Kembali ke konten utama
Taiwan, AS dan Australia Mendirikan "APEC Women and the Economy Sub-Fund"

5

 

Ketua tim delegasi ROC untuk APEC James Soong, pada 9 November 2017 bersama pejabat Departemen Luar Negeri AS Thomas Shannon dan pejabat Konsuler Jenderal Australia di Ho Chi Minh Karen Lanyon mengumumkan pembentukan "APEC Women and the Economy Sub-Fund", sebuah pendanaan untuk mendorong pemberdayaan perempuan di kawasan Asia Pasifik.

 

Pertemuan yang dinamakan "APEC Women's Empowerment Breakfast" ini dihadiri oleh Ketua tim delegasi ROC James Song, pejabat Departemen Luar Negeri AS Thomas Shannon, pejabat Konsuler Jenderal Australia di Ho Chi Minh Karen Lanyon, dan perwakilan pengusaha dari berbagai negara, seperti Wakil Presiden Eksekutif Walmart Group Scott Price, Presiden Divisi Asia Pasifik FedEX Karen Reddington, dan Kepala National Center for APEC Monica Whaley.
 

Dalam pidatonya, Soong menjelaskan bahwa kesetaraan gender adalah inti dari hak asasi manusia. Taiwan telah mengalokasikan anggaran dan melakukan berbagai upaya untuk membantu kaum perempuan dalam membuka usaha dan mencari pekerjaan; menciptakan lingkungan kerja yang ramah gender; serta mendorong peningkatan kualitas karakter dan pendidikan perempuan. Selain itu, dalam pemilihan umum 2016, Taiwan telah mengangkat presiden perempuan pertama, dan persentase anggota parlemen wanita di Taiwan saat ini mencapai 38,1%. Hal-hal ini telah menunjukkan prestasi Taiwan dalam mempromosikan pemberdayaan dan kepemimpinan perempuan.
 

Menurut Thomas Shannon, APEC merupakan forum penting untuk mempromosikan pemberdayaan ekonomi perempuan. Para anggota APEC diharapkan dapat bekerja sama untuk mendorong hal ini di kawasan Asia Pasifik serta memperdalam nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Shannon mengucapkan terima kasih kepada Taiwan atas kontribusi yang telah diberikan dan menekankan peran penting Taiwan pada kegiatan APEC. Berdirinya organisasi ini merupakan langkah nyata dari upaya yang dilakukan Taiwan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan serta komitmen Taiwan terhadap demokrasi.
 

Karen Lanyon berterima kasih kepada Amerika Serikat dan Taiwan yang telah memprakarsai inisiatif pendanaan ini dan mengumumkan bahwa Australia akan menyumbangkan AUD $1 juta untuk memperkuat pemberdayaan perempuan melalui kerangka APEC. Pada pertemuan tingkat menteri 8 November 2017, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop menyerukan bahwa setiap orang termasuk kaum wanita harus berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Australia akan sepenuhnya mendukung pendayagunaan organisasi tersebut.

 

Dalam pertemuan ini turut hadir anggota delegasi ROC, yaitu anggota Yuan Legislatif Hsiao Bi-khim, anggota Penasehat Keamanan Nasional Lin Liang-jung dan tim penasehat APEC dari kalangan industri, CEO I-Mei Foods Co. Ltd. Henry Kao, CEO PChome Jan Hung-tze, dan Wakil CEO O-Bank Tina Lo.

 

Hsiao memaparkan kontribusi yang diberikan oleh kaum wanita warga pendatang dari Asia Tenggara terhadap pembangunan sosial dan ekonomi di Taiwan. Saat ini ada lebih dari 500.000 wanita pendatang, dan melalui kursus pendidikan dan bahasa yang diberikan pemerintah, banyak dari mereka telah menjadi pengusaha dan tenaga kerja profesional. Bahkan sudah ada anggota legislatif yang terpilih dari kalangan warga pendatang yaitu Lin Li-chan dari Kamboja. Tina Lo menyarankan agar APEC menetapkan "Indikator kinerja" (KPI) untuk mengukur efektifitas kebijakan pemberdayaan ekonomi perempuan.

 

Kemajuan yang dicapai oleh Taiwan di bidang partisipasi politik perempuan, pemberdayaan ekonomi dan penghapusan kekerasan berbasis gender telah sangat diakui oleh masyarakat internasional. Pemerintah berharap agar kemajuan ini dapat dibagikan dan membantu masyarakat internasional.

 

Pendanaan ini adalah sebuah langkah konkrit atas partisipasi dan kontribusi Taiwan kepada masyarakat internasional, dan sekaligus membuktikan kemitraan antara Taiwan dan Amerika Serikat di bawah kerangka APEC. Di masa yang akan datang, kedua pihak akan terus bekerja sama membantu negara-negara di kawasan Asia Pasifik untuk mendorong pemberdayaan perempuan.