
Yayasan Kerja Sama Pembangunan Internasional Taiwan (ICDF) bekerja sama dengan Wharton School University of Pennsylvania memperkenalkan penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem informasi medis di Somaliland, agar dapat melakukan rekam medis secara otomatis.
Bahasa resmi Somaliland adalah bahasa Somalia. Namun, untuk menyesuaikan diri dengan standar internasional, negara tersebut mewajibkan tenaga medis menulis rekam medis dalam bahasa Inggris. Sayangnya, tingkat penguasaan bahasa Inggris di kalangan tenaga medis bervariasi, dan sering kali menyebabkan kesalahan ketik, kurangnya tanda baca, atau input yang tidak sistematis. Kesalahan-kesalahan tersebut berujung pada rekam medis yang tidak lengkap dan memengaruhi akurasi diagnosis klinis.
Untuk memberikan solusi terhadap masalah ini, pada bulan Desember 2024, ICDF, Wharton School, dan Kementerian Pengembangan Kesehatan Somaliland menandatangani perjanjian kerja sama, dan meluncurkan proyek kecerdasan buatan (AI) “Peningkatan Efisiensi Pengelolaan Informasi Medis Somaliland”.
Kepala proyek ICDF, Lin Ping-cheng, menjelaskan bahwa model kerja sama saat ini melibatkan tim teknis di lapangan yang bertanggung jawab di bidang pengembangan sistem, sedangkan Wharton School bertugas untuk merancang algoritma. Kementerian Pengembangan Kesehatan Somaliland mengoordinasikan pengujian dan implementasi sistem di rumah sakit setempat.
Wharton School juga membantu penyediaan dana untuk koneksi server AI, dan peningkatan kecepatan koneksi internet di pusat data Somaliland.
Lin Ping-cheng lebih lanjut menjelaskan bahwa fitur AI yang akan diterapkan ini menggunakan interaksi manusia dan mesin untuk menghasilkan rekam medis elektronik, yang secara signifikan dapat meningkatkan efisiensi diagnosis klinis, khususnya dalam menangani kasus-kasus kompleks, dan untuk pasien yang memerlukan pemantauan jangka panjang.
Seorang dokter lokal yang telah menggunakan fitur ini mengatakan, "Sistem informasi medis yang dikembangkan dengan bantuan Taiwan sudah sangat baik. Namun teknologi AI yang baru dikembangkan ini membuat proses diagnosis menjadi lebih lancar, secara signifikan mengurangi tingkat kesalahan dalam pencatatan rekam medis, serta menghemat waktu dokter dalam menulis catatan medis. Dengan demikian kami dapat lebih berfokus pada aspek profesional pelayanan medis."