
Untuk mendorong Kebijakan Menuju Asia Selatan Baru di bidang pendidikan, Kementrian Pendidikan (MOE) mengundang 13 orang jurnalis dari Thailand, Vietnam, Indonesia dan Malaysia untuk berkunjung ke Taiwan pada 25-30 September 2017. Dalam kegiatan selama di Taiwan mereka bertandang ke sekolah-sekolah dari tingkat SD sampai perguruan tinggi untuk memahami lingkungan pendidikan di Taiwan, prestasi anak-anak keluarga pendatang dan kehidupan mahasiswa asing dari keempat negara tersebut.
Menteri Pendidikan ROC Pan Wen-chung dalam sambutannya mengatakan, pada tahun 2016 tercatat sebanyak 16.051 pelajar dari Malaysia, 5.074 pelajar dari Indonesia, 4.774 pelajar dari Vietnam dan 1.748 pelajar dari Thailand yang menempuh pendidikan di Taiwan. Ssedangkan anak-anak imiran baru dari Malaysia, Vietnam, Indonesia dan Thailand yang sedang bersekolah di tingkat SD dan SMP berjumlah 111.823 orang. Dari data ini dapat terlihat dekatnya hubungan yang terjalin antara Taiwan dan negara-negara Asia Tenggara, menindaklanjuti hal ini pemerintah ingin mengundang lebih banyak lagi pelajar dari Asia Tenggara untuk datang dan melanjutkan pendidikan mereka di Taiwan.
MOE pada tahun ini sudah mengalokasikan anggaran sebesar NTD 1 milyar untuk mendorong Kebijakan Menuju Asia Selatan Baru, dan pada tahun 2018 nanti bahasa -bahasa Asia Tenggara akan menjadi mata pelajaran wajib di tingkat SD. Pemerintah berharap pembelajaran bahasa dapat meningkatkan pemahaman budaya dan mendorong terjalinnya hubungan kerja sama dan persahabatan yang semakin erat antara Taiwan dan Asia Tenggara. Pan menjelaskan, Taiwan menyediakan kurikulum berkualitas dan berbagai beasiswa untuk mendukung kegiatan pendidikan siswa-siswi dari Asia Tenggara. Mengenai visa pelajar, MOE akan bekerja sama dengan Kementrian Luar Negeri (MOFA) dan Kementrian Dalam Negeri (MOI) untuk mempermudah pengajuan visa, contohnya pengajuan visa rombongan untuk peserta didik "Kelas Khusus Asia Tenggara" yang sudah disetujui pemerintah.
Dalam kunjungan ini, para jurnalis diajak untuk merasakan belajar bahasa Mandarin di kelas "Mandarin On-The-Go in Taiwan", kemudian berkunjung dan melihat berbagai kegiatan di Ji Sui Elementary School, Jhanghe Junior High School, Geosat Aerospace & Techonology Inc, Chang Jung Christian University, Far East University, Pusat Studi Asia Tenggara National Chi Nan University dan National Pingtung University of Science and Techonology. Di sela-sela kunjungan, mereka diberikan pemahaman tentang kerja sama antara universitas dan industri di bidang eSport, mesin kendali otomatis, teknik pengolahan kayu, "Kelas Khusus" yang diperuntukan bagi pelajar Asia Tenggara dan pameran hasil pengembangan teknologi. Para jurnalis juga mewawancarai mahasiswa asing dan anak-anak keluarga pendatang untuk memahami kehidupan mereka sehari-hari.
Dalam laporan kunjungan, para jurnalis mengungkapkan kekaguman mereka tentang kualitas pendidikan di Taiwan, terutama untuk sistem pendidikan teknik dan kejuruan yang bersifat praktis dan berorientasi industri. Wartawan Malaysia mengatakan sangat terkesan dengan banyaknya jenis pelatihan dan kesempatan belajar untuk pasangan asing dan warga lanjut usia, selain itu penghasilan mahasiswa magang di Malaysia jauh lebih rendah daripada di Taiwan, sehingga pendidikan berorientasi industri ini akan menjadi suatu daya tarik yang sangat besar untuk siswa Malaysia. Para jurnalis juga menceritakan hasil wawancara mereka dengan pelajar dari Asia Tenggara, pelajar-pelajar tersebut mengaku bersekolah di Taiwan terasa seperti di negara sendiri, karena dosen, teman sekelas, dan warga Taiwan sangat ramah, sehingga mereka merasa nyaman walaupun sedang bersekolah di negara asing.
Untuk mempromosikan pertukaran dan membangun hubungan komunikasi dengan berbagai instansi pendidikan di negara Asia Tenggara, MOE telah mengundang tokoh-tokoh pendidikan dari negara Asia Tenggara untuk berkunjung dan memahami lingkungan pendidikan di Taiwan. Pemerintah berharap dengan diadakannya kegiatan seperti ini pendidikan tinggi dan pendidikan teknik Taiwan yang berkualitas tinggi dapat menjembatani pemahaman bilateral dan membuka lebih banyak kesempatan kerja sama dan pertukaran SDM.