:::

MOST Perdalam Hubungan Kerja Sama Akademik dengan Indonesia, Dirikan Pusat Riset di Pontianak

Pada tanggal 23 Agustus 2018, Pusat Kebudayaan Austronesia dari National Taitung University (NTTU), dengan dana subsidi dari MOST, telah menandatangani MOU dengan Universitas Tanjungpura di Kalimantan Barat, untuk mendirikan Center of Southeast Asian Ethnicities Cultures And Societies di Kota Pontianak.

Pada tanggal 23 Agustus 2018, Pusat Kebudayaan Austronesia dari National Taitung University (NTTU), dengan dana subsidi dari MOST, telah menandatangani MOU dengan Universitas Tanjungpura di Kalimantan Barat, untuk mendirikan Center of Southeast Asian Ethnicities Cultures And Societies di Kota Pontianak. (Foto oleh Universitas Tanjungpura)

 

Dalam mendorong Kebijakan Baru Arah Selatan (New Southbound Policy, NSP), Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MOST) terus mendorong berbagai institusi pendidikan tinggi Taiwan untuk membuka pusat inovasi teknologi dan penelitian di luar negeri. Tujuannya adalah untuk mempererat hubungan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pada tanggal 23 Agustus 2018, Pusat Kebudayaan Austronesia dari National Taitung University (NTTU), dengan dana subsidi dari MOST, telah menandatangani MOU dengan Universitas Tanjungpura di Kalimantan Barat, untuk mendirikan "Center of Southeast Asian Ethnicities Cultures And Societies" (Pusat Penelitian Etnik, Budaya dan Masyarakat Asia Tenggara) di Kota Pontianak.

Pusat penelitian ini nantinya akan dioperasikan oleh Pusat Kebudayaan Austronesia NTTU dan diintegrasikan dengan program studi sumber daya kelautan dan perikanan National Kaohsiung University of Science and Technology (NKUST) serta program studi penelitian sumber daya masyarakat Providence University. Inisiatif ini diawali dari banyaknya kesamaan antara penduduk asli Taiwan dan masyarakat Indonesia yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Pusat penelitian ini bertujuan untuk mendorong penelitian dan pengumpulan data primer di bidang sensitivitas etnis, afinitas budaya, dan keramahan terhadap lingkungan. Data dan penelitian yang dihasilkan akan digunakan untuk mendorong kemampuan sektor industri, membantu pengusaha Taiwan untuk berinvestasi di Indonesia, mengembangkan inovasi teknologi, sekaligus melaksanakan pemberdayaan komunitas, revitalisasi dan pelestarian budaya, serta mendorong keramahan terhadap lingkungan yang berkelanjutan.

Proyek ini telah membuahkan beberapa hasil, seperti penandatanganan MOU antara Universitas Palangka Raya dengan NTTU; partisipasi Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknolgi dan Pendidikan Tinggi RI, Rektor Universitas Palangka Raya, Dr. Ir. Agus Indarjo, dan Direktur Kantor Urusan Internasional, Prof. Dr. Sulmin Gumiri, M.Sc dalam forum internasional "Boundary Construction and Crossing: Monsoon Asia's Societies, Cultures and Ethnicities" di NTTU; serta partisipasi Dr. Ir. Agus Indarjo dan Prof. Dr. Sulmin Gumiri, M.Sc untuk berdiskusi dengan para pakar NSP di National Applied Research Laboratories.

Melalui pusat penelitian yang didirikan oleh NTTU dengan dana subsidi dari MOST ini, diharapkan dapat membuka kesempatan baru untuk memperdalam hubungan kerja sama dan pertukaran akademik antara Taiwan dan Indonesia.