:::

Penduduk Baru Asal Indonesia Jembatani Pertukaran Budaya Melalui Foto

New Southbound Policy。Selama 2 tahun terakhir, Wang Yu-ling juga mulai berkecimpung di bidang fotografi, untuk mendokumentasikan kehidupan para pekerja migran di atas kapal, dan detail dalam keseharian mereka. (Foto oleh LTN)
Selama 2 tahun terakhir, Wang Yu-ling juga mulai berkecimpung di bidang fotografi, untuk mendokumentasikan kehidupan para pekerja migran di atas kapal, dan detail dalam keseharian mereka. (Foto oleh LTN)



Wang Yu-ling adalah seorang penduduk baru asal Indonesia yang menikah dengan orang Taiwan sekitar 14 tahun lalu. Saat ini ia bekerja sebagai penerjemah, dan mengajarkan bahasa Holo (Min Selatan dialek Taiwan) kepada pekerja migran Indonesia yang bekerja di Kabupaten Pingtung. Ia juga berpartisipasi dalam program pembinaan dan promosi budaya penduduk baru yang diluncurkan oleh Biro Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Pingtung, untuk menjembatani pertukaran budaya antara penduduk baru dari Indonesia dan Taiwan.
 
Wang Yu-ling yang fasih berbahasa Mandarin dan Holo, sering membantu para pekerja migran yang baru datang untuk beradaptasi dengan lingkungan dan budaya Taiwan.
 
“Sebagai seorang penduduk baru, saya dapat turut merasakan masalah dan kesulitan yang dihadapi oleh pekerja migran. Ketika sedang membantu mereka, saya tidak merasa saya adalah seorang penerjemah, seringkali saya merasa saya adalah keluarga mereka,” kata Wang Yu-ling.  
 
Desa Donggang di Kabupaten Pingtung memiliki lebih dari 3.000 pekerja migran asal Indonesia. Wang Yu-ling yang juga tinggal di Donggang, satu kali setiap minggu mengajar kelas bahasa Holo di Masjid Donggang, agar para pekerja migran dapat perlahan-lahan beradaptasi dan memahami kehidupan di Taiwan. Dalam kesempatan tersebut Wang Yu-ling dan para pekerja migran juga saling berbagi pengalaman dan bercerita tentang masalah yang dihadapi.
 
Selain itu, Wang Yu-ling juga sering membawa pekerja migran untuk berjalan-jalan di pasar malam, dan merekomendasikan kuliner Taiwan yang cocok dengan selera orang Indonesia. Ia juga mengajak mereka berkunjung ke Taman Budaya Hakka Liutui, Jembatan Kaca Shan-Chuan, dan Desa Sheng Li Xing, yang merupakan bekas desa militer, sehingga para pekerja migran dapat mengenal adat dan budaya masyarakat Pingtung.       
 
Selama 2 tahun terakhir, Wang Yu-ling juga mulai berkecimpung di bidang fotografi, untuk mendokumentasikan kehidupan para pekerja migran di atas kapal, dan detail dalam keseharian mereka. Anak-anak Wang Yu-ling juga berpartisipasi dalam program pembinaan Pemkab Pingtung, untuk belajar dan melihat langsung kehidupan pekerja migran.
 
Dengan mendampingi dan mendokumentasikan kehidupan pekerja migran, mereka berharap dapat merekam perubahan sosial, situasi di desa nelayan, dan kehidupan para pekerja migran, agar masyarakat Taiwan dapat semakin memahami pekerja migran asal Asia Tenggara, dan menaruh perhatian terhadap isu-isu pertukaran budaya dan pekerja migran.