:::

Tim Dokter Taiwan Wujudkan Impian Bocah Myanmar untuk Bisa Menulis Secara Normal

Loke Swe mengatakan sebelum menjalani operasi, ia harus menggunakan kedua telapak tangan untuk menulis, sehingga ia merasa sangat kesulitan, dan hanya bisa menulis dengan kecepatan yang sangat lambat ketika mengikuti pelajaran di sekolah. Namun, sekarang Loke Swe sudah bisa menulis dengan satu tangan secara normal.

Loke Swe mengatakan sebelum menjalani operasi, ia harus menggunakan kedua telapak tangan untuk menulis, sehingga ia merasa sangat kesulitan, dan hanya bisa menulis dengan kecepatan yang sangat lambat ketika mengikuti pelajaran di sekolah. Namun, sekarang Loke Swe sudah bisa menulis dengan satu tangan secara normal. (Foto oleh CNA)

 

Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dari Myanmar bernama Loke Swe, lahir dengan kondisi jari menyatu dengan telapak tangan atau biasa disebut congenital syndactyly. Kondisi tersebut membuat Loke Swe mengalami kesulitan untuk makan atau menulis, karena tidak dapat menggenggam benda pada telapak tangan.
 
Dengan kondisi layanan medis di Myanmar yang sangat terbatas, Loke Swe mengalami kesulitan untuk berobat karena tidak ada rumah sakit atau institusi medis yang dapat menangani kondisi fisik tersebut.
 
Pada tahun 2017, terjadi pemberontakan entis di daerah Kokang tempat Loke Swe tinggal, sehingga ia dan anak-anak kurang mampu lainnya harus mengungsi ke sebuah panti asuhan di Yangon.  
 
Pada bulan April 2019, pakar bedah tulang yang juga menjabat sebagai Kepala Shin Kong Wu Ho-Su Memorial Hospital, Hou Sheng-mou, memimpin sebuah tim medis ke Yangon, dan bertemu dengan Loke Swe.
 
Terharu melihat perjuangan Loke Swe menghadapi keterbatasannya, Hou Sheng-mou memutuskan untuk membentuk tim dokter spesialis, serta menggalang dana untuk membawa Loke Swe ke Taiwan agar dapat menjalani operasi.     
 
Ketua tim dokter yang melakukan operasi terhadap Loke Swe, Lin Yu-hsien, menjelaskan congenital syndactyly adalah sebuah kondisi fisik langka yang terjadi pada 1 di antara 2.000-3.000 orang. Sebelum menjalani operasi, Loke Swe memiliki jari tangan yang saling menyatu, dengan panjang yang sama, sehingga cukup menyulitkan tim dokter dalam melakukan pembedahan.       
 
Pada tahap pertama, tim dokter memisahkan ibu jari dari telapak tangan, kemudian dilanjutkan dengan pemisahan jari tengah dan jari manis, agar telapak tangan Loke Swe bisa digunakan untuk menggenggam.  
 
Loke Swe mengatakan sebelum menjalani operasi, ia harus menggunakan kedua telapak tangan untuk menulis, sehingga ia merasa sangat kesulitan, dan hanya bisa menulis dengan kecepatan yang sangat lambat ketika mengikuti pelajaran di sekolah. Namun, sekarang Loke Swe sudah bisa menulis dengan satu tangan secara normal.
 
Wakil Kepala Shin Kong Wu Ho-Su Memorial Hospital, Hung Tzu-jen, mengatakan pihak rumah sakit berkeinginan untuk turut mendorong Kebijakan Baru Arah Selatan (New Southbound Policy, NSP) yang dicanangkan oleh pemerintah, serta meningkatkan visibilitas keunggulan medis Taiwan di dunia internasional.