Kembali ke konten utama
Ragam Cara Menikmati Panorama Gunung Taiping Jalur Kereta Api, Jalan Setapak, Mata Air Panas
2022-10-17

Berjalan di Jalan Setapak Nostalgia Jianqing, menyaksikan rel kereta tua yang kini ditumbuhi tanaman hijau, memberikan keunikan tersendiri.

Berjalan di Jalan Setapak Nostalgia Jianqing, menyaksikan rel kereta tua yang kini ditumbuhi tanaman hijau, memberikan keunikan tersendiri.
 

Area Rekreasi Hutan Gunung Taiping yang berlokasi di Yilan adalah salah satu dari kawasan budidaya hutan utama di Taiwan. Dahulu, kereta Bong-Bong pernah melaju cepat di area hutan ini. Saat ini, Gunung Taiping telah berubah menjadi area rekreasi hutan, wisatawan dapat menumpangi kereta api Bong-Bong menikmati panorama hutan yang menawan, kemudian mengunjungi jalan setapak yang dulunya berfungsi untuk pengiriman material. Perubahan pada ketinggian juga mendatangkan kekayaan akan hutan, pemandangan lautan awan, mata air panas......Keindahan Gunung Taiping tidak akan pernah membuat bosan meski dilihat ribuan kali.

 

“Tuttt!” Warna kuning cerah muncul dari kehijauan hutan yang berada tidak jauh, kereta Bong-Bong melaju dari gunung masuk ke Stasiun Taipingshan, antrean para turis antusias bergerak naik ke kereta, masker yang mereka pakai tidak dapat menutupi keceriaan dan antusias terukir di raut wajah mereka. “Teng..teng..teng..” Bel kereta yang terbuat dari besi tembaga dibunyikan, menandakan kereta akan segera berangkat, kereta Bong-Bong pun perlahan-lahan bergerak maju.

 

Menelusuri Pegunungan dengan Kereta Bong-Bong

Kereta Bong-Bong merupakan sebutan untuk kendaraan pengangkut material dari pegunungan setempat, yang di masa lalu berfungsi sebagai alat pengangkut kayu di kawasan budidaya hutan Gunung Taiping.

Bong-Bong adalah satu-satunya kereta yang terletak di atas pegunungan di Taiwan dengan jalur berliku-liku mengitari perut gunung, sehingga dari sini dapat terlihat panorama barisan pegunungan di sekitarnya. Gerbong kereta didesain terbuka tanpa jendela, udara yang dipenuhi Phytoncides, membuat penumpang serasa tengah berada di tengah hutan gunung.

Budidaya hutan di Gunung Taiping dimulai pada tahun 1914 di era pendudukan Jepang. Di kala tersebut, Biro Kehutanan Kantor Gubernur Taiwan tengah melakukan survei terhadap sumber daya alam setempat, kemudian menemukan kekayaan berlimpah pohon cemara di Gunung Taiping, dan saat inilah bisnis penebangan kayu Gunung Taiping dimulai. Untuk pengangkutan material kayu, 16 jalur transportasi dibangun di seluruh area pegunungan Taiping, dengan total panjang melebihi 100 kilometer.

Ketika bisnis penebangan kayu di Gunung Taiping pada tahun 1970-an memasuki periode akhir, Kantor Pengelolaan Hutan Lanyang Biro Kehutanan (sekarang dikenal Kantor Pengelolaan Hutan Luodong) mulai berencana untuk mengubah lahan budidaya hutan menjadi kawasan rekreasi hutan. Pada tahun 1981, aktivitas penebangan dihentikan sepenuhnya, begitu pula dengan operasional kereta Bong-Bong.

Setelah dipersiapkan selama beberapa tahun, Area Rekreasi Hutan Gunung Taiping dibuka untuk umum pada tahun 1983. Agar wisatawan dapat merasakan sejarah budidaya hutan yang berkembang secara dinamis, untuk itu Kantor Pengelolaan Hutan merestorasi kereta Bong-Bong Jalur Maoxing, setelah berselang empat tahun, jalur kereta dari Stasiun Taipingshan menuju Stasiun Maoxing dioperasikan kembali pada tahun 1991.

Di sepanjang Jalur Maoxing dengan panjang 3 kilometer ini, selain menghadirkan panorama pegunungan yang menawan, juga terdapat jembatan besi dan barisan pepohonan yang menjulang tinggi. Kereta Bong-Bong bewarna kuning cerah, melaju di atas jembatan besi merah, pemandangan indah yang mempesona. Perjalanan selama sekitar 30 menit, suara decak kagum dari wisatawan terus terdengar, pemandangan setiap sudut yang indah untuk difoto membuat orang tidak dapat melepaskan kameranya.
 

Daun maple merah, lumut, tetesan air di ujung daun dan jaring laba-laba berbentuk 3 dimensi yang berfungsi untuk memburu mangsa... Gunung Taiping termasuk salah satu hutan awan (cloud forest) diberkahi kekayaan ekologi, asalkan memperhatikannya, maka Anda akan melihat kejutan.

Daun maple merah, lumut, tetesan air di ujung daun dan jaring laba-laba berbentuk 3 dimensi yang berfungsi untuk memburu mangsa... Gunung Taiping termasuk salah satu hutan awan (cloud forest) diberkahi kekayaan ekologi, asalkan memperhatikannya, maka Anda akan melihat kejutan.
 

Keindahan Budidaya Hutan di Jalan Setapak

Setelah turun dari kereta Bong-Bong di Stasiun Maoxing, dan berjalan masuk ke Jalan Setapak Nostalgia Maoxing, Staf Kantor Pengelolaan Hutan Lai Po-shu menyampaikan, budidaya hutan pada zaman dahulu tidak melulu hanya menebang, melainkan pada saat yang sama juga melakukan penghijauan, jenis pohon yang ditanam di kala tersebut, sebagian besar adalah Cryptomeria Japonica, serta Chamaecyparis Formosensis dan Chamaecyparis Obtusa. Saat berjalan di jalan setapak ini, dapat terlihat pohon Cryptomeria Japonica yang berdiri tegak lurus, serta kayu cemara yang dilapisi tumbuhan lumut dan sisa tebangan kepala pohon raksasa yang kini dipenuhi pakis serta lainnya, di lembah yang terletak di samping juga terdapat hamparan pohon Formosan Alder, yang menghadirkan pemandangan hijau nan asri sejauh mata memandang.

Jalur pegunungan yang juga dibangun pada masa lampau, Jalan Setapak Nostalgia Jianqing yang tadinya adalah jalur Jianqing, memiliki panorama yang berbeda.

Jalan Setapak Nostalgia Jianqing dengan panjang 900 meter, perjalanan pulang-pergi membutuhkan waktu sekitar satu jam, disertai pemandangan yang beraneka ragam. Setelah masuk sekitar 200 meter, visibilitas pengunjung akan terbuka lebar dengan memandang barisan pegunungan di kejauhan yang menghadap ke Dataran Lanyang, apalagi saat cuaca cerah setelah hujan berhenti, maka pemandangan di sini akan semakin jelas. Barisan pegunungan Holy Ridgeline dengan ketinggian 3.000 meter di kejauhan dapat terlihat sempurna, seperti Pegunungan Xue, Gunung Pingtian, Gunung Dabajian dan lainnya.

Jalan Setapak Nostalgia Jianqing yang berada di atas ketinggian 1.900 meter di atas permukaan laut ini, sering berkabut tebal saat memasuki sore hari. Pada zaman dahulu, saat para pelancong terjebak di tengah kabut begitu lamanya, mereka pun mendambakan segera melihat cuaca cerah (jianqing), inilah asal usul nama Jianqing yang berarti melihat cuaca cerah tersebut. Spot yang paling menarik untuk disinggahi para wisatawan adalah dua jalur kereta yang berkelok-kelok di jembatan kayu cemara. Kayu-kayu yang ditutupi oleh lumut memberikan kesan bintik-bintik, serta dihiasi tumbuhan pakis kecil, dan ketika kabut datang, panorama hutan cemara di kedua sisi terlihat begitu menakjubkan, seolah-olah waktu bergerak dengan sangat lamban dan jalan setapak seakan tak berujung di depan mata, membuat para pengunjung serasa bak di negeri dongeng. Hal ini menambah kemisteriusan Jalur Setapak Nostalgia Jianqing. Pemandangan yang begitu menakjubkan, membuat Jalan Setapak Nostalgia Jianqing terpilih sebagai salah satu dari 28 jalur terindah di dunia oleh CNN.

 

Impian Indah Para Naturalis

Bagi Wu Yung-hwa yang adalah seorang peneliti alam dan sejarah, jalur kereta api hutan tidak hanya mengangkut kayu ke kaki gunung, melainkan juga mengajak tokoh naturalis masuk ke kawasan pegunungan untuk mengejar impiannya, menambah banyak unsur romansa Gunung Taiping.

Tahun 1914, pemerintah pada masa pendudukan Jepang mulai menelusuri Gunung Taiping untuk keperluan penebangan, pada saat inilah, penelitian terhadap kekayaan alam yang dimiliki Gunung Taiping juga mulai dikembangkan. Wu Yung-hwa menuturkan, pelopor penelitian entomologi, Tokuichi Shiraki datang ke Gunung Taiping pada tahun 1923, ia berangkat dari Taipei dengan kereta api tujuan Yilan, kemudian berjalan kaki sambil menggendong peralatan di punggungnya menelusuri Sungai Lanyang hingga ke Gunung Taiping. Meski perjalanan ini sulit, tetapi Tokuichi Shiraki berhasil mengumpulkan banyak spesies baru, seperti Panorpa Taiheisanensis, Syrphidae Gunung Taiping dan Elimaea Formosana. Ini tentu memperkaya koleksi spesies serangga di Gunung Taiping.

Setelah kereta api dari Gunung Taiping menuju Stasiun Zhulin Luodong dibuka untuk mengangkut penumpang pada tahun 1926, kawasan ini kian terkenal, baik di kalangan akademisi maupun wisatawan. Wu Yung-hwa menuturkan, naturalis ternama, Tadao Kano menumpangi jalur kereta api menuju kawasan pegunungan Taiping pada tahun tersebut, lalu akhirnya bertemu dengan spesies kupu-kupu Atrophaneura Horishana, yang hanya terdapat di Taiwan. Bagi Tadao Kano yang di kala tersebut masih duduk di bangku SMA, pertemuan itu telah membuka halaman awal bagi petualangan indahnya menelusuri pegunungan Taiwan.

“Awalnya, ketika saya melihat kupu-kupu Atrophaneura Horishana di hutan antara Taipingshan Clubhouse dan Lembah Shendai, saya seperti bermimpi. Saat terbang keluar dari hutan yang rimbun, itu bagai ‘cherry-blossom dream’. Pemandangan tersebut benar-benar tidak boleh terlewatkan bagi pengamat serangga Taiwan.”

Melalui tulisan, Tadao Kano meluapkan perasaan terharunya, deskripsinya yang hidup, telah membuat banyak pendaki mengincar sosok Atrophaneura Horishana berwarna kuning blewah hingga hari ini.
 

Wu Yung-hwa yang akrab dengan kehutanan merasa Taman Kebudayaan Budidaya Luodong yang menyimpan gerbong pengangkut material kayu, stasiun Zhulin, dan kolam penyimpanan kayu, menyambut kedatangan semua orang untuk mengenal kisah tanah Luodong ini.

Wu Yung-hwa yang akrab dengan kehutanan merasa Taman Kebudayaan Budidaya Luodong yang menyimpan gerbong pengangkut material kayu, stasiun Zhulin, dan kolam penyimpanan kayu, menyambut kedatangan semua orang untuk mengenal kisah tanah Luodong ini.
 

Hutan Emas Berharga

Kutipan kata-kata berharga yang ditinggalkan oleh para naturalis, ternyata menjadi tujuan para generasi berikutnya. Misalnya, ilmuwan hutan Ryōzō Kanehira yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Penelitian Departemen Kehutanan Kantor Gubernur Taiwan, dalam buku “Formosan Trees Indigenous to the Island” menulis tentang penyebaran pohon beech Taiwan Fagus Hayatae, yang juga adalah spesies peninggalan dari zaman glasial. Tulisan tersebut telah membuat banyak akademisi mencarinya, terutama dalam beberapa dekade terakhir.

Lai Po-shu menuturkan, ada beberapa perbedaan dari lokasi pohon beech Taiwan yang tercatat dalam literatur di kala tersebut, sehingga sulit untuk menemukannya. Hingga sekitar 20 tahun lalu, ketika Biro Kehutanan melakukan survei secara rutin dan memotret dari udara saat daun-daun pohon beech menguning, barulah ditemukan adanya hutan alami yang ditumbuhi oleh pohon beech, dengan luas sekitar 1.100 hektar yang berada di dekat Danau Cuifeng Gunung Taiping. Biro Kehutanan lalu melakukan penelitian lebih lanjut, dan membangun Jalan Setapak Beech Taiwan, yang dapat membuat masyarakat luas dapat menikmatinya dari jarak dekat.

Pohon beech Taiwan telah menjadi salah satu dari empat tanaman langka Taiwan yang dilindungi oleh UU Pelestarian Cagar Budaya (Cultural Heritage Preservation Act). Kantor Pengelolaan Hutan Luodong juga mencoba untuk merelokasi dan memperluas habitat pohon beech Taiwan.

 

Menggali Kekayaan Hutan Pegunungan

Area Rekreasi Hutan menjadi salah satu penghubung yang lebih merekatkan masyarakat dengan kawasan pegunungan, Lai Po-shu menyampaikan, hutan menawarkan lebih dari sekedar pepohonan, wisatawan dapat menyaksikan lebih banyak hal dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sebagai contohnya Jalan Setapak Beech Taiwan, dengan total panjang 3,8 kilometer, paruh pertama dari jalan setapak ini terbentang di sepanjang jalur kereta tua yang rata dan mudah dilalui, sehingga mudah untuk dapat menikmati panorama bebatuan geologis, perumahan para pekerja di era pembudidayaan dan masih banyak aneka ragam tumbuhan.

Hanya ada 1% dari hutan dunia yang termasuk dalam kategori hutan awan (cloud forest), dan Gunung Taiping juga adalah salah satunya. Ketika muson timur laut yang membawa banyak kelembapan datang, ditambah dengan ketinggian di atas gunung, maka akan membuat area pegunungan dikelilingi oleh awan dan kabut, sehingga flora khas Taiwan akan tumbuh subur di sini, misalnya Chamaecyparis Formosensis, Chamaecyparis Taiwanensis dan Taiwania Cryptomerioides. Kelembapan hutan awan juga akan membuat lumut berkembang biak, misalnya Sphagnum Palustre, yang berperan penting bagi konservasi tanah dan air. Selain itu, lumut-lumut tersebut juga dapat mempertahankan intensitas kelembapan di dalam area hutan. Lai Po-shu mengingatkan, saat berada di jalan setapak, jangan menundukkan kepala dan hanya menantikan pohon beech yang berada di tujuan terakhir. Sepanjang jalan terdapat jaring laba-laba yang berpadu dengan tetesan air dan bioma tundra yang kaya akan warna, asalkan Anda memperhatikan, maka perjalanan di jalan setapak ini akan penuh kejutan.

Chen Kuan-wei menuturkan, Area Rekreasi Hutan Gunung Taiping memiliki banyak jalan setapak, serta diberkahi dengan panorama yang berbeda di empat musim. Di bulan April Anda bisa menyaksikan bunga Rhododendron gunung, lalu pada bulan Mei bisa melihat Foxgloves yang berbentuk seperti untaian lonceng. Di samping tangga utama Taipingshan Villa, terdapat pohon maple berdaun merah alami. Pohon ini memiliki periode pengamatan yang panjang, wisatawan dapat menyaksikan panorama maple merah semenjak bulan April hingga Oktober. Pada musim gugur, ada pohon beech Taiwan yang berwarna kuning keemasan, sedangkan pada musim dingin, wisatawan dapat mengunjungi Jiuzhize, yaitu satu-satunya mata air panas di Taiwan yang berwarna biru safir. Di sini, wisatawan dapat mencoba pengalaman memasak telur rebus geotermal. Gunung Taiping menghadirkan ragam pengalaman wisata, yang layak untuk dikunjungi setiap saat.

 

MORE

Ragam Cara Menikmati Panorama Gunung Taiping Jalur Kereta Api, Jalan Setapak, Mata Air Panas