:::

Setelan Jas Pria Klasik Tidak akan Kedaluwarsa

Mengambil ukuran dan fitting adalah proses penting pembuatan setelan jas.

Mengambil ukuran dan fitting adalah proses penting pembuatan setelan jas.

 

Maret 2014, Taipei untuk pertama kalinya menggelar “Suit Walk”, yaitu acara peragaan busana setelan jas pria. Kegiatan ini diselenggarakan oleh manajer merek Gao Wu Collection, Brian Shih, yang menyulap jalanan Kota Taipei menjadi panggung peragaan busana bagi lebih dari 100 pria, dan bertujuan untuk mengubah pandangan stereotip terhadap setelan jas. Sejak itu pawai busana pria tersebut telah menjadi acara rutin di musim semi, dan terus berkembang dengan partisipasi lebih dari 700 pria klimis pada 2018, tahun kelimanya.

 

Setelan jas mungkin adalah gaya busana yang sudah dikenal sejak dulu, tapi karya klasik tidak akan kedaluwarsa, bahkan beberapa tahun terakhir cenderung kembali populer; sementara toko penjahit yang jumlahnya memang sangat banyak, dengan diam-diam menghidupkan kembali budaya busana pria di Taiwan.

Dalam buku yang berjudul “Pengalaman Pertama Taiwan dengan Kebudayaan Barat” penulis sastra Chen Rou-jin menggambarkan situasi populernya rumah teh di Dadaocheng, Taipei, pada awal 1910-an, serta kecenderungan di antara kaum pria memotong kuncir taucang dan menggantikan pakaian gaya Dinasti Qing dengan setelan jas gaya Barat. Tahun 2015, dari daerah berawalnya trend bersetelan jas inilah, Daniel Fan mendirikan Kaien Bespoke Tailoring, toko penjahit yang membuka lembaran baru dalam sejarah gemilang  perkembangan setelan jas di Dadaocheng Taiwan.

Setelan jas menekankan keterampilan tangan. Setelah bekerja selama 40 tahun di bidang pembuatan jas, hari ini Guru Zheng masih menjahit sendiri.

Setelan jas menekankan keterampilan tangan. Setelah bekerja selama 40 tahun di bidang pembuatan jas, hari ini Guru Zheng masih menjahit sendiri.

 

Transformasi Toko Tua Menarik Perhatian Konsumen Muda

Fan pindah ke Taipei dari Miaoli saat berusia 16 tahun untuk magang, dan hingga kini 38 tahun telah berlalu sejak ia bekerja di bidang grosir kain. Ia sempat melewati masa jaya seragam jahit ketika para tamu harus mengantre untuk memilih jenis kain dan menunggu untuk diambil ukuran badannya. Ia juga menyaksikan melesunya bisnis penjahit terkena dampak busana siap pakai. Namun Fan tetap bertekad dan bahkan mengadopsi pendekatan   wirausaha yaitu dengan membeli Kaien Bespoke Tailoring, suatu keputusan yang menampilkan kepercayaannya terhadap busana jahit melalui pengelolaan yang sesuai.

Mentransformasi suatu industri tua membutuhkan perubahan sikap. Tukang jahit tradisional yang hanya mengikuti gaya lama dan berfokus pada kualitas pengerjaan tapi tidak mengerti kebutuhan konsumen, pasti tidak akan bisa mengikuti tren mode. Guru Zheng adalah salah satu penjahit tua Kaien yang direkrut oleh Fan untuk terus bekerja. Berbicara tentang pengalaman bisnis lebih dari 40 tahun, Zheng mengatakan, “Tamu sekarang semuanya menuntut desain.” Di atas meja kerjanya terlihat banyak foto desain dati para tamunya. Cukup dengan memandang sekilas, ia sudah tahu cara untuk menjahitnya. Pemikiran modern dan keterampilan yang terakumulasi selama puluhan tahun inilah yang membantu Kaien mengukuhkan fondasinya di tengah-tengah kelesuan pasar busana jahit.

Fan yang kerap disebut netizen sebagai “Raja dunia kain” memiliki stok kain dengan nilai lebih dari  NT$ 70 juta. Pilihan variatif bagi konsumen, ditambah dengan penggunaan media sosial seperti Facebook dan Instagram, juga faktor penting mengapa Kaien mampu menarik konsumen berusia muda.

Aksesori yang tepat dapat menonjolkan penampilan dan memperlihatkan selera berbusana yang elegan.

Aksesori yang tepat dapat menonjolkan penampilan dan memperlihatkan selera berbusana yang elegan.

Pada mulanya, konsumen Kaien rata-rata berusia 55 tahun ke atas, tapi Fan menemukan, meskipun bisa membayar uang lebih banyak untuk membuat setelan jas, mereka jarang kembali untuk membuat setelan jas kedua.Sebaliknya, generasi muda lebih berani berinvestasi untuk diri sendiri. Saat ini, usia rata-rata konsumen Kaien sudah turun ke usia 35 tahun, dan 80% di antaranya adalah pelanggan tetap, selain itu,  setiap bulan setidaknya ada 30 tamu baru. Bahkan ada sekelompok teman yang menganggap Kaien sebagai tempat bergaul untuk membicarakan topik-topik yang berhubungan dengan setelan jas dan aksesorinya. Chris Chu adalah salah satu pelanggan yang bekerja di restoran, dan setelan jas adalah seragam kerjanya. Menurut pengalamannya, mengenakan jas yang dibuat sesuai dengan bentuk tubuh, dari bahan kain bermutu, dapat membuatnya terlihat profesional, serta meningkatkan rasa percaya diri.

Di Taiwan, memakai setelan jas sering dianggap sebagai gaya kuno, atau hanya sesuai untuk menghadiri pernikahan atau menemui calon pasangan saat kencan. Semua ini adalah akibat kesalahpahaman, tutur Chris. Dalam perkembangannya, setelan jas telah menyerap banyak gaya dan mode, dan tidak harus selalu dipakai bersetelan. Chris sering mengombinasikan dan memadukan bagian yang berlainan. Ini adalah caranya mengekspresikan gaya pribadi dalam kehidupan sehari-hari.

Daniel Fan dari Kaien Bespoke Engineering memiliki stok kain dalam beragam warna dan menyediakan beraneka pilihan konsumen.(Foto: Jimmy Lin)

Daniel Fan dari Kaien Bespoke Engineering memiliki stok kain dalam beragam warna dan menyediakan beraneka pilihan konsumen.(Foto: Jimmy Lin)

 

Asal-Usul Suit Walk

Adalah harapan Brian Shih untuk menjadikan pakaian pria sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di Taiwan. Ketika ditanya mengapa ingin menyelenggarakan Suit Walk, Brian Shih menjawab, “Saya harap suatu hari nanti Suit Walk tidak perlu lagi diselenggarakan. Pada saat setelan jas jahit sudah menjadi bagian dari pakaian umum kaum pria, tidak perlu lagi untuk berpawai di jalanan.”

Sebelum berusia 30 tahun, Shih bekerja di toko serba ada dan setelan jas adalah seragamnya. Namun Shih yang bertubuh kecil dan kurus tidak mampu menemukan ukuran busana siap pakai yang cocok, maka ia harus memesan setelan jas dari penjahit. Kemudian ia mengetahui bahwa memesan setelan jas jahit bukan hal sederhana. Detail-detail seperti gaya, kain dan aksesori, semuanya memerlukan perhatian. Kemudian, karena kebutuhan pekerjaan, ia menerjemahkan sejumlah dokumen Barat tentang setelan jas ke bahasa Tionghoa, kemudian membagikannya dengan teman dan melalui blog Office Dandy yang dikelolanya. Tahun 2014, ia meluncurkan Suit Walk.

Setelan jas memperlihatkan kesesuaian dalam kehidupan.

Setelan jas memperlihatkan kesesuaian dalam kehidupan.

Shih menjelaskan, sebagian besar peserta berada di bawah usia 35 tahun. Di antaranya, kelompok usia 20-35 tahun mendominasi 80% dan kebanyakan bekerja di industri teknologi informasi. “Hal ini sesuai dengan kondisi perindustrian Taiwan sekarang, dan membuat kita mengerti bahwa kelompok ini tidak memiliki kebebasan dalam mengenakan apa yang mereka inginkan di tempat kerja,” jelas Shih. Xizhuang (busana Barat), sebutan bahasa Tionghoa untuk setelan jas sering dikaitkan dengan stereotip, maka Shih menggantikannya dengan istilah shenshizhuang (busana pria). Ditilik dari segi gaya, istilah ini melonggarkan fleksibilitas busana pria, di mana jas bisa saja dipakai bersama kaus polo, celana jeans mau pun sepatu kain. Dengan demikian, busana pria tidak lagi terkekang oleh standar, dan kebebasan memilih busana individu tidak lagi mengalami tekanan.

Berbicara tentang gaya busana, Shih memiliki konsepsi pengamatan sosial yang menarik. Ia menemukan garis pemisah pada usia 35 dan 65 tahun: Lelaki berusia 35-65 tahun pada umumnya tidak mengutamakan busana yang mereka pakai, tapi yang berusia 65 tahun ke atas dan 35 tahun ke bawah lebih memperhatikan penampilan dan mempunyai gaya pribadi. Kecenderungan ini mungkin berhubungan dengan transformasi perindustrian. Ketika ekonomi Taiwan didominasi perusahaan dagang di masa lampau, berpakaian pantas adalah hal penting untuk bisnis. “Pada zaman perdagangan ekspor, yang ditekankan adalah komunikasi tatap muka; tapi bangkitnya industri teknologi informasi mengubah komunikasi antar manusia menjadi komunikasi dengan mesin, dan kita perlahan-lahan melupakan cara berpakaian bagus,” jelas Shih. Lelaki berusia 35-65 tahun adalah kelompok yang melewati masa transformasi ke era industri teknologi informasi. Setiap hari, mereka hanya bertatap muka dengan komputer dan jarang berinteraksi langsung dengan orang lain. Lama kelamaan, mereka tidak lagi peduli pada penampilan luar.

Pendiri Suit Walk, Brian Shih berharap bisa membangkitkan kesadaran berbusana pria Taiwan.

Pendiri Suit Walk, Brian Shih berharap bisa membangkitkan kesadaran berbusana pria Taiwan.

 

Pilihan Busana Hasil Pertimbangan

Shih sering berkata, “Jas Anda adalah kartu nama pertama yang Anda tunjukkan pada dunia.” Ia tidak memaksa orang lain untuk memakai setelan jas. Menurutnya, yang penting adalah “Pilihan hasil pertimbangan.” Setiap orang harus memutuskan sendiri penampilan seperti apa yang hendak ia perlihatkan pada dunia.

“Sebelum memesan setelan jas jahit, beberapa pertanyaan harus dijawab terlebih dulu: Orang seperti apakah Anda? Anda berada di lingkungan apa? Seperti apa gaya hidup Anda sebenarnya?” Dalam pandangan Shih, “Kita terlalu jarang memikirkan hal-hal tersebut.” Ketika kelompok usia 35-65 tahun masih bersekola, pihak sekolah dengan ketat mengontrol penampilan pelajar. Pada saat melepaskan seragam sekolah, mereka kurang akan latihan serta pengalaman dalam hal pilihan busana, dan tidak mempunyai contoh. Generasi ini tidak memiliki kesadaran atas isu pakaian, tapi daya belanja mereka menawarkan kesempatan besar, maka Shih menyimpulkan, “Generasi ini perlu diguncang.”

Konsepsi Shih dalam mendirikan Gao Wu Collection adalah menawarkan lebih banyak produk dan pilihan kepada konsumen. Nama “Gao Wu” dipetik dari salah satu kalimat dalam novel klasik Tiongkok The Scholars (Rimba Cendekia): “Burung phoenix bertengger di atas pohon parasol, sementara suara jangkrik terdengar di paviliun.” Dianggap sebagai raja burung, phoenix adalah burung jantan yang hanya berhenti di pohon parasol yang menjulang tinggi. Untuk itu, Gao Wu Collection (di mana “Gao” berarti “tinggi”) adalah sebuah “Koleksi produk berkualitas tinggi bagi kaum lelaki.”

Produk busana di Gao Wu Collection tidak terlalu mewah, tetapi memperlihatkan etika yang rasional dan kesesuaian.

Produk busana di Gao Wu Collection tidak terlalu mewah, tetapi memperlihatkan etika yang rasional dan kesesuaian.

Produk busana di Gao Wu Collection tidak terlalu mewah tetapi memperlihatkan etika yang rasional dan kesesuaian. Shih merekomendasikan pria memakai suspender, karena hanya suspender yang dapat dengan sempurna menjaga celana setelan pada posisi yang seharusnya. Menurut etika busana, kaki telanjang seorang lelaki tidak boleh terlihat saat mengenakan celana, maka panjang pendeknya kaus kaki adalah kunci penting. Kaus kaki panjang secara tradisional dipakai hingga atas betis sehingga tidak tergelincir ke bawah. Kaus kaki “Satu-ukuran-untuk-semua” biasanya lebih tebal karena terkadang ada keperluan baginya untuk diregang, maka di toko Gao Wu Collection hanya dijual kaus kaki yang memiliki ukuran untuk menjamin bahwa ketebalan kaus kaki tidak memengaruhi ukuran sepatu. Ini bukan permintaan yang berlebihan, melainkan standar rasional untuk mewujudkan penampilan wajar seorang pria.

Selain berusaha mengguncang ide konsumen tentang busana pria, Shih sendiri juga melakukan banyak reformasi dalam hal penjahitan. Gao Wu Collection tidak menerima permintaan konsumen untuk mempercepat proses pembuatan jas. Dibutuhkan waktu dua bulan penuh untuk menyelesaikan satu setelan jas yang dirancang khusus, termasuk dua kali basted fitting dan satu kali forward fitting. Ini tidak hanya dekat dengan proses yang digunakan secara internasional untuk pakaian jahit, juga merupakan cara kerja lebih logis yang diharapkan bisa memberikan optimisme bagi pendatang baru di industri ini.

Peragaan busana Suit Walk bertujuan untuk mengguncang kebudayaan busana setelan jas pria.(Foto: Brian Shih)

Peragaan busana Suit Walk bertujuan untuk mengguncang kebudayaan busana setelan jas pria.(Foto: Brian Shih)

 

Perbesar Pasar M Mengultivasi Talenta

Menggelar Suit Walk membuat setelan jas mendobrak kerangka tradisional, menampilkan kepribadian dengan keeleganan dan rasa percaya diri. Pada saat konsumen bersedia memakai setelan jas di jalanan, pengusaha baru akan mencium peluang, dan media baru akan menaruh perhatian dan melaporkannya, sehingga lebih banyak orang mengetahui semangat di balik setelan jas, dan selanjutnya membentuk ombak kuat untuk mengguncang pasar, jelas Shih, membicarakan visinya bagi transformasi pasar.

Di lain pihak, Daniel Fan dari Kaien bekerja keras dari sisi produksi. Ia dengan tekun mendidik para siswa magangnya yang mayoritas berusia 20-an tahun dan ingin berkarir di industri ini. Di bawah bimbingan cermat dari dua orang guru senior, mereka sekarang sudah bisa bekerja sendiri dalam menangani tahap pertama proses pembuatan setelan jas, termasuk mengambil ukuran konsumen. Kelak, mereka bertugas untuk mewariskan keterampilan dan kebudayaan busana jahit.

Fan berharap setelan jas bisa menjadi bagian penting dalam kehidupan pria; sedangkan bagi Shih, yang ditampilkan setelan jas adalah suatu gaya hidup. Karena ketika seseorang mulai menyadari bahwa gaya busana mencerminkan kepribadian seseorang, maka ia akan lebih siap dalam menghadapi tantangan di dunia. Kebutuhan untuk menunggu proses pembuatan setelan jas yang panjang berarti seseorang harus melewati proses keraguan dan pemahaman diri, untuk mencari dan menemukan versi paling sesuai untuk dirinya. Dibandingkan gratifikasi instan dari busana cepat, proses ini menawarkan cara pemikiran baru dan solusi alternatif.