:::

Pengurangan Limbah Melalui Desain Produk Potensi Besar dari Ekonomi Sirkuler Taiwan

Enrestec merupakan satu-satunya pabrik di dunia yang berhasil mengolah ban rusak dengan metode pirolisis.

Enrestec merupakan satu-satunya pabrik di dunia yang berhasil mengolah ban rusak dengan metode pirolisis.
 

Tahun 2016, media The Wall Street Journal memuji Taiwan dengan julukan “Si genius pendaur ulang sampah”, pada tahun yang sama kabinet pemerintahan yang baru terpilih mengumumkan bahwa Taiwan memasuki era “Ekonomi Sirkuler” sebagai bagian dari “Program industri kreatif 5+2”. Dalam waktu singkat, frasa “Ekonomi Sirkuler” ini menjadi kata kunci, walau mayoritas masyarakat mudah keliru dan menyamakan istilah ini dengan daur ulang. Namun sebenarnya, makna istilah ini telah jauh melampaui frasa daur ulang, dan secara nyata telah melintasi industri yang berbeda dan menjadi strategi transformasi yang mampu memimpin Taiwan untuk terlepas dari ikatan kontrak manufaktur OEM.

 

Singkat kata “Ekonomi Sirkuler” menekankan pada pertimbangan “cara untuk tidak menghasilkan sampah”. Hal ini bertentangan dengan model bisnis linear saat ini yang memiliki tahapan: pemanfaatan bahan baku, pembuatan produk lalu dibuang oleh konsumen; berawal dari sumber daya yang bernilai kemudian digunakan oleh konsumen, lalu dibuang, hasilnya, sampah yang dihasilkan kian hari kian meningkat. Demi menghilangkan  siklus From cradle to grave (secara harafiah berarti dari ayunan bayi hingga liang kubur) dan mengubah pola produksi produsen serta kebiasaan berbelanja konsumen, masyarakat Taiwan telah memulai suatu gerakan melalui kerjasama antara pemerintah dan swasta, untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat dengan tujuan agar Taiwan bisa menjadi “Pulau Ekonomi sirkuler” di masa depan.

 

Desain Produk C2C

Dalam pembahasan internasional, mengenai desain produk ekonomi sirkuler, dimulai dari usulan profesor jurusan kimia Jerman, Michael Braungart dan arsitek Amerika Serikat, William McDonough tentang konsep desain “Cradle to Cradle (C2C)” (secara harafiah berarti ayunan bayi ke ayunan bayi), mereka beranggapan semestinya bagian depan desain produk diawali dengan pertimbangan bagaimana agar pada akhirnya sumber dapat dimanfaatkan ulang atau langsung terurai secara alami menjadi nutrisi bagi alam.

Pada tahun 1987, Michael Braungart dengan konsep C2C merintis perusahaan Environmental Protection Encouragement Agency (EPEA), kemudian cabang EPEA pertama di Asia didirikan pada tahun 2010 di Taiwan.

Pada tahun 2012 “The Taiwan Cradle to Cradle Strategic Alliance (C2C Taiwan)” dibuka, berkat dukungan dari Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Taiwan dan EPEA cabang Taiwan. Adapun tujuan dari aliansi ini adalah agar para anggota C2C Taiwan dapat memahami konsep C2C serta bekerja sama mengembangkan pelaksanaan industri C2C.

Contoh sukses anggota C2C Taiwan yaitu perusahaan percetakan Nai Tai Color Printing dan perusahaan Melchers Trading GmbH cabang Taiwan.

Manajer Divisi Percetakan Melchers, Steven Huang mengatakan, kacang kedelai yang kelihatannya ramah lingkungan, sebenarnya mengandung minyak mineral dalam jumlah proporsi tertentu, selain kurang kondusif untuk pemanfaatan kertas daur ulang, juga berdampak buruk bagi kesehatan staf percetakan. Sementara Melchers selaku agen perwakilan tinta huber Jerman mengatakan produk tinta nabati 100% yang memenuhi kriteria sertifikasi C2C, sangat ramah bagi lingkungan dan tidak membahayakan kesehatan masyarakat umum. Setelah perusahaan Nan Tai Color Printing mengetahui produk ini, mereka kemudian melakukan penyesuaian teknik percetakan, dan memanfaatkan tinta huber sebagai pengganti tinta kacang kedelai, sehingga komitmen sasaran “nol limbah”, dapat tercapai. 

 

Redefine, Redesign:
Desain Sesuai Permintaan

“Sumber limbah hanya sebuah awal mula ekonomi sirkuler,” Ketua Pelaksana Taiwan Circular Economy Network, Charles Huang dengan tegas mengatakan, dulu membicarakan 3Rs yakni Reduce, Reuse, Recycle (artinya reduksi, pemanfaatan ulang, daur ulang) tetapi kini yang wajib dipertimbangkan adalah 2Rs: Redefine, Redesign (definisi ulang, desain ulang).

“Sebenarnya kami hanya memerlukan udara dingin, tidak perlu terus menerus membeli mesin penyejuk udara.” Charles Huang menunjuk bahwa mitos konsumsi saat ini, juga menekankan ketika konsumen meminta definisi ulang, maka para produsen akan mengubah model bisnis dan desain produk. Semula dengan model bisnis membuang produk lama, kini diubah menjadi era “pelayanan konsumen”, sehingga batasan tahun pemakaian produk menjadi lebih lama, produsen mendapat keuntungan baru dari pemeliharaan produk berkala, dengan demikian limbah yang dihasilkan akan menyusut secara drastis. 

“Saya menjual jasa layanan untuk Anda, maka Anda adalah pelanggan saya sepanjang masa.” Di masa mendatang layanan produk tidak hanya membantu mengurangi kuantitas sampah yang dihasilkan, tetapi juga bermanfaat untuk memperkuat permintaan konsumen atas merek produk. Dalam kehidupan ini, terlalu banyak produk yang perlu “didefinisi ulang”, ujar Charles Huang sambil memberikan satu contoh. “Apakah Anda pernah luka tergores kertas? Pisau cukur terbuat dari bahan kertas setelah dipakai dapat dibuang langsung, dan kembali ke alam.” Charles Huang dengan senang hati berbagi pertimbangan tentang konsep desain ekonomi sirkuler yang akan memberikan banyak perubahan dalam kehidupan.

“Sebenarnya Taiwan berkesempatan besar untuk menjadi pemimpin di bidang ini (Ekonomi sirkuler).” Charles Huang yang sering mengikuti forum internasional beranggapan, kelemahan Taiwan pada masa lalu sebenarnya adalah keunggulan Taiwan masa kini. Pengalaman sebagai perusahaan OEM yang terhimpun menambah kekuatan produksi, kondisi demikian tidak dapat dilampaui oleh negara-negara Eropa. Faktanya ada beberapa negara Eropa yang berkeinginan untuk mempelajari metode ekonomi sirkuler Taiwan.

“Taiwan sudah yakin melangkah di jalan ekonomi sirkuler, hanya tergantung pada waktu, cepat atau lambat.” Charles Huang mengatakan, industri Taiwan didominasi industri OEM, tetapi hampir semua bahan baku mengandalkan impor, dengan kondisi demikian, maka transformasi desain produk yang berorientasi pada model ekonomi sirkuler menjadi sasaran pengembangan industri di masa depan.

 

REnato lab:
Laboratorium Ekonomi Sirkular

Awal kebangkitan konsep ekonomi sirkuler bertujuan untuk membantu para pengusaha mengadopsi dan menerapkan konsep ekonomi sirkuler. REnato lab didirikan pada tahun 2014, merupakan perusahaan konsultan ramah lingkungan, secara khusus menggunakan nama berbahasa Italia “Re” ditambah “Nato”, dengan masing-masing arti “terulang kembali” dan “terlahir”. Ini menandakan bahwa melalui metode ekonomi sirkuler, perusahaan melakukan regenerasi limbah yang tak terpakai dan diperbaharui agar memiliki nilai ekonomis.

Perintis REnato, Jackie Wang yang pernah aktif di CTCI Foundation (China Technical Consultants Inc.) membantu pemerintah menyusun strategi penerapan kebijakan ramah lingkungan dan sumber energi. Ia mendapati walaupun kebijakan pemerintah dapat memengaruhi industri, akan tetapi tidak dapat mengubah hasrat masyarakat untuk membeli produk ramah lingkungan. Oleh karena itu, melalui pemberian bantuan inventarisasi perusahaan dan edukasi, masyarakat diharapkan dapat memahami konsep ini dan memberikan dukungan secara proaktif untuk menerapkannya.

Pada tahap awal REnato lab menekankan limbah diolah menjadi produk jadi, misalkan ban mobil dibuat menjadi kursi, akan tetapi Jackie Wang mendapati kuantitas limbah terlalu besar, daripada diolah pada bagian akhir menjadi produk lainnya, lebih baik membantu perusahaan pada bagian depan dengan mengurangi limbah yang dihasilkan, oleh karena itu, REnato bertransformasi menjadi perusahaan konsultan.

Selain membantu inventarisasi perusahaan dan menemukan penyebab utama penghasil limbah, REnato lab juga mengintegrasikan perusahaan yang bergerak di bidang yang berbeda, mulai dari penanganan limbah, mengolah bahan baku, membuat produk jadi hingga pemasaran, unit yang berbeda dirangkai menyatu, untuk dapat menyempurnakan desain ekonomi sirkuler suatu produk. Selain produk jadi, penyesuaian model bisnis ekonomi sirkuler juga menjadi salah satu jasa layanan yang mereka berikan, misalnya membantu perusahaan komputer Acer membangun titik pengumpulan baterai bekas di setiap minimarket 7-11 di seluruh Taiwan untuk memudahkan konsumen melakukan daur ulang.

REnato lab bertransformasi menjadi perusahaan konsultan namun tetap mempertahankan pekerjaan desain produk, bahkan mendirikan gudang penyedia bahan baku, agar para desainer bisa mengontrol jenis bahan baku yang digunakan untuk menciptakan produk yang sesuai. “Lokasi laboratorium kami berada di pabrik orang lain.” Ujar Jackie Wang, ia menganggap REnato lab sebagai “laboratorium ekonomi sirkuler”, karena di tempat itu ia bisa melakukan uji coba bahan baku milik pelanggan untuk menciptakan produk. Produk yang dihasilkan jika dapat diterima oleh pelanggan, keesokan harinya langsung masuk ke jalur produksi. REnato lab merasa pengaruh ini tidak hanya memberi pengaruh kepada pelaku usaha, tetapi juga terhadap masyarakat umum. Pada tahun 2019 salah satu pameran bertajuk “Future is now” di taman kreatif Huashan 1914, memberikan dogma baru kepada para pengunjung, dalam situasi yang berlainan, pengunjung bisa melihat sumber daya mana dan cara apakah yang dapat digunakan untuk mempraktikkan kehidupan ekonomi sirkuler. Melalui pengalaman ini memecahkan mitos tentang desain produk ekonomi sirkular yang terlihat tidak menawan dan tidak tahan lama di mata masyarakat.

 

Tantangan Taiwan: Merek dan Sumber

Charles Huang dan Jackie Wang, memiliki pengalaman dalam bidang ekonomi sirkuler, tanpa sengaja secara kompak berkata, “merek” dan “alokasi sumber daya” merupakan dua tantangan besar yang dihadapi Taiwan saat ini.

Jackie Wang mengatakan,  pada umumnya masyarakat dalam negeri memiliki keraguan terhadap barang komoditas desain sirkular ini, “Mengapa barang daur ulang begitu mahal?”, sebaliknya kondisi berlainan terjadi di luar negeri, masyarakat luar negeri ikhlas membayar biaya lebih untuk mendukung produk yang ramah lingkungan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Taiwan semakin dapat menerima produk yang didaur ulang, sebagai contoh sepatu merek Adidas dan Nike yang terbuat dari limbah laut dan botol plastik berbahan Polyethylene terephthalate (PET), akan tetapi beberapa merek ini bukan merek lokal Taiwan. “Jika merek produk domestik, maka belum tentu dipasang harga demikian.” Jackie Wang beranggapan desain Taiwan cukup diakui oleh dunia internasional, tetapi merek produk ekonomi sirkuler masih memerlukan banyak publikasi.

Charles Huang mengatakan, Taiwan ingin mengembangkan ekonomi sirkuler, maka memerlukan usaha kecil menengah (UKM) untuk memotivasi perusahaan besar. Pelaku usaha yang berskala besar, hanya mampu melakukan beberapa penyesuaian, sebaliknya fleksibilitas pelaku UKM lebih tinggi, konsep pemikiran yang lebih lincah, maka dinilai lebih berkemungkinan tinggi untuk melakukan perubahan. Jackie Wang mengemukakan, jika pemerintah mengalokasikan sumber daya untuk UKM, agar pelaku usaha ini berkesempatan tinggi untuk mengembangkan ekonomi sirkular, dengan demikian kelajuan yang terjadi dalam industri akan bergerak semakin cepat.

Ekonomi sirkular merupakan salah satu model bisnis lainnya, juga menjadi perspektif baru tentang lingkungan, agar sumber daya terus berkelanjutan, terus berputar tanpa berhenti dalam lingkaran ini. Ketika Taiwan menghadapi masa sulit seperti kekurangan air, kekurangan listrik atau lahan tidak mencukupi, maka ekonomi sirkular ini juga menjadi salah satu bagian dari solusi penyelesaiannya.