:::

Estetika Metropolitan Jalanan Kuo Su-jen Menyuntik Seni Dalam Kehidupan

Foto Direktur Rich Development Company Kuo Su-jen ini diambil di Gallery Life Seeding, bekas kediaman Huang Zi-cheng, seorang dokter kaisar terakhir Dinasti Qing, Puyi.

Foto Direktur Rich Development Company Kuo Su-jen ini diambil di Gallery Life Seeding, bekas kediaman Huang Zi-cheng, seorang dokter kaisar terakhir Dinasti Qing, Puyi.

 

Sejak pulang dari Amerika Serikat pada 1996 dan membeli karya seni artistik pertamanya (Sebuah figur Budha Sakyamuni karya Liao Hongbiao), Kuo Su-jen yang beranjak ke usia 60 tahun, tidak hanya terus menambah koleksinya, juga merestorasi bangunan bersejarah, mengombinasikan estetika arsitektur dengan promosi kesenian, agar keindahan hadir di lebih banyak kehidupan manusia. Melalui cara penjalinan yang lama dengan yang baru, Kuo menulis halaman baru bagi estetika metropolitan di Taipei.

 

Melihat ke bawah dari lantai dua Gallery Life Seeding, inilah jalur belakang yang dulu bisa langsung menuju tepi Sungai Tamsui.Melihat ke bawah dari lantai dua Gallery Life Seeding, inilah jalur belakang yang dulu bisa langsung menuju tepi Sungai Tamsui.

Direktur Rich Development Company, Kuo Sujen, dikenal sebagai pecinta seni. Tahun 1996, Kuo mendirikan Yayasan Kuo Mu Sheng dengan dukungan dana dari ayahnya, dan setahun berikutnya, sebuah pusat kesenian didirikan di bawah yayasan tersebut. Beberapa tahun terakhir, Kuo mulai terjun dalam tugas restorasi bangunan tua seperti monumen tingkat kota Taipei Story House, galeri Bloom dan Gallery Life Seeding di Dihua Street, asrama tua National Taiwan University di Wenzhou Street yang dijadwalkan paling cepat dibuka pada akhir tahun, dan bekas kediaman filsuf Thomé H.Fang di Guling Street yang saat ini sedang direnovasi.

 

Gallery Life Seeding Estetika Kehidupan Baru untuk Bekas Kediaman Dokter Kaisar

Berbicara tentang koleksi karya seninya, Kuo Sujen bisa berpanjang lebar. Tapi kalau ditanya tentang cara memilih koleksi, jawaban yang diberikan cukup sederhana: “Saya pilih yang saya suka.” Koleksi Kuo sudah memenuhi tiga kamar besar, dan mayoritas disimpan dengan teliti di kotak brokat.

Liu Wen-liang, suami Kuo dan CEO Yayasan Kuo Mu Sheng, menerangkan mengapa mereka membuka Gallery Life Seeding di Dihua Street. “Ia ingin sekali bisa memiliki ruang promosi keseniannya sendiri,” tutur Liu.

Galeri yang dibuka pada Desember 2016 itu terletak dalam sederetan toko di sebuah bangunan panjang yang dulunya adalah kediaman Huang Zi-cheng, seorang dokter untuk kaisar terakhir Dinasti Qing, Puyi. Dibangun kembali menjadi ruangan untuk seni kehidupan oleh Kuo, galeri tersebut dibagi menjadi tiga bagian – yang pertama khusus memamerkan dan menjual karya seni dan kerajinan, yang kedua menjual biji kopi yang dipanggang dalam pot tembikar, dan yang ketiga sebuah rumah minum yang secara tak berkala ditransformasi menjadi lokasi pameran bagi seniman Taiwan.

Peralatan rumah tangga bercorak artistik dari Taiwan dan Jepang dipamerkan di bagian paling depan.Peralatan rumah tangga bercorak artistik dari Taiwan dan Jepang dipamerkan di bagian paling depan.

Desember tahun lalu, pihak galeri mengundang perangkai bunga untuk memamerkan keahliannya dengan menggunakan guci dan pot tembikar Shih Chiyao, telah menyemarakkan suasana ruang pameran yang konservatif, senada dengan prinsip estetika Kuo untuk “Menghidupkan seni.” Kuo mengambil sebuah cangkir biru dan mempertunjukkan bagaimana retakan menyebar di permukaan ketika cangkir kena air. Saat diisi air dengan suhu berlainan, cangkir berwarna biru pekat itu menampilkan warna berlainan, bagaikan pecahan yang menimbulkan banyak bayangan cahaya.

“Bahan untuk membuat tembikar Shih Chi-yao sangat murni, tidak mengandung logam apapun. Ambil contoh cangkir ini, glasirnya terbuat dari batu giok alami dari Hualien, warna dan keterampilan seninya sangat unik,”ujar Kuo.

 

Shih Chi-yao menuju Jepang untuk memperdalam keterampilan. Ia akhirnya berhasil memproduksi keramik inovatif dengan glasir terbuat dari batu giok alami Hualien.Shih Chi-yao menuju Jepang untuk memperdalam keterampilan. Ia akhirnya berhasil memproduksi keramik inovatif dengan glasir terbuat dari batu giok alami Hualien.

Salon Seni Bloom di Tepi Sungai Tamsui

Kuo Su-jen menjadi cemas setelah menunggu tiga tahun untuk mendapatkan izin pengelolaan Gallery Life Seeding dari Pemerintah Kota Taipei. Suatu hari, ia berjalan-jalan ke arah lain dari Dihua Street dan menaiki lantai dua di suatu bangunan panjang. Memandang ke bawah, Kuo melihat potensi untuk membangun sebuah ruang besar dengan cara menggabungkan 10 toko. Februari 2015, Bloom terlahir, lebih awal dari Gallery Life Seeding.

Di sini, Kuo menjual karya seniman muda dan menawarkan kesempatan bagi mereka untuk mampu menangani beban kehidupan dengan berkreasi, dan pada saat yang sama membawa semangat muda ke Bloom.

“Kami bukan orang sangat kaya, maka tidak bisa membeli karya seni dengan harga selangit. Tapi kami masih cukup mampu untuk mengoleksi karya yang kami sukai, dan memberi dukungan lebih besar bagi kaum muda untuk terus berkreasi,” kata Liu Wen-liang. “Semuanya akan bermakna kalau kita menemukan satu seniman besar dari 10.000 orang. Bukan semua orang bisa menjadi seniman besar, tapi ruangan seperti Bloom menawarkan kesempatan bagi kesenian untuk memasuki kehidupan manusia. Melalui waktu panjang, standar kesenian keseluruhan pasti bisa ditingkatkan.”

Ubin majolica gaya Victoria dari Inggris yang dipamerkan di Taipei Story House.Ubin majolica gaya Victoria dari Inggris yang dipamerkan di Taipei Story House.

“Sejak Bloom resmi dibuka, kami telah menerima banyak sekali proposal pameran dari seniman muda, dan jadwal pameran dengan cepat dipastikan,” ujar Kuo.

Jadi, mengapa seniman muda suka mengadakan pameran di Bloom? “Untuk memamerkan karya di museum atau ruang pameran, seorang seniman harus memiliki reputasi tertentu. Kalau lokasinya di galeri, karya yang dipamerkan harus berpotensi terjual.” Tapi di Bloom, tegas Kuo, tidak ada restriksi tersebut, dan karya seniman muda bahkan sering laris terjual, maka terjalinlah suatu kepercayaan antara seniman dan pihak galeri.

 

Taipei Story House Kelas Kesenian

Dibangun pada 1913 di Yuanshan yang terletak di tepi selatan Sungai Keelung, hak pengelolaan Taipei Story House diserahkan kembali pada Pemerintah Kota Taipei pada 2015 dan kemudian ditawarkan kepada publik. “Teman abangku sedang mencari tempat untuk memamerkan porselin Eropa dan berencana menggunakan nama yayasan untuk memohon izin mendirikan suatu ruang pameran di Taipei Story House,”jelas Kuo. “Akhirnya kita pikir, daripada meminjamkan nama kepada orang lain, lebih baik kita sendiri yang memohon.”

Sekitar waktu ini, Kepala Kantor Dagang Turki di Taipei Ismet Erikan mengetahui kabar bahwa Kuo telah meraih hak pengelolaan Taipei Story House. Erikan dan Kuo yang memang sudah saling mengenal karena unsur kesenian, sama-sama mengoordinasikan pameran “Jiwa Tangan: Kilim dan Keramik dari Turki” pada September 2016. Selain karpet kilim dan kesenian keramik khas Turki, pameran tersebut juga menampilkan pertunjukan kesenian keramik oleh perajin dari Turki, ceramah budaya Turki dan acara “Bazaar” ala Turki.

Taipei Story House adalah bangunan aset budaya Kota Taipei. Hak pengelolaannya diperoleh Kuo Su-jen pada 2015.Taipei Story House adalah bangunan aset budaya Kota Taipei. Hak pengelolaannya diperoleh Kuo Su-jen pada 2015.

“Kami harap bisa mengelola dengan standar museum, dan salah satu bagian darinya adalah tidak mengabaikan pengajaran estetika,” tutur ketua Departemen Pameran Taipei Story House Wang Ya-ting. Sebagai contoh, lanjut Wang, saat berlangsungnya event “Story of Majolica” (Kisah Majolica), pihak departemen menyiapkan sebuah kit DIY pembuatan ubin majolica, bermaksud membantu pengunjung lebih mudah mengerti proses manufaktur ubin gaya Victoria itu melalui pengalaman tangan pertama.

Kehidupan manusia tak bisa luput dari produk materi. Kuo Su-jen berpendapat, jika bisa memilih, setiap orang akan memilih barang-barang yang punya nilai seni. Untuk kasus kilim dan keramik, orang-orang tidak hanya memakai karpet anyaman agar menjadi lebih hangat, juga tidak hanya menggunakan tembikar untuk menampung makanan dan minuman. Kombinasi kesenian, warna dan desain dalam proses pembuatannya adalah mikrokosmos kehidupan dan kebudayaan Turki.

Materi berwujud membawa serta masa lalu tak berwujud, dan berfungsi sebagai ekstensi memori serta media budaya. Mungkin juga mengandung aspirasi untuk masa depan.

Pameran “The Soul of Hands (Jiwa Tangan)” memfitur karpet anyaman kilim khas Turki.Pameran “The Soul of Hands (Jiwa Tangan)” memfitur karpet anyaman kilim khas Turki.

Bayangan Seorang Filsuf : Bekas Kediaman Thomé H. Fang & Rumah Tua Wenzhou Street

Dadaocheng adalah suatu zona komersial dengan rasio luas lantai yang relatif tinggi, maka rumah tua memiliki ruang surplus untuk dijual setelah renovasi diselesaikan. Inilah insentif yang diberikan untuk restorasi bangunan bersejarah, dan Gallery Life Seeding adalah salah satu yang mendapatkan keuntungan darinya.

Terlibatnya Kuo dalam merenovasi bangunan tua berawal dari suatu insiden di luar dugaan yang mengesankan. Ia sedang mempertimbangkan membeli tanah surplus ketika menemukan keindahan rumah tua di Dadaocheng, yang akhirnya mendorong terlahirnya Gallery Life Seeding.

Ubin motif lukisan pohon kehidupan dalam pameran Turki.Ubin motif lukisan pohon kehidupan dalam pameran Turki.

Setelah itu, dalam suatu proyek konstruksi di Heping West Road, Kuo tertarik pada sebuah bangunan tua yang hampir runtuh di Guling Street yang terletak tepat di belakang situs konstruksi. Ia diberitahu bahwa ini adalah bekas kediaman Thomé H. Fang, seorang filsuf besar yang dianggap sebagai guru negara, yang konon sering diminta nasehatnya oleh mendiang presiden Chiang Kaishek. Kuo, yang beberapa tahun ini tekun mempelajari Buddhisme, juga sangat tertarik pada penelitian Buddhis hasil belajar mandiri dari Fang. Ia akhirnya memutuskan merestorasi bekas kediaman Fang.

Kuo Su-jen menggabungkan arsitektur, seni dan budaya dalam dalam upaya merestorasi dan merevitalisasi bangunan tua. Dalam foto adalah asrama tua National Taiwan University di Wenzhou Street, sebelum direnovasi. (Foto: Kuo Su-jen)Kuo Su-jen menggabungkan arsitektur, seni dan budaya dalam dalam upaya merestorasi dan merevitalisasi bangunan tua. Dalam foto adalah asrama tua National Taiwan University di Wenzhou Street, sebelum direnovasi. (Foto: Kuo Su-jen)

Melalui kontak dengan National Taiwan University, selaku pihak yang memiliki hak properti atas kediaman Fang, Kuo juga menemukan sejumlah bangunan asrama tua di sepanjang Wenzhou Street dan Heping East Road yang sangat membutuhkan perhatian serta peremajaan. Khususnya, ia suka sekali pada tujuh batang pohon pinus, hijau dan mewah, yang tumbuh tidak jauh darinya.

Tidak lama kemudian, Kuo berhasil meraih hak untuk menangani restorasi bangunan-bangunan tua itu melalui program rehabilitasi-operasi-transfer (ROT). Situs tersebut dijadwalkan dibuka pada akhir tahun, dan menurut rencana, akan menjadi suatu museum Buddhis Theravada dan lokasi ceramah Buddhisme.

 

Cerita Melalui Ruang Duet antara Bangunan dan Seni

Merestorasi dan mempreservasi bangunan tua, di saat yang sama mempromosikan kesenian, membutuhkan investasi modal yang cukup signifikan. Putrinya yang berusia 17 tahun menjadi khawatir dan bertanya, “Bu, apakah suatu hari nanti uangmu akan habis?”

“Saat menikmati keindahan suatu karya seni, saya melupakan semua kesusahanku,” kata Kuo.“Saat menikmati keindahan suatu karya seni, saya melupakan semua kesusahanku,” kata Kuo.

“Tidak ada gunanya memiliki terlalu banyak uang,” jawab Kuo. “Saya suka. Saya bersedia. Maka saya pun melakukannya.”

Dengan prinsip itu, Kuo selalu teliti dalam pengoperasian sehari-hari, beradaptasi sesuai kebutuhan yang tercatat dalam laporan keuangan harian, dan mengalokasikan sumber dengan cara fleksibel. Misalnya, Kuo mengkhususkan sebuah ruang di Bloom untuk menjual karya kerajinan dari manca negara untuk menunjang pendapatan, termasuk karpet dan keramik motif lukisan tangan dari Turki yang menjadi populer dalam pameran “Jiwa Tangan” di Taipei Story House.
Kuo tidak pernah menerangkan persis tentang apa yang membuatnya tertarik pada karya seni sepanjang puluhan tahun ini. “Saat menikmati keindahan suatu karya seni, saya melupakan semua kesusahanku,” katanya.

Jadi, apa yang Kuo inginkan andaikata ia bisa melakukan apa saja? “Kalau bisa, saya hendak membangun sebuah museum seperti Museum Miho, di Yangmingshan,” kata Kuo. Terletak di Koka, Jepang, Museum Miho adalah rumah bagi sekitar 2.000 karya seni dari organisasi Shumei. Mungkin saja, di suatu ruang yang dipenuhi tatanan geometris seluas itu, koleksi seni milik Kuo baru bisa keluar dari kotak pelindungnya dan dipamerkan untuk dinikmati dunia. Sebagaimana bangunan-bangunan tua yang direnovasi dan direvitalisasi Kuo, tidak hanya ruang fisiknya yang direparasi, ini juga suatu penampilan sensibilitas artistik yang telah memulihkan kejayaan kisah dan sejarah yang terpendam.