:::

Ekologi Alam Liar Lokal “Lishan” - Mematahkan Stereotip Kenting

Sekelompok anak muda berkumpul di Kenting - Henchun, mendirikan Lishan Eco Company dan Pingtunglife in Hengchun. (Foto: Jimmy Lin)

Sekelompok anak muda berkumpul di Kenting - Henchun, mendirikan Lishan Eco Company dan Pingtunglife in Hengchun. (Foto: Jimmy Lin)
 

Birunya langit, putihnya awan, dan terik matahari yang menerpa Semenanjung Hengchun mewarnai jadwal wisata yang cenderung menjauhi keramaian dan hiruk-pikuk ini. Bersama dengan mitra kawasan setempat seperti “Lide”, “Sheding” dan “Yongjing”; generasi muda lulusan dari Departemen Kehutanan National Pingtung University of Science and Technology (NPUST), membentuk “Lishan Eco Company”. Di samping itu, mereka juga mencanangkan program wisata ekologi dan mendirikan toko “Pingtunglife in Hengchun” untuk menjual suvenir lokal, dan mencoba mematahkan stereotip masyarakat awam terhadap Kenting.

 

Tak satu pun dari enam atau tujuh pendiri Lishan Eco Company merupakan warga setempat, misalnya Miles Lin yang berasal dari Taichung, Lin Hui-qi dari Taipei dan Lee Yi-hui yang bermukim di Kaohsiung.... Relasi yang terjalin dengan Profesor Departemen Kehutanan NPUST - Chen Mei-hui, membuat mereka berkumpul di Hengchun yang merupakan ujung paling selatan Taiwan.

 

Membangun Komunitas, Wirausaha Ekologi

Miles Lin, salah satu pendiri “Lishan Eco Company” adalah lulusan SMA The Affiliated Taichung Senior Agricultural Vocational High School of National Chung Hsing University, lalu melanjutkan studinya di Departemen Kehutanan NPUST baru kemudian tiba di Kenting, Miles Lin bersama Chen Mei-hui berpartisipasi dalam pembangunan komunitas setempat. Semasa sekolah, Miles Lin sering bersama dengan teman sekelas atau kakak dan adik kelas mengendarai sepeda motor selama 2 jam menuju ke kawasan Hengchun. Setelah beberapa tahun, komunitas Sheding dan penduduk di kawasan sekitar telah menjadi akrab dan menganggap Miles Lin dan teman-temannya sebagai bagian dari keluarga mereka.

Ide kewirausahaan terbersit di benak Miles Lin pada malam kelulusan pascasarjana. “Mahasiswa yang lulus dari institusi kehutanan biasanya akan bekerja di Biro Kehutanan dan menjabat posisi publik di Kantor Kehutanan, atau terlibat dalam proyek penelitian.” Namun, Miles Lin lebih menyukai berkeliling dan berinteraksi dengan komunitas daripada pekerjaan kantoran, ditambah lagi ia menilai bahwa ekowisata memiliki potensi, dan setelah berdiskusi beberapa kali, Miles Lin bersama dengan teman sekelasnya, Yeh Chiah-liang, memutuskan untuk berwirausaha. Pemikirannya tersebut juga mendapat dukungan dari Chen Mei-hui dan ia memberi nama Lishan kepada Miles Lin, sebagai titik awal untuk berwirausaha. Lishan dalam bahasa Jepang berbunyi Satoyama, yang diadaptasi dari “Satoyama Initiative” dan merupakan semangat untuk mempromosikan konsep pembangunan lingkungan berkelanjutan di Negeri Matahari Terbit.

Namun apa yang dimaksud dengan “Lishan”? Dan apa yang disebut dengan “ekowisata dengan mempertimbangkan lingkungan”? Hal ini tidak sama dengan perusahaan lainnya yang memiliki barang fisik untuk dijelaskan. Miles Lin harus menghabiskan beragam cara hanya untuk menjelaskan jenis pelayanannya.Bagian tersulit bukanlah terletak pada memperkenalkan dirinya kepada para konsumen. Ekowisata Lishan yang sarat akan “pembangunan komunitas” ini, tidak sama dengan perusahaan jasa perjalanan pada umumnya yang hanya menjual jadwal wisata dan membawa tamu ke dalam komunitas. Lishan tidak pernah absen dari perencanaan desain untuk mengajak masyarakat berpartisipasi, membimbing dan merancang perjalanan singkat.

Bersama koleganya, Miles Lin mengunjungi 8 komunitas dan mengadakan pertemuan dengan penduduk setempat pada setiap minggunya. Pertemuan ini juga menjadi rutinitas yang digelar di komunitas lokal. “Ketika penduduk setempat tidak ingin berpartisipasi, Lishan harus turun tangan untuk memimpin; saat muncul perbedaan pendapat dan keluhan masyarakat, setiap dari mereka akan bertindak sebagai konsultan dan bertanggung jawab untuk memecahkan permasalahan yang ada.” Tugas yang demikian komprehensif, sering kali membuat Miles Lin merasa kesulitan akan jumlah tenaga kerja. Namun, tidak sedikit ide dan itinerary unik tumbuh di sini. “Misalnya dengan itinerary ‘Ikuti Old Mao Mengantar Surat’ dari komunitas Yongjing atau ‘Nasi Kotak Penjala Ikan’ dari komunitas Daguang yang sarat dengan keunikan kampung nelayan. Ini semua lahir dari obrolan dengan warga setempat,” ungkap Lee Yi-hui.
 

Pingtunglife in Hengchun adalah sebuah toko kecil yang mengumpulkan produk pertanian, kerajinan tangan dan buku dari komunitas setempat. Sehingga semua orang dapat menikmati cita rasa terbaik dari kawasan Hengchun - Pingtung. (Foto: Jimmy Lin)

Pingtunglife in Hengchun adalah sebuah toko kecil yang mengumpulkan produk pertanian, kerajinan tangan dan buku dari komunitas setempat. Sehingga semua orang dapat menikmati cita rasa terbaik dari kawasan Hengchun - Pingtung. (Foto: Jimmy Lin)
 

Nama Asing, Cerita Lokal

Oleh karena itu, peta Semenanjung Hengchun “versi Lishan” memiliki banyak nama yang belum dikenal publik, seperti “Daguang”, “Lide”, “Sheding”, “Shuiwaku”, “Yongjing”, “Manzhou”...... Nama-nama asing tersebut menghubungkan setiap itinerary ekowisata dan kisah kehidupan komunitas setempat.

Diletakkan di atas rak “Pingtunglife in Hengchun” seperti potongan kayu, kubus, terdapat ukiran ikan giru, elang, kepiting darat dan bebek Eurasian-teal. Mengikuti alur sang pengguna, berubah menjadi papan teka-teki kreatif atau “kotak hadiah” dengan dekorasi lampu menawan. Ini adalah benda-benda berdesain indah yang sarat akan karakteristik penduduk komunitas.

Komunitas Lide yang dilambangkan dengan gambar “elang”, terletak di Semenanjung Kenting, merupakan kawasan permukiman Lonc-kjauw. Komunitas ini juga menjadi tempat yang menyimpan kebudayaan Suku Penduduk Asli. Setiap bulan Oktober, kawasan ini akan dilintasi oleh elang Grey-faced buzzard dalam jumlah besar. Ditambah lagi dengan wilayah hulu dari Sungai Lanren yang juga terdapat di kawasan ini. “Lishan” pun berdiskusi dengan komunitas Lide untuk meluncurkan perjalanan wisata mengamati burung elang dan berjalan di jalur ekologi Sungai Lanren.

Komunitas Daguang sangat kental dengan nuansa desa nelayannya. Karena Daguang terletak di dekat Danau Houbi, yang dulunya berfungsi sebagai pelabuhan ikan di Semenanjung Hengchun, sehingga membuat kawasan ini menjadi kaya akan organisme zona intertidal. Wisatawan yang bertandang ke Daguang tidak saja dapat melihat bintang laut biru (linckia laevigata), anemon laut dan kekayaan makhluk lautan lainnya, pelancong juga dapat menyantap nasi kotak khusus nelayan yang berisikan kacang tanah, ubi jalar, rumput laut Karagenan dan ikan makerel.

Taman Bairong yang namanya menjadi terkenal setelah film “Life of Pi”, terletak di komunitas Gangkou. Letak geografis taman Bairong di sebelah timur adalah Samudera Pasifik dan berdampingan dengan sungai Gangkou yang merupakan sungai terbesar di Taman Nasional Kenting, menjadikan kawasan ini rumah huni bagi sejumlah besar kepiting darat. Selama perjalanan malam yang terdapat dalam itinerary singkat berdurasi 2 jam, Anda dapat menemukan spesies unik Scandarma-lintou, kepiting yang merangkak di atas dahan pohon. Kepiting yang ditemukan pada tahun 1999 silam tersebut merupakan spesies khas Taiwan. Di samping itu masih ada fauna lainnya, seperti kepiting Chiromantes-dehaani, kelomang dan katak Microhyla-ornata. Setelah melewati Kantor Manajemen Taman Nasional Kenting, maka akan terlihat rusa sika Formosa, yang telah dibudidayakan selama bertahun-tahun di dekat dataran Longpan komunitas Shuiwaku.

 

Tanah Hengchun yang Bisa Merekat

“Mengunjungi Pantai Nanwan dan Jalan Kenting merupakan rute wajib bagi pelancong saat berkunjung ke Kenting. Siapa yang pernah mendengar tentang komunitas Lide? Dan siapa yang paham akan kemunculan Formosan sika deer yang telah dibudidayakan oleh Kantor Manajemen Taman Nasional Kenting selama bertahun-tahun?”, tanya pengelola “Pingtunglife in Hengchun”, Lee Yi-hui. Yang harus dilakukan oleh Lishan adalah menggali sisi lain dari Kenting.

Kini ada lebih dari sepuluh warga telah bergabung dalam 8 komunitas yang bekerja sama dengan Lishan. Tidak hanya warga berusia 70 hingga 80 tahun-an yang berperan sebagai pemandu, tetapi juga telah merambah ke generasi muda yang mulai kembali ke kampung halaman. Anak-anak muda ini awalnya memutuskan untuk mengadu nasib di luar komunitas karena peluang pekerjaan yang terbatas.

Berkat bantuan dan bimbingan Lishan, nilai produktivitas di beberapa komunitas pun terus meningkat. Miles Lin menyampaikan, nilai produksi dari promosi perjalanan ekowisata dan pengalaman itinerary di tahun-tahun pertama hanya berkisar NT$ 600.000 hingga NT$ 700.000. Saat ini, nilai yang diperoleh Sheding, kawasan pertama yang bergabung dan telah matang beroperasi, berhasil mencapai NT$ 3 juta, sedangkan Daguang, kawasan yang bergabung paling akhir, juga telah mencapai NT$ 400.000 hingga NT$ 500.000. Setiap tahunnya ada sekitar 7 juta wisatawan yang mengunjungi Kenting, tetapi jumlah pelancong yang bertandang ke “Lishan” hanya berkisar 30.000 orang, atau kurang dari 1%. Meski demikian, Miles Lin masih optimis dengan ruang pertumbuhan sektor ekowisata.

Perjalanan wirausaha tentu akan diselingi pasang naik dan pasang surut. Terkadang harus berhadapan dengan perbedaan pendapat di antara mitra komunitas dan proses yang tidak begitu lancar. Miles Lin bersama beberapa koleganya selalu merasa lelah dan ingin menyerah, tetapi mulut saja yang berteriak letih sedangkan kakinya tetap tidak bisa meninggalkan tanah ini. Sambil tersenyum pahit, ia berkata, “Ada orang yang mengatakan ‘tanah Hengchun bisa merekat’. Setiap kali melihat warga komunitas bersama dengan mitra Lishan bekerja sangat giat untuk menggapai satu tujuan, saya selalu merasa terharu.” Waktu telah berlalu sepuluh tahun sejak kaki Miles Lin pertama kali menginjak Henchun, meski masih harus meraba perjalanan kewirausahaan, Miles Lin bersama mitra Lishan telah merekat dengan kawasan yang terletak di ujung selatan Taiwan, yakni terus menemukan gairah kehidupan di Hengchun.