerbak harum kelapa, menjadikannya sebagai makanan penutup pilihan tamu baik saat dimakan di tempat atau dibawa pulang.

Nasi ayam bumbu santan hijau buatan Henny Kartika merupakan hidangan lezat yang populer di restoran ini, dengan menggunakan daun pandan segar yang dipetik dari taman sendiri, diambil sarinya untuk membuat nasi pandan dengan aroma lembut, dipadukan dengan ayam yang direndam dalam bumbu kunyit, jinten, serai dan lainnya, memberikan semerbak aroma yang sedap.

Dapur IBU terkadang juga menyelenggarakan “malam satai,” Henny Kartika menyiapkan satai Medan dan satai Jawa, meminta PMA untuk membantu memanggangnya. Rasa satai Medan yang pekat, menggunakan bumbu kacang dan beragam rempah-rempah. Ketekunan dan ketelatenan dalam memasak yang ia miliki, setelah satai dipanggang, selain dituangkan bumbu satai buatan sendiri dan kecap yang merupakan bumbu saus yang sangat populer di Indonesia, lalu ditaburi dengan bawang goreng yang renyah, disajikan dengan nasi putih, membuat orang tanpa terasa menggerakkan jari jemarinya, tanpa pernah puas menyantap hidangan lezat. Teman-teman PMA dan Taiwan yang berada di samping meja makan dengan penuh harap mencicipi makanan lezat, sambil saling belajar memberikan salam dalam bahasa masing-masing, mendekatkan jarak di antara mereka.

 

Memenuhi Kebutuhan PMA

Dapur IBU juga memiliki nama lain “Toko Buku Dongguashan”, di atas rak buku terdapat papan bertuliskan “Toko Buku Brilliant Time cabang Dongshan”, menjelaskan bahwa toko buku ini meneruskan semangat Toko Buku Brilliant Time (di New Taipei), ini adalah toko buku bekas dengan konsep saling berbagi buku “hanya dipinjamkan, tidak dijual”.

Selain menyediakan ruang untuk dengan bebas membaca, niat awal didirikannya toko buku Dongguashan masih tetap yaitu berharap dapat menyelesaikan kesulitan yang dihadapi para pekerja migran asing dalam kehidupan dan pekerjaan di Taiwan, untuk itu toko buku ini menyediakan kelas bahasa Mandarin bagi PMA perawat di setiap hari Rabu dan PMA yang bekerja di pabrik pada setiap hari Sabtu, membantu mereka berlatih bahasa Mandarin praktis yang dapat digunakan dalam pekerjaan. Banyak PMA yang khusus dari jauh datang untuk belajar, naik taksi dari Desa Sanxing ke Kota Yilan, mereka mengemukakan bahwa kehidupannya menjadi lebih berarti, karena hari libur tidak hanya diisi dengan main telepon genggam.

Berbagi cita rasa kampung halaman Asia Tenggara, membantu mengurangi kesulitan PMA beradaptasi di Taiwan, Henny Kartika dapat memahami kebutuhan ini karena ia sendiri juga menghadapi hal yang sama. Henny yang memiliki separuh darah keturunan Tionghoa lahir dan dibesarkan di Sumatera, Indonesia tempat yang masih anti-Tionghoa. Ketika baru menikah dan datang ke Taiwan, karena kendala bahasa, ia dipandang rendah oleh tetangga yang mengiranya menikah karena ingin mengeruk uang di Taiwan. Henny Kartika membuktikan dengan tindakan, ia juga menanggung beban keluarga, bersama anaknya belajar di sekolah mulai dari mempelajari zhuyin hingga berhasil mendapat ijazah kelulusan. Ia yang lancar berbahasa Mandarin dan Taiwanese akhirnya bekerja sebagai penerjemah bagi PMA, sehingga semakin membangun rasa percaya diri.

Liang Li-fang yang berkecimpung dalam penelitian PMA perawat selama bertahun-tahun mengemukakan, kalau penduduk migran baru yang menikah ke Taiwan juga dihitung, ada satu orang penduduk migran baru atau PMA dalam setiap 30 orang yang ada di Taiwan, tetapi sebenarnya masyarakat sosial Taiwan tidak melihat mereka. Ketika ia membimbing siswa untuk melakukan survei lapangan, barulah ia mendapati penduduk migran baru dan PMA yang kesepian di tempat-tempat yang berbeda, memerlukan bantuan atas ketidakberdayaan dalam berkomunikasi. Melalui toko buku Dongguashan, mereka menggelar peluncuran buku baru, menyelenggarakan konser bahasa Indonesia, untuk membantu para peneliti yang terjun dalam penelitian Asia Tenggara dalam tugas praktik sosial.

Yang terutama bagi Henny Kartika adalah putranya yang saat ini duduk di bangku kuliah sudah mulai belajar bahasa Indonesia dengannya, dalam proses kehidupannya, Taiwan bukan lagi tempat asing, melainkan kampung halaman di mana ia dapat mewujudkan impian dan membantu orang lain.