"Forum Kerja Sama Industri Taiwan-Filipina 2017" (2017 Taiwan-Philippines Industrial Collaboration Summit) yang berlangsung pada 28 September 2017 di Manila dihadiri oleh Wakil Menteri Perekonomian ROC Yang Wei-fuu, Wakil Menteri Perdagangan dan Perindustrian Filipina bidang pengembangan industri dan kebijakan perdagangan Rodolfo, Wakil Menteri Perdagangan dan Perindustrian Filipina bidang perdagangan dan investasi Terrado, Ketua Asosiasi Industri Hsu Sheng-hsiung, Ketua Kamar Dagang Filipina Barcelon serta perwakilan pengusaha Taiwan dan Filipina yang berjumlah 300 orang.
Pembahasan utama dalam forum ini meliputi pengembangan zona industri, sistim fotovoltaik surya, inovasi dan aplikasi di bidang industri mekanik, informasi dan komunikasi, serta proyek dan mekanisme kerjasama. Kedua pihak juga berdiskusi dan mendorong penandatanganan 6 nota kesepahaman antara Taiwan Association of CAE Molding Technology (ACMT), Asosiasi Industri Plastik Filipina (Philippine Plastics Industry Association, PPIA) dan Asosiasi Perangkat Lunak Filipina untuk membangun struktur kerja sama di masa depan antara Taiwan dan Filipina. Terrado juga menantikan agar "Kebijakan Menuju Asia Selatan Baru" dapat dikombinasikan dengan "Rencana Kemitraan Filipina" (Philippine Partner Program), sehingga kekuatan industri dari kedua belah pihak dapat terintegrasi secara terpadu.
Berbeda dengan hubungan kerja sama sebelumnya, yang sebagian besar merupakan investasi satu arah, kerja sama industri antara Taiwan dan negara sasaran kebijakan akan dimulai dengan memperkuat integrasi rantai nilai industri dan bersama-sama membentuk jaringan rantai pasokan baru (New supply chain).
Melalui kegiatan forum kerja sama yang berorientasi pada peningkatan hubungan industri ini, pemerintah ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai situasi pembangunan dan kebutuhan industri di negara-negara sasaran kebijakan, sehingga dapat tercipta hubungan kerja sama yang saling menguntungkan, saling melengkapi dan tepat sasaran.
Pemerintah telah menetapkan negara-negara yang menjadi sasaran dalam Kebijakan Menuju Asia Selatan Baru, dan memahami adanya perbedaan dalam proses pembangunan ekonomi pada masing-masing negara. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, ukuran pasar, tingkat perkembangan industri manufaktur, tingkat keterkaitan dengan industri dan SDM di Taiwan, dari 18 negara yang tercakup dalam Kebijakan Menuju Asia Selatan Baru, pemerintah telah memilih 6 negara yaitu, India, Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam sebagai negara prioritas dalam membangun kerja sama dan pertukaran di bidang industri.
"Forum Kerja Sama Industri Taiwan-Indonesia" telah diselenggarakan pada 30 Maret 2017 di Kota Kaohsiung. Dalam forum ini, perwakilan industri dan pemerintah dari Taiwan dan Indonesia melakukan koordinasi dan diskusi mengenai kerjasama di bidang pembuatan kapal, ICT (Termasuk Smart City), bioteknologi pangan, pemrosesan dan pembuatan logam, dan teknik daur ulang. Melalui forum ini telah ditandatangani 6 nota kesepahaman, dan kedua belah pihak telah berkomitmen untuk terus memperdalam hubungan kerja sama.
"Forum Kerja Sama Industri Taiwan-Thailand" juga telah digelar pada 27 Juli 2017 di Bangkok. Kegiatan ini mengangkat isu kerjasama di bidang bioteknologi pangan, tekstil, desain budaya kreatif, mesin cerdas (Intelligent Machinery) dan layanan informasi, kegiatan ini membuahkan penandatanganan 14 nota kesepahaman. Kedua pihak berkeinginan untuk terus memperkuat hubungan kerja sama industri bilateral, Taiwan melalui Program Inovasi Industri 5+2 dan Thailand dengan kebijakan "Thailand 4.0".
Pemerintah berencana untuk mengadakan forum kerja sama industri dengan India, Malaysia dan Vietnam pada kuartal keempat tahun ini.