:::

Pertemuan di Negeri Awan Bersepeda di Jalur Hutan Hsinchu

Bersepeda di jalur Hsinchu County Highway 122, menyaksikan sejarah humaniora dan panorama alam. Ini adalah tempat yang patut dikunjungi. (Foto: Cathy Teng)

Bersepeda di jalur Hsinchu County Highway 122, menyaksikan sejarah humaniora dan panorama alam. Ini adalah tempat yang patut dikunjungi. (Foto: Cathy Teng)
 

Hsinchu County Highway 122 yang membentang dari Zhudong hingga ke Kawasan Rekreasi Hutan Nasional Guanwu (Guanwu National Forest Recreation Area) menjadi saksi sejarah hutan Guanwu yang mengintegrasikan budaya Hakka, kediaman Chang Hsueh-liang dan Guanwu. Dari kejauhan dapat terlihat panorama menakjubkan “Holy Ridge” (pegunungan suci) barisan pegunungan Xue, ini merupakan rute perjalanan wisata yang sarat akan unsur alami dan humaniora.

 

Kecamatan Zhudong yang secara geografis terletak di pusat Kabupaten Hsinchu, kawasan yang dulu dikenal dengan sebutan “Hutan Ardisia Sieboldii” ini dilintasi oleh Hsinchu County Highway 122, yang merupakan titik awal dari perjalanan “Bersepeda Menjelajahi Taiwan” kali ini.

Banyak objek elegan yang mengakar dalam ingatan warga Kabupaten Hsinchu di kecamatan Zhudong ini seperti Taman Kesenian Xiao Ru-song yang terletak di Jalan Sanmin yang merupakan bangunan asrama bergaya Jepang. Bangunan tersebut dibangun dengan eksterior bata merah, genteng atap dan kayu cemara hitam. Xiao Ru-song sendiri telah mengajar di wilayah Hsinchu selama hampir 40 tahun. Sebagai seorang yang hanya lulusan SMA dan tidak pernah menuntut ilmu di luar negeri, Xiao Ru-song berusaha keras belajar secara otodidak, dan berupaya untuk mempelajari berbagai jenis gaya lukisan Barat, serta menginternalisasikannya menjadi gaya lukisan personal. Bekas kediamannya tersebut tetap dilestarikan dan menjadi objek pemandangan di kawasan setempat. Di masa lampau, Zhudong, Dongshi dan Luodong adalah tiga kawasan industri kehutanan utama di Taiwan. Namun seiring dengan diberlakukannya larangan penebangan hutan pada tahun 1992, kota kecil yang tadinya ramai dengan pedagang dan lalu lalang kendaraan, kini kehilangan keunggulannya, jejak industri kehutanan sudah hampir tidak terlihat lagi. Untungnya, masih ada Zhudong Timber Industry Exhibition Hall yang menceritakan kisah industri kehutanan dengan memanfaatkan benda-benda peninggalan budaya, sehingga sejarah kehutanan dapat terus diketahui oleh masyarakat.

 

Warna-Warni Ruanqiao dan Organik Ekologi

Saat sepeda melaju di kilometer 26 - Hsinchu County Highway 122, pemandangan pada kedua sisi jalan selain pegunungan hijau dan ladang sawah yang subur, juga dihiasi dengan sentuhan aneka warna nan ceria. Lukisan unik Dewa Keberuntungan pada tiang-tiang listrik, dinding rumah penduduk yang digambar menyerupai tong setengah terbuka, gadis Hakka rupawan yang menarik sehingga reputasi Desa Warna-Warni Ruanqiao (Ruanqiao Painted Village) telah tersebar luas di Hsinchu County Highway 122.

Peng Song-ju, selaku perancang komunitas menjelaskan, kala itu lumut-lumut pada setiap dinding rumah penduduk dikikis dan dicat putih, dengan harapan dapat menghalau serangan nyamuk Forcipomyia Taiwana. Wu Zhun-xian, menantu warga Ruanqiao pun memperlihatkan kreativitasnya dengan melukis kehidupan pedesaan Hakka pada dinding kosong perumahan setempat.

Lukisan-lukisan tersebut membuat kecamatan yang sunyi ini tiba-tiba ramai dikunjungi wisatawan, dengan rasa penasaran, kami-pun singgah di tempat ini. Namun Peng Song-ju mengatakan, “Lukisan hanyalah bagian dari konstruksi komunitas semata. Pesona yang lebih menarik lagi dari Ruanqiao terletak pada kekayaan lanskap humaniora dan organik ekologinya.”

Liu Xu-chuan, pengelola restoran “Farm Life Kitchen” menjelaskan, “Di sini adalah dataran aluvial Sungai Shangping. Kanal Zhudong mengumpulkan sumber air dari Sungai Shangping, kemudian menyuplai air ke kawasan yang saat ini menjadi jantung perekonomian Taiwan, yakni Taman Sains Hsinchu.”

Komunitas Ruanqiao telah mempromosikan metode pertanian organik ramah lingkungan sejak 12 tahun lalu, yang merupakan salah satu permukiman ekologi di distrik utara di bawah bimbingan Administrasi Pertanian dan Pangan (Agriculture and Food Agency/AFA). “Ada sekitar 300 spesies burung yang hidup di sini,” ungkap Peng Song-ju. Guna menarik burung-burung untuk datang dan membangun sarangnya, Peng Song-ju pun menanam pohon Quercus Glauca dan Myrica Rubra. “Ekologi tidak perlu dikerjakan dengan susah payah, cukup dengan membiarkan mereka kembali ke alam dengan sendirinya.”

 

Pertemuan Perwira Muda dengan Suku Penduduk Asli

Kami terus berjuang mengayuh sepeda di jalanan yang menanjak hingga tiba di bekas kediaman Chang Hsueh-liang yang terletak di persimpangan kilometer 48 - Hsinchu County Highway 122.

Insiden Xi'an yang terjadi pada tahun 1936, telah mengejutkan kawasan luar Daratan Tiongkok. Hal ini serta-merta menghentikan seluruh perjalanan hidup Chang Hsueh-liang. Pada tahun 1946, ia bersama Edith Chao secara diam-diam dikirim ke Taiwan. Kala itu, mereka bermukim di kawasan pemandian air panas Qingquan, Hsinchu selama sekitar 13 tahun, dan tanpa disengaja jodoh mempertemukan mereka dengan penduduk Suku Atayal.

Xiuju Yawai, seorang pemandu wisata Suku Atayal yang bermukim di tempat ini menjelaskan, ketika Chang Hsueh-liang dibawa ke Qingquan, para penjaga di semua pintu keluar dan masuk dilengkapi dengan persenjataan tajam dan peluru. Meski sesepuh suku di kala itu mengetahui bahwa ada orang penting yang bermukim di sana, tetapi mereka tidak jelas akan identitas orang tersebut. Chang Hsueh-liang berinteraksi dengan Suku Penduduk Asli karena terjadinya “Insiden 228” pada tahun 1947. Pada waktu itu, situasi mencekam dan kawasan pegunungan terancam kehabisan makanan karena adanya blokade lalu lintas. Xiuju Yawai mengisahkan, ketika para sesepuh melihat tidak ada asap di kediaman Chang Hsueh-liang selama beberapa hari, dan setelah mendekati serta bertanya pada pengawal, barulah mereka menyadari jika pasokan makanan tidak dapat masuk ke kawasan ini. Guna melewati masa-masa sulit, sesepuh suku mulai mengumpulkan ubi untuk disumbangkan pada sang perwira muda. Sejak itulah Chang Hsueh-liang meminta agar dua pertiga makanan yang dipasok harus berasal dari kawasan setempat, untuk membantu perekonomian komunitas suku dan meningkatkan pertukaran dengan Suku Atayal.

Berbelok kembali ke Hsinchu County Highway 122, jalan yang dibuka untuk mengangkut kayu pohon Formosan Cypress pada masa pendudukan Jepang, hal ini tentu berdampak besar bagi mata pencaharian Suku Penduduk Asli. Kemakmuran industri kehutanan telah memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka, truk pengangkut kayu juga berfungsi sebagai moda transportasi Suku Penduduk Asli untuk berinteraksi dengan dunia luar. Warga suku akan menghitung waktu dengan tepat kapan truk diberangkatkan, dan mereka akan menunggu di persimpangan jalan, kemudian menumpangi truk dengan membayar sedikit uang untuk menuju ke area pegunungan atau kawasan Zhudong. Ini menjadi kisah lain yang timbul di era industri kehutanan.

 

Dari Penebangan Kayu hingga Perlindungan Hutan

Kami terus mengayuh sepeda menelusuri kawasan pegunungan, setelah melewati Desa Tuchang, kami pun mulai memasuki area Hutan Dalu. Jalan Hutan Dalu dibangun saat pemerintah Kuomintang (KMT) datang ke Taiwan untuk mengangkut kayu hutan. Pada masa sebelum pendudukan Jepang, gelondongan kayu sebagian besar akan dikumpulkan kemudian diangkut dengan keramba, troli dan kereta gantung. Keterbatasan sarana transportasi, membuat mereka hanya menebang kayu yang dianggap bernilai ekonomis tinggi, inilah yang disebut “penebangan selektif”.

Namun sampai pada era tahun 1960-an, industri kehutanan Taiwan mengalami perubahan besar, serta mulai menggunakan mesin dan perkakas listrik yang menandakan masuknya era penebangan hutan total. Apalagi dengan dibukanya Jalan Hutan Dalu, membuat sebagian besar kayu berharga dialihkan kembali ke County Highway 122, kemudian diangkut ke Zhudong untuk didistribusikan dan diolah, inilah yang membuat kota industri kehutanan Zhudong mencapai kemakmurannya.

“Di era tahun 1990-an, kebijakan negara terhadap hutan beralih ke larangan menebang pohon di seluruh kawasan hutan. Sikap pemerintah terhadap hutan berpindah dari yang awalnya memanfaatkan nilai ekonomi menjadi mengedepankan kepentingan umum,” ungkap Ketua Stasiun Zhudong Kantor Manajemen Hutan Hsinchu Biro Kehutanan, Zhu Jian-ming. “Kawasan Rekreasi Hutan Nasional Guanwu (Guanwu National Forest Recreation Area)” yang dibentuk pada tahun 1995 berganti haluan dengan bertumpu pada aspek ekowisata dan pendidikan lingkungan hidup, untuk memandu masyarakat lebih dekat dengan hutan pegunungan. Di jalan setapak yang ada saat ini masih dapat terlihat jejak jalur troli dan bekas penebangan kayu pada masa pendudukan Jepang, serta peralatan yang berfungsi untuk menggantung dan memindahkan kayu di masa lampau juga masih tersimpan di Zhen­shan Trail. Kawasan hutan ini awalnya adalah kawasan tradisional Suku Atayal dan Suku Saisiyat, melalui komunikasi dan koordinasi selama bertahun-tahun, Biro Kehutanan akhirnya menandatangani perjanjian kemitraan dengan Suku Saisiyat. Selain itu dalam beberapa tahun terakhir, hak dan kepentingan Suku Penduduk Asli juga dimasukkan dalam diskusi pembahasan, dan di masa mendatang akan dibangun alun-alun Suku Atayal, guna menghormati sejarah Suku Penduduk Asli yang pernah bermukim di kawasan hutan ini.

 

Kesinambungan Hutan dan Simbiosis Alam

Guanwu Villa terletak di ujung Jalan Hutan Dalu, kami harus menempuh perjalanan sepanjang hampir 56 kilometer untuk dapat sampai di sini.

Guanwu Villa yang semula adalah asrama bagi pegawai Biro Kehutanan ini pernah mengalami kerusakan parah akibat terpaan taifun Aere pada tahun 2004. Selang 13 tahun kemudian yaitu pada awal tahun 2018, Guanwu Villa dibuka kembali. Pohon sakura Wushe berusia hampir 100 tahun yang berada di salah satu sisi pintu masuk villa, berbunga pada setiap bulan Maret. Di sisi lainnya, terdapat pohon khas Taiwan - Sassafras Randaiense, yang menjadi saksi atas terjadinya zaman es. Pohon ini akan berbunga pada bulan Februari dengan memancarkan kelopak keemasan di bawah birunya langit, panorama menawan tersebut sangat sayang jika terlewatkan.

Keesokan harinya kami menelusuri kabut dengan berjalan kaki.

Pekerja sukarela Lin Yu-qin dan teknisi Lee Shen­ming memandu perjalanan kami kali ini, untuk berjalan di jalur setapak pegunungan pohon-pohon raksasa. Lin Yu-qin yang telah menjadi sukarelawan selama 30 tahun, dengan sabar mengajari kami untuk membedakan Chamaecyparis Formosensis dengan Chamaecyparis Taiwanensis, yang mana kedua pohon tersebut berasal dari genus yang sama, yakni Cypress. Pohon Chamaecyparis Taiwanensis biasanya akan terus tumbuh ke atas, sedangkan Chamaecyparis Formosensis cenderung tumbuh bercabang. Dan karena rentan terkikis oleh jamur, maka di dekat akar pohon akan dibuat lubang. Lin Yu-qin mengatakan, meskipun semua hutan di dataran menengah Taiwan memiliki struktur serupa, tetapi Guanwu National Forest Recreation Area adalah tempat yang paling mudah di Taiwan untuk menyaksikan panorama indah “Holy Ridgeline”. Pada kilometer 3 hingga 4 - Leshan Forest Trail, pengunjung dapat menyaksikan barisan pegunungan “Holy Ridgeline” yang membentang dari Gunung Dabajian dan Xiaobajian hingga ke Gunung Xue, yang merupakan pemandangan yang didambakan oleh setiap orang, apalagi jika ingin melihat tumbuhan khusus seperti Impatiens Devolii, Impatiens Tayemonii dan Impatiens Uniflora yang hanya ada di Guanwu. Area ini juga menjadi tempat ditemukannya Taiwan Lesser Salamander (Hynobius Fuca), hewan amfibi yang lebih suka hidup di bawah bebatuan lembap dan gelap. Hewan tersebut adalah spesies khas Taiwan yang telah ada sejak zaman es.

Mengidentifikasi jenis tanaman adalah keahlian Lee Shen­ming. Selama perjalanan, ia terus mencari dan memindai tanaman yang berada di sisi jalan setapak, seperti Alishan chickweed (Stellaria Arisanensis) yang menyerupai lima ekor kelinci yang sedang berdiskusi, spesies anggrek Cremastra Appendiculata, tumbuhan langka Dichocarpum Arisanensis, Mitella Formosana, tanaman yang menyerupai ekor kalajengking Trigonotis Formosana, Viola Formosana dan Dysosma Pleiantha, bahkan tumbuhan Cheilotheca Macrocarpa yang baru muncul di atas tanah pada saat musim bunga, juga tidak luput dari pandangan Lee Shen­ming.

Di atas jalan setapak pohon kayu raksasa, Lin Yu-qin memungut bibit konifer Chamaecyparis Formosensis yang hanya berdiameter 5mm saja, kemudian membuang lapisan sisiknya, biji Chamaecyparis Formosensis lebih kecil dari sebutir biji wijen. Ia kemudian mengalihkan pandangan ke pohon raksasa setinggi 42 meter di depannya, ia bergumam, “Benih sekecil ini harus bertahan menghadapi banyak bencana, ulah manusia, serangga dan gangguan jamur, sebelum tumbuh menjadi pohon besar yang menjulang tinggi, tentu ini tidaklah mudah.”

Dalam perjalanan bersepeda kali ini, kami sekaligus menjelajahi jejak dari jalur hutan Hsinchu. Ada banyak praktisi industri kehutanan yang pernah melintasi rute ini, dan lagi sebelumnya hutan ini juga pernah mengalami kerusakan parah akibat kurang terkontrolnya perilaku manusia. Untungnya, kami perlahan-lahan mengobati luka tersebut. Satu-satunya jalan untuk menuju pemahaman simbiosis alam yang berkelanjutan dengan menanam kembali pohon-pohon, sehingga keteduhan hutan belantara dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Mengayuh sepeda di atas jalur hutan dengan ditemani terpaan sinar matahari, bernapas dengan udara yang sarat Phytoncides dan hijaunya hutan belantara pada kedua sisi jalan. Dalam sekejap, kabut pun mulai menerpa sehingga jarak pandang kami tidak sampai 2 kaki. Setelah melewati tikungan, panorama lautan awan menyapa di hadapan kami, untuk itu tidak mengherankan jika nama “Guanwu” disematkan pada kawasan ini. Betapa beruntungnya kami dapat menyaksikan pemandangan menakjubkan yang selalu berubah ini, pengalaman menikmati terpaan sinar matahari dan embusan angin merupakan berkah khusus yang dianugerahkan oleh alam semesta saat kita bersepeda.