:::

Cita Rasa Makanan Cheng Jen-pei Gunakan Resep Mengikat Memori

Pameran “The Flying Land” di Jut Art Museum, mengundang Cheng Jen-pei untuk memamerkan “Recipe evolution movement” (Foto: Lin Min-hsuan)

Pameran “The Flying Land” di Jut Art Museum, mengundang Cheng Jen-pei untuk memamerkan “Recipe evolution movement” (Foto: Lin Min-hsuan)

 

Satu hidangan mampu mengembalikan manisnya kehidupan. Dari wujud rupa hingga rasa di hati, semua dipadukan oleh Cheng Jen-pei melalui lensa kameranya. “Recipe evolution movement” menggunakan materi asli guna mendeskripsikan rupa imajinasi. Rasa yang tertinggal di lidah, mencungkil rasa rindu imigran baru akan kampung dan keluarganya. Bagaikan sebuah tombol, dalam sekejab mampu menghubungkan kampung halaman, menenangkan hati yang terapung, mengembalikan diri ke dalam pelukan bunda.

 

Melalui kisah cerita dari sajian di atas meja makan, berbagi suka duka, senang sedih, dan kenangan lama yang ada dalam setiap perjalanan kehidupan.(Foto: Lin Min-hsuan)Melalui kisah cerita dari sajian di atas meja makan, berbagi suka duka, senang sedih, dan kenangan lama yang ada dalam setiap perjalanan kehidupan.(Foto: Lin Min-hsuan)

Ragam etnis yang berpadu di Taiwan, perlahan memandu perubahan dalam hal memasak. Seiring dengan waktu yang bergulir, hati yang bergejolak, mencari tempat untuk berteduh. Gaya hidangan di kampung dulu, tanpa terasa telah menyatu dengan rasa lokal. Bagai arak yang dituangkan ke dalam botol baru, mampu menghasilkan cita rasa yang beraneka ragam.

Resep Pengikat Kenangan

Ingatan indra nan kekal abadi. “Recipe evolution movement” memadukan unsur lihat, rasa, cium dalam sebuah memori. Perasaan gembira, emosi, sedih dan bahagia, tertuang dalam gambar. Seniman Cheng Jen-pei bersyukur atas karunia-Nya, atas terbukanya pintu kreasi boga dan perjalanan memori emosi.

Cheng Jen-pei saat berada di Prancis, Bersama dengan seniman dari negara lain, memainkan “Make a wish and let me feed you”Cheng Jen-pei saat berada di Prancis, Bersama dengan seniman dari negara lain, memainkan “Make a wish and let me feed you”

“Mungkin berhubungan dengan lingkungan tempat saya tumbuh dewasa!”. Sedari kecil, Cheng Jen-pei memiliki sensitivitas tinggi akan makanan, ingatan semerbak hidangan di meja makan, menjadi landasan memori dalam lubuk hati. Berkat pengalaman tinggal di luar negeri, Chen sempat mencicipi ragam budaya hidangan, yang akhirnya melahirkan sebuah seni visual paduan antara makanan dan humaniora.

“Saya sangat suka memasak”, adalah program pertukaran terpilih unggulan Kementerian Kebudayaan (MOC) tahun 2014 saat Cheng Jen-pei ditempatkan di Perancis Dengan “Your Cuisine My Recipe”, berhasil membuahkan serangkaian pengalaman seni antara lain “Program Ukiran Makanan”, “Make a wish and let me feed you”, yang mampu menunjukkan kekuatan lunak Taiwan. Mengundang orang asing untuk turut serta di dalam program dan memaparkan hidangan kampung halaman, semua dilakukan oleh Cheng Jen-pei. “Karena adat dan budaya berbeda, hasil karya dan harapan pencicip tentu akan berbeda pula”. “Seni ikut serta” seperti demikian, juga membuat dirinya berpikir bahwa ada hidangan yang terkoneksikan dengan memori masa lampau. “Sebenarnya harapan mereka adalah suatu rasa asal kampung halaman yang tak dapat tergantikan”. Pengalaman ini yang membuat Cheng Jen-pei mulai menciptakan “Recipe evolution movement” di tahun 2017 saat kembali ke Taiwan. Dengan teknik seni yang sangat halus, mampu membaurkan bahan makanan dan benda di atas panggung yang sama, menulis paparan imigran baru akan sejarah dan isi hati mereka.

“Aromatic courtyard” mencatatkan seseorang yang berkelana dari Shandong ke Taiwan, menjalani sebuah proses sulit yang penuh dengan derai air mata.“Aromatic courtyard” mencatatkan seseorang yang berkelana dari Shandong ke Taiwan, menjalani sebuah proses sulit yang penuh dengan derai air mata.

Resep Infiltrasi Kehidupan

“Dalam serangkaian karya ’Recipe evolution movement’ saya, berkat undangan perancang pameran karya perdana Huang Yi-hsiung, akhirnya dapat digelar di salah satu dusun Hakka di Miaoli. Beliau sangat berjasa”, ujar Cheng Jen-pei yang awal tahun ini juga kembali memamerkan serangkaian buah karyanya di Jut Art Museum. Setiap karya adalah kisah cerita seorang manusia, terkadang manis, terkadang pahit, yang menyimpulkan ragam kehidupan. Menikah ke Taiwan, meninggalkan kampung halaman, kerap membawa rasa sepi, namun semua teratasi melalui aroma yang telah melekat di hati.

“Mirage mountain” (Artinya: Gunung Fatamorgana)menggunakan bahan daging babi asin ala Hakka dan vinasse merah, tahu fermentasi, dipadukan dengan kulit risoles ala Vietnam dan serai, serta ebi, yang semuanya berasal dari negara yang berbeda, mampu menjabarkan sebuah kisah tentang kebahagiaan kehidupan. Saat seorang wanita asal Provinsi Tay Ninh yang menikah dengan keluarga suku Hakka, dengan melihat panorama pegunungan di Miaoli, mampu menghilangkan rasa kalut saat berada di tanah rantau. Suami yang penuh dengan kasih sayang, membuat dirinya mampu mendapatkan sebuah sandaran keluarga. Mertua yang mencintai sang menantu bagaikan anaknya sendiri, juga telaten mempelajari masakan Vietnam. Meskipun tidak ada bahan masak yang serupa, juga mencoba mencari penggantinya yang sesuai. Mengobati rasa rindu dengan masakan pengganti kampung halaman. Interaksi antar hati seperti demikian, membuat dirinya kerap rindu dengan mertua, terutama saat kembali ke Vietnam, dan kini telah menjadi sebuah rasa yang tidak dapat tergantikan.

“Mirage mountain” menggunakan bahan daging babi asin ala Hakka dan vinasse merah, tahu fermentasi, mikrofon, bersuara kepada saudara di kampung halaman, menjabarkan sebuah kisah tentang kebahagiaan kehidupan.“Mirage mountain” menggunakan bahan daging babi asin ala Hakka dan vinasse merah, tahu fermentasi, mikrofon, bersuara kepada saudara di kampung halaman, menjabarkan sebuah kisah tentang kebahagiaan kehidupan.

“Saya sangat berterima kasih kepada mereka yang membuka hatinya untuk saya”, ucap Cheng Jen-pei sambil meneteskan air mata. Rasa ini, telah berbaur masuk ke dalam karyanya. “Aromatic courtyard” (artinya: Beranda Beraroma) mencatatkan seseorang yang berkelana dari Shandong ke Taiwan, menjalani sebuah proses sulit yang penuh dengan derai air mata. Dengan memasukkan emosi ke dalam makanan, mampu mengugah hati, melampiaskan perasaan. Meskipun banyak kelebihan akan materi, namun kehidupan yang serba tertutup, membuat jiwa menjadi tertekan, dan depresi mental yang tak pernah menemukan jendela untuk bernapas. Satu-satunya pelepas penat adalah kenangan manis saat masih kanak-kanak.

Karya ini menggunakan batu bata dan semen yang tak sempurna, menyimbolkan kampung halaman saat kanak-kanak yang berada dalam kondisi serba kekurangan. Ayah angkatnya, seorang buruh tani miskin yang sangat menyayanginya. Ayah angkat kerap menggunakan rebusan rambut jagung sebagai minuman pengganti teh, yang merupakan sebuah gambaran kehidupan yang nyata. Cheng Jen-pei menggunakan Jianshan untuk menyiratkan tekanan lingkungan kehidupan yang keras. Secawan air teh melati dengan rambut jagung, menyiratkan wangi memori masa lalu. Biji jagung yang teranyam dengan kawat besi, kokoh berdiri, menyimbolkan pengorbanan cinta, meskipun hidup dalam kepahitan, namun tetap membulatkan tekad untuk menantang masa depan.

“Fresh sprout” (artinya: Tunas Segar) menunjukkan kebolehan Cheng Jen-pei dalam hal unsur seni, bahan masakan hanya merupakan sebuah perantara, namun rasa adalah tujuan utama. Anyaman bunga lokio menjadi latar belakang, yang melambangkan sebuah pujian, menggunakan sapu tangan berwarna sebagai pengganti boneka tradisional Polandia yang diberikan oleh adiknya. Mengaduk daging babi dengan nasi putih, yang melambangkan pengertian antar saudara menantu, mampu meluluhkan hati sang adik perempuan asal Polandia yang awalnya tidak begitu suka dengan daging babi, kemudian berhasil melebur menjadi satu dengan keluarga di Taiwan. Satu-satunya bahan masakan yang sama dengan yang ada di kampung halaman adalah kulit pangsit, dengan menggunakan umbi merah dan sayur bayam sebagai pewarna, tumpukan keju dan acar timun, madu, memamerkan paduan budaya barat dan timur, sangat mampu untuk mendeskripsikan rasa akan Taiwan.“Recipe evolution movement” adalah satu tata desain yang sangat menghabiskan energi. Menggunakan bahan masakan yang terlihat untuk mendeskripsikan kondisi hati yang tidak terlihat. Ada satu bagian pekerjaan dalam “Fragrant poetry” (artinya: Puisi Aroma) yang berulang dan rumit, yakni membuat daging beku menjadi sebuah potret panorama salju di Ukraina. “Saya ingin memadukan semua rasa rindu akan kampung halaman, menyatu menjadi satu titik”.

“Sweet frost”, menggunakan benda pusaka yang diwariskan oleh orang tua yang berasal dari Jepang, melambangkan berkah masa depan yang ada dalam gengaman, juga sekaligus membonceng rasa rindu tak terkira dari pengantin akan orang tuanya“Sweet frost”, menggunakan benda pusaka yang diwariskan oleh orang tua yang berasal dari Jepang, melambangkan berkah masa depan yang ada dalam gengaman, juga sekaligus membonceng rasa rindu tak terkira dari pengantin akan orang tuanya

Kangen akan rumah, bukanlah masalah jarak semata, sekalipun berdekatan, namun tetap akan membuat manusia merasa rindu. Dalam potret indah “Sweet frost” (artinya: Embun Manis), digunakan benda pusaka yang diwariskan oleh orang tua yang berasal dari Jepang, melambangkan berkah masa depan yang ada dalam gengaman, juga sekaligus membonceng rasa rindu tak terkira dari pengantin akan orang tuanya.

Cita rasa yang terukir sedari kecil, kerap menjadi sebuah hal yang sulit tergantikan. Jika ingin menerima hal yang baru, harus berupaya keras. Bagaikan segelas cocktail yang adalah paduan Taiwan dan Jepang, dengan berbahan dasar miso, bubuk teh hijau dan wijen, mampu membangun selapis demi selapis aroma antah berantah, yang menjadi sari rindu rumah. Dalam kondisi emosi yang rapuh, sebutir kacang edamame pun mampu mengobati rasa rindu. Selembar daun shiso mampu mengharu kalbu.

Permainan Seni Rasa Koleksi Karisma Lokal

Hong-gah Museum yang ada sejak jaman dahulu, pada tanggal 23 Februari 2019, baru saja menggelar pameran khusus Beitou Local Flavors Collecting Project. Dalam program pengkoleksian unsur rasa lokal yang ada di Beitou, Cheng Jen-pei mengikuti program kelas ‘Mengoleksi rasa’ di Taipei Municipal Shipai Elementary School. Menggunakan bahan masakan sebagai perantara, menuntun para peserta untuk menyadarkan kembali kenangan lama yang terpendam. Dengan kisah cerita yang ada di atas meja makan, berbagi kisah suka duka, sedih gembira, rindu kangen yang ada dalam setiap perjalanan kehidupan. Melewati proses fermentasi masa, rasa sepat pun telah berubah menjadi manis. Kaum lansia yang ada dalam kelas tersebut, kembali berbinar bagai gadis muda. Dengan tuntunan Cheng Jen-pei, mereka mampu menyibak bakat inovasi dengan karya yang kreatif dan penuh energi.

Cheng Jen-pei bekerja sama dengan restoran vingt vins d’art.Cheng Jen-pei bekerja sama dengan restoran vingt vins d’art.

Rasa masakan asing selalu menggoda manusia, rasa yang tidak serupa dengan yang ada di lokal, semerbak keharuman dari bahan yang berbeda, menyimpan nuansa budaya yang berbeda. “Saya akan menggunakan bahan mie untuk selanjutnya, membangun jejak jalur sebuah kota”, ujar Cheng Jen-pei dengan penuh kehangatan jiwa, menciptakan pesona budaya melalui tampilan bahan masakan dan potretnya.

Jika sejarahwan menggunakan tulisan untuk mencatat sejarah, pelukis menggunakan kuas bertinta untuk menggambarkan pesona alam, pemusik menggunakan melodi nada untuk mendeskripsikan emosi jiwa, maka Cheng Jen-pei menggunakan bahan masakan, dengan bidikan lensa kamera, melukiskan sebuah memori kehidupan. Seribu tahun nanti, gambar foto yang sarat akan resep kuliner ini, mampu memberikan sebuah bayangan akan kebudayaan manusia jaman dahulu, memberikan lorong waktu bagi manusia untuk menyelami masuk ke dalam sejarah masa lalu.