:::

Kontribusi Taiwan Terhadap Sektor Pertanian Papua Nugini

Berbagai program pelatihan yang diikuti oleh para petani telah membantu meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi hingga 50%.

Berbagai program pelatihan yang diikuti oleh para petani telah membantu meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi hingga 50%. (Foto oleh CNA)

 

80% penduduk Papua Nugini bermata pencaharian di bidang pertanian, namun teknik dan pengetahuan yang mereka miliki di bidang pertanian sangat terbatas. Mereka bertani secara tradisional dan tidak memiliki konsep yang jelas tentang usaha bercocok tanam atau pembudidayaan tanaman. Selain itu, mereka juga belum memiliki peralatan yang memadai untuk bertani. Jika para petani melihat ada lahan kosong di sekitar tempat tinggal, maka di situlah mereka mulai membuka lahan, menggali dan mulai menanam.

Untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani Papua Nugini, tim profesional pertanian Taiwan bekerja sama dengan pusat penelitian pertanian Papua Nugini membuka lahan seluas 2 hektar untuk dijadikan kawasan percontohan. Tim profesional dari Taiwan juga mengadakan kelas-kelas pertanian untuk mengajarkan teknik pertanian modern yang dilaksanakan sebanyak 12 kali dalam setahun. Setiap kelas dihadiri oleh 20-30 peserta, sehingga dalam setahun ada 200-300 petani yang menerima pelatihan. Pada akhir pelatihan, tim Taiwan juga memberikan bibit varietas tanaman yang cocok untuk dibudidayakan di tempat tinggal para petani tersebut, di antaranya bibit semangka dan jagung manis yang sangat sulit diperoleh di Papua Nugini.

Semenjak tim profesional Taiwan memperkenalkan bibit padi Taichung Sen nomor 10, makanan pokok penduduk Papua Nugini yang sebelumnya didominasi oleh ubi dan talas (ubi jalar) mulai beralih menjadi beras. Pada tahun 1990, Dewan Pertanian (COA) untuk pertama kalinya menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kementerian Pertanian Papua Nugini, dan pada tahun 1991 COA mulai mengirimkan tim pertanian profesional ke sana. Pada tahun 2015 tim pertanian profesional Taiwan mulai membuka pusat pelatihan bagi para petani di ibukota Papua Nugini, Port Moresby, dan Kota Lae untuk melaksanakan program pelatihan dalam kurun waktu 6 tahun.

Berbagai program pelatihan yang diikuti oleh para petani telah membantu meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi hingga 50%. COA berharap program pelatihan 6 tahun ini dapat meningkatkan sektor pertanian Papua Nugini, tidak hanya dari segi teknik bercocok tanam, tetapi juga dari segi komersial, produksi dan pemasaran.