:::

Gema Angklung Gaungkan Irama Bambu

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia dari bahan bambu, khususnya menggunakan bambu biru untuk bahan utamanya.

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia dari bahan bambu, khususnya menggunakan bambu biru untuk bahan utamanya.

 

Tahun 2015, Indra Tan, Fonny Zhang, Mona Lin, Kartika Condro Ester dan beberapa imigran baru kerap mengikuti kegiatan pertukaran kebudayaan Indonesia dan Taiwan, khususnya dalam bentuk tarian Indonesia. Tingginya jumlah undangan penampilan tarian Indonesia, membuat mereka merasa terkungkung dalam keletihan berestetika. Salah seorang mengusulkan “Mengapa tidak menyajikan performa dengan angklung?”. Tanpa diduga ide tersebut mendapatkan apresiasi baik, dan “Gema Angkung” pun terbentuk.

 

Indra Tan yang gemar menari, juga mengemban tugas sebagai wakil ketua VIT Dance Group.

Indra Tan yang gemar menari, juga mengemban tugas sebagai wakil ketua VIT Dance Group.

Berkah dari Dewi Padi

“Jika Anda bertanya, jenis instrumen bambu apakah yang memberikan dampak pengaruh terbesar di dunia, maka tanpa ragu saya akan menjawab: Angklung”, ujar Wang Wei, pakar ahli instrumen bambu Tionghoa, dalam karya tulisnya “Marvelous Bamboo Instruments, VI.” Angklung adalah intrumen tradisional asal Jawa Barat, yang cukup populer dan merakyat di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Bahkan lagu-lagu rohani, baik yang dimainkan dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri, maupun di gereja, terdapat unsur angklung di dalamnya. Hal ini sama dengan wayang kulit dan kain batik dari Indonesia, yang juga dikukuhkan menjadi warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

Cerita legenda abad ke-15, saat suku Sunda menemukan kondisi paceklik, mereka menciptakan angklung untuk memuja Dewi Padi, agar sang dewi dapat turun ke bumi dan memberikan kesejahteraan serta panen yang berlimpah. Demikianlah alasan mengapa angklung selalu kerap hadir dalam berbagai upacara doa, juga menjadi bagian musik gamelan tradisional Indonesia yang sangat penting.

Setiap angklung akan mengeluarkan satu nada, jika ingin memainkan sebuah lagu dengan merdu, maka membutuhkan banyak latihan dan menguji kekompakkan para anggota.

Setiap angklung akan mengeluarkan satu nada, jika ingin memainkan sebuah lagu dengan merdu, maka membutuhkan banyak latihan dan menguji kekompakkan para anggota.

 

Memori Kampung Halaman Pertukaran Kebudayaan

Angklung mengangkut banyak memori akan kampung halaman, menjadi unsur penting dalam pertukaran kebudayaan. Musik yang disajikan juga dipilih secara khusus, selain rindu akan lagu Indonesia, juga terdapat unsur musik Mandarin yang akrab di telinga masyarakat Taiwan, demikian juga dengan musik bahasa Holo atau bahasa Hakka, yang mampu mendekatkan hati di antara sesama.

Misalnya lagu nasional seperti Tanah Air, Bengawan Solo. Sungai Bengawan Solo adalah sungai terpanjang di pulau Jawa, menjadi lokasi pertumbuhan perekonomian yang sangat penting. Lagu ini sangat terkenal, bahkan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, salah satunya bahasa Mandarin.

Hari Museum Internasional 18 Mei, National Taiwan Museum kembali mengundang Gema Angkling untuk menunjukkan kebolehan bermain angklung di tengah-tengah aula museum.

Hari Museum Internasional 18 Mei, National Taiwan Museum kembali mengundang Gema Angkling untuk menunjukkan kebolehan bermain angklung di tengah-tengah aula museum.

Musik juga bagaikan sebuah sungai, yang meliputi, menampung berbagai unsur yang mampu memberikan dampak pengaruh serta daya kreasi tinggi. Di balik kemerduan sebuah musik, juga masih sarat akan latar belakang cerita, gaya hidup, emosional jiwa dan sejarah kebudayaan. Para anggota Gema Angklung, sebelumnya tidak pernah mempelajari angklung saat berada di negaranya sendiri, sehingga justru baru mulai mempelajarinya saat telah berada di Taiwan.

“Ibu saya adalah seorang guru, kerap mengajar angklung di dalam gereja. Namun ia berharap saya lebih banyak belajar di sekolah dan tidak menghabiskan waktu untuk bermain musik”, kata Lily Ho. Salah satu keturunan Tionghoa, Fonny Zhang, adalah orang Jakarta, yang menjelaskan bahwa kondisi Indonesia usai perang berakhir, tidak terlampau memperhatikan masalah pendidikan kebudayaan. “Dalam sebuah keluarga besar dan banyak anak, jika dapat makan dan sekolah, serta tumbuh dewasa dengan lancar, sudah menjadi hal yang patut disyukuri.”

Liu Huasheng (Baris terdepan berpakaian warna putih), berkat semangat yang diberikan oleh sang ibu, juga ikut serta di dalam Gema Angklung, mengekplorasi kemampuan bidang musik dan semakin percaya diri.

Liu Huasheng (Baris terdepan berpakaian warna putih), berkat semangat yang diberikan oleh sang ibu, juga ikut serta di dalam Gema Angklung, mengekplorasi kemampuan bidang musik dan semakin percaya diri.

 

Ragam Kehidupan yang Berarti

Para anggota banyak yang berasal dari Jakarta, Surabaya, dan sangat bertalenta di berbagai bidang.

Ketua sekaligus merangkap sebagai konduktor Gema Angklung, Indra Tan, kini bertugas sebagai penerjemah dan pemandu wisata sejarah, juga pencetus kelompok angklung, kelompok tari, bahkan pada tahun 2017 sempat berkolaborasi dengan Black Hand Nakasi dan menciptakan lagu. Ia melintasi urusan keluarga dan pekerjaan sehari-harinya, untuk berjalan menuju kehidupan publik, dengan langkah yang tegap dan mantap menyongsong jalan yang lebih luas lagi, perlahan menjadikan Taiwan sebagai kampung halamannya yang kedua.

Kartika Condro Ester adalah anak pertama dalam keluarga, yang melanjutkan pendidikan di luar negeri, ia mampu bekerja dengan penghasilan tinggi saat tinggal di Indonesia. Namun pernikahan lintas negara, membawanya ke Taiwan. Guna mendidik anak-anaknya lebih baik lagi, ia bersikeras untuk mengambil kelas pelajaran 1 tahun di universitas. Setelah melewati ujian penerjemah untuk bidang peradilan hukum, ia juga diangkat menjadi pemandu resmi pertama untuk memperkenalkan “Jalan Indonesia” di Taipei.

Musik adalah salah satu bentuk komunikasi bersuara, sementara bahasa tubuh adalah komunikasi tak bersuara. Musik dan tari yang megah, justru menjadi salah satu ciri khas kebudayaan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Musik adalah salah satu bentuk komunikasi bersuara, sementara bahasa tubuh adalah komunikasi tak bersuara. Musik dan tari yang megah, justru menjadi salah satu ciri khas kebudayaan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Fonny Zhang, yang mahir dalam berbahasa Inggris, juga adalah salah satu editor dalam penulisan buku mata pelajaran bahasa Indonesia yang diusung oleh Kementerian Dalam Negeri, sehingga juga kerap menerima tugas menemani tamu luar negeri. Merasakan pentingnya berkemampuan bahasa, maka ia juga mengajari anak-anaknya berbahasa Indonesia sedari kecil. Anaknya, Zheng Yaotian juga tidak mengecewakan impian orang tuanya, setelah lulus kuliah, ia ditugaskan bekerja di luar negeri dan mampu mendapatkan penghasilan tinggi lebih dari NT$ 1 juta setiap tahunnya.

Mona Lin memiliki kehandalan dalam memasak, sempat memamerkan keahliannya memasak di National Taiwan Museum, dengan menggunakan bubuk jahe dan berbagai bumbu masak lain yang ada, mampu menghidangkan sajian makanan khas kampung halaman yang nikmat. Ia yang selalu bersemangat belajar, juga berhasil mendapatkan sertifikat sebagai penata rambut. Setiap tahunnya, pasti mengatur waktu bagi anak-anaknya untuk dapat pulang kembali bermain ke Indonesia sembari menjenguk keluarga di sana.

Merdunya suara angklung juga disemarakkan dengan bergabungnya generasi ke dua dari imigran baru. Liu Huasheng, anak dari Mona Lin berhasil menemukan rasa percaya dirinya dengan ikut bergabung dalam kelompok angklung, dan memastikan langkah jalannya di bidang musik untuk ke depannya, dan mengambil kelas pendidikan performing art. Semalam sebelum ujian nasional tingkat SMP, masih tetap berlatih angklung, bahkan usai ujian segera berlari menuju National Taiwan Museum dan memberikan pertunjukkan yang memukau. Sifatnya yang dulu tertutup, kini menjadi sangat antusias dan penuh semangat. Performa Liu Huasheng juga membuat sang ayah bangga atas apa yang berhasil dicapainya.

Angklung mampu menghasilkan musik yang bernada indah, memukau perhatian para pengunjung.

Angklung mampu menghasilkan musik yang bernada indah, memukau perhatian para pengunjung.

 

Langkah Pengakuan Perpaduan Budaya

Pada abad ke-18, masyarakat keturunan Tionghoa di kawasan Jakarta, saat melakukan migrasi dari kota menuju ke kawasan yang tua di Glodok, saat senggang, juga kerap menggunakan alat musik kuno Tiongkok, dipadukan dengan musik setempat, dan berkembang menjadi budaya musik Gambang Kromong. Selang 200 tahun kemudian, Gambang Kromong kini menjadi salah satu bentuk pertunjukkan tradisional khas kota Jakarta, dan hal ini turut menunjukkan keragaman kehidupan berbudaya di Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau.

Kini pemerintah Indonesia juga mulai menyadari untuk mempertahankan kebudayaan tradisional Indonesia, yang mampu menarik perhatian lebih banyak lagi mata dunia. Berjalan di kawasan dusun budaya di Bandung, Jawa Barat, Anda dapat menemukan banyak pedagang kaki lima yang menjual alat musik angklung, bahkan juga tidak segan-segan untuk menunjukkan kebolehan mereka, dan beberapa kali menggelar pertunjukkan musik angklung, baik berskala kecil maupun besar, dan menjadi sebuah musik yang akrab dalam kehidupan masyarakat setempat.

Sama halnya dengan Gema Angklung yang kini mampu melanjutkan warisan kebudayaan tradisional Indonesia di Taiwan, sehingga semakin banyak orang yang mengenal angklung dan memudahkan mereka mendalami dunia seni musik Indonesia.