Presiden Lai Ching-te menerima kunjungan delegasi Parlemen Eropa di Istana Kepresidenan, Selasa, 6 Januari 2026. Dalam sambutannya, Presiden Lai menyampaikan bahwa di tengah tantangan hibrida yang ditimbulkan oleh otoritarianisme, hanya melalui solidaritas barulah negara-negara demokratis dapat melindungi nilai-nilai kebebasan dan demokrasi serta menegakkan tatanan internasional berbasis aturan.
Presiden Lai menyatakan bahwa Taiwan bersedia menjadi mitra paling tepercaya bagi Eropa dan berkontribusi lebih besar dalam memperkuat ketahanan rantai pasok demokratis global. Ia berharap Taiwan dan Eropa dapat saling bekerja sama untuk mendorong stabilitas dan kemakmuran regional maupun global, serta terus menciptakan masa depan yang saling menguntungkan dan sejahtera.
Pada kesempatan tersebut, Presiden Lai juga mengucapkan terima kasih kepada Parlemen Eropa yang selama bertahun-tahun telah meloloskan berbagai resolusi dukungan terhadap Taiwan, terus memberikan perhatian terhadap perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, serta secara konsisten mendukung partisipasi internasional Taiwan.
Langkah-langkah tersebut mengirimkan pesan jelas kepada komunitas internasional bahwa mereka yang menjunjung kebajikan tidak pernah berdiri sendiri. Dalam menghadapi tantangan jangka panjang yang bersifat hibrida dari otoritarianisme Tiongkok, seperti ancaman militer, agresi zona abu-abu, serta tekanan diplomatik dan ekonomi, Taiwan telah memperoleh pemahaman yang sangat mendalam.
Ketua delegasi Parlemen Eropa, Michael Gahler dalam pidato tanggapannya menyatakan bahwa Selat Taiwan merupakan selat internasional, dan ia mendorong berbagai negara menunjukkan hal tersebut dengan mengirimkan kapal melintasi Selat Taiwan, serta menegaskan bahwa mereka tidak menerima perubahan status quo secara sepihak. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya mengecam keras sikap bermusuhan dan agresif terbaru yang ditunjukkan oleh Tiongkok pada pekan sebelumnya di sekitar Taiwan, yang dinilai sebagai tindakan provokasi, serta merupakan sikap yang tidak dapat diterima karena membahayakan koeksistensi damai di kedua sisi selat.