:::

Surat Tanggapan Presiden Tsai untuk Paus Fransiskus atas Pesan Hari Perdamaian Dunia 2021

New Southbound Policy。Presiden Tsai menyatakan,
Presiden Tsai menyatakan, "Sesuai dengan pandangan Sri Paus, saya percaya bahwa pengucilan dan marginalisasi adalah musuh terbesar budaya kepedulian dan hambatan terbesar untuk mencapai perdamaian. Politik internasional tidak seharusnya dijalankan dengan mengacu pada hukum rimba, di mana yang kuat memangsa yang lemah. Kekuatan ekonomi tidak dapat digunakan untuk membeli hak orang lain dalam mencari kebenaran, dan kekuatan militer tidak seharusnya menjadi alat untuk menekan hak asasi manusia dan kebebasan." (Foto oleh Kantor Istana Kepresidenan)



Beberapa hari yang lalu, Presiden Tsai Ing-wen mengirimkan surat kepada Paus Fransiskus sebagai tanggapan atas Pesan Kepausan pada Hari Perdamaian Dunia ke-54.
 
Berikut ini adalah isi surat Presiden Tsai kepada Paus Fransiskus:
 
Yang Mulia Paus Fransiskus,
Dengan penuh penghargaan dan kekaguman saya membaca pesan Anda untuk Hari Perdamaian Dunia tahun 2021 yang berjudul "Budaya Peduli sebagai Jalan Menuju Perdamaian" (A Culture of Care as a Path to Peace). Saya dengan sepenuh hati menyetujui sudut pandang Anda, terutama pada saat wabah Covid-19 melanda dunia seperti sekarang ini. Saya percaya bahwa hanya dengan mengatasi perbedaan dalam hubungan internasional dan antar pribadi, serta menunjukkan kepedulian, dan bekerja sama barulah kita dapat mengatasi tantangan yang berat ini.
 
Sejak penyebaran Covid-19 pada awal tahun 2020, Taiwan telah secara aktif menunjukkan semangat “Taiwan Can Help” (Taiwan Dapat Membantu), dengan menyalurkan bantuan berupa alat pelindung diri ke negara-negara di Amerika Tengah dan Selatan, Asia, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.  
 
Pada bulan Oktober 2020, sebagai tanggapan atas surat ensiklik Kepausan terbaru “Fratelli Tutti”, Kedutaan Besar ROC (Taiwan) untuk Takhta Suci merayakan Hari Nasional pada bulan Oktober 2020 dengan menyajikan makanan Taiwan kepada para tunawisma di Palazzo Migliori dan Rumah Penampungan Caritas Rome's Casa Santa Giacinta. Kedutaan Besar ROC (Taiwan) juga mendistribusikan selimut ramah lingkungan melalui kerja sama dengan organisasi Buddha yang berbasis di Taiwan, untuk menyoroti pentingnya menumbuhkan budaya kepedulian dan dialog antar agama.
 
Pada bulan April 2020, ketika Italia mengalami ledakan wabah yang sangat parah, Pastor Giuseppe Didone dari Order of the Ministers of the Infirm (Ordo Pelayanan Orang-Orang Sakit) yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pelayanan di Taiwan, meluncurkan kampanye penggalangan dana untuk Italia. Untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas kontribusi yang telah diberikan Gereja Katolik kepada masyarakat selama bertahun-tahun, masyarakat Taiwan tua dan muda, berbaris untuk memberikan sumbangan dan berhasil mengumpulkan lebih dari €4,3 juta hanya dalam enam hari.
 
Wabah yang terjadi telah menunjukkan kepada kita bahwa semua umat manusia berada dalam perahu yang sama dan tidak ada yang boleh dikecualikan dari jaringan kesehatan global. Saya sangat setuju, dan memang inilah prinsip dasar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Konstitusinya. Namun, amat disayangkan, hingga hari ini 23 juta masyarakat Taiwan masih dimarginalisasi oleh WHO.
 
Sesuai dengan pandangan Sri Paus, saya percaya bahwa pengucilan dan marginalisasi adalah musuh terbesar budaya kepedulian dan hambatan terbesar untuk mencapai perdamaian. Politik  internasional tidak seharusnya dijalankan dengan mengacu pada hukum rimba, di mana yang kuat memangsa yang lemah. Kekuatan ekonomi tidak dapat digunakan untuk membeli hak orang lain dalam mencari kebenaran, dan kekuatan militer tidak seharusnya menjadi alat untuk menekan hak asasi manusia dan kebebasan.
 
Pada bulan Agustus 2020, saya mendirikan Komisi Hak Asasi Manusia Nasional, yang menandai langkah maju Taiwan sebagai negara yang didasari oleh perlindungan hak asasi manusia.
 
Di Taiwan, kami mendorong keadilan sosial berdasarkan budaya kepedulian, dan secara proaktif membantu sekitar 550.000 imigran baru untuk berintegrasi dalam masyarakat Taiwan.
 
Melihat hal-hal yang terjadi di luar Taiwan, saya memiliki keyakinan teguh yang sama dengan Sri Paus bahwa hak asasi manusia tidak dapat dikompromikan. Setiap kali pelanggaran hak asasi manusia terjadi di dunia, saya selalu menyuarakan keprihatinan agar para korban penindasan mengetahui mereka tidak sendirian.
 
Dalam pesan Hari Perdamaian Dunia, Anda mengutip ayat Alkitab yang mengatakan bahwa Yesus datang "untuk membebaskan mereka yang tertindas". Saya sangat berharap pesan Anda dapat menjadi nasihat yang datang tepat waktu bagi mereka yang berkuasa, terutama mereka yang berada di negara otoriter, untuk mengganti tangan besi dengan budaya kepedulian, dan retorika permusuhan serta intimidasi militer dengan semangat inklusifitas, sehingga perdamaian dunia yang kita semua cita-citakan bukan lagi sesuatu yang jauh dari jangkauan.