:::

Membuka Jendela Asia Tenggara Seni sebagai Gerakan Budaya

Kursi kapsalon modifikasi kursi pilot pesawat tempur, pemutaran film seorang tukang potong rambut Vietnam selatan sedang mencukur janggut veteran Vietnam utara; “ The Vacant Chair” karya Seniman Vietnam Bang Nhat Linh, melukiskan konflik dan toleran dampak perang Vietnam.

Kursi kapsalon modifikasi kursi pilot pesawat tempur, pemutaran film seorang tukang potong rambut Vietnam selatan sedang mencukur janggut veteran Vietnam utara; “ The Vacant Chair” karya Seniman Vietnam Bang Nhat Linh, melukiskan konflik dan toleran dampak perang Vietnam.
 

Bagi kebanyakan orang, citra Asia tenggara berkisar pada perbedaan bahasa, agama dan budaya, dan juga sebagai negara yang terletak nun jauh di sana; tetapi, jika menyorot Taiwan melalui karya seni kontemporer Asia Tenggara, maka Taiwan menemukan banyak kesamaan melalui pengalaman masing-masing seperti sejarah pernah dijajah, bebas dari penjajahan dan menganut demokratisasi.

 

Di musim panas 2019, Kaohsiung Museum of Fine Arts (KMFA) menyelenggarakan pameran seni kontemporer Asia Tenggara “Sunshower”, pameran paling akbar pertama kali di Taiwan. Ini merupakan peran serta Taiwan dalam Pesta Seni Asia Tenggara yang diawali dari undangan kerjasama kepada 14 kurator Jepang yang melakukan penelitian selama 2 tahun lebih di Asia Tenggara dengan biaya 3 juta dolar amerika.

 

Pemahaman Tuntas

Hampir setiap obrolan tentang Asia Tenggara, tidak terlepas dari citra stereotip seperti kemiskinan, keterbelakangan, sehingga mengabaikan seni budaya yang kaya dalam sejarah negara-negara di Asia Tenggara.

Direktur KMFA Lee Yulin, yang pernah melanjutkan studi di New York AS, sudah lama menyadari kepiawaian seni kontemporer Asia Tenggara dalam pelbagai kesempatan internasional.

Menurut statistik Kementrian Ketenagakerjaan (MOL), hingga akhir 2018, jumlah pekerja migran Asia Tenggara di Taiwan sudah mencapai 710 ribu orang, kalau ditambah dengan populasi generasi kedua para imigran baru, jumlah ini akan bertambah, sementara wajah-wajah Asia Tenggara ini sudah tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan Taiwan.

Meskipun demikian, pengenalan warga Taiwan terhadap Asia Tenggara tidak mengalami kemajuan, sebaliknya masih berprasangka kesan lama, untuk itu sangatlah penting untuk segera membuka pintu dialog.

Lee Yulin berharap melalui pameran seni kontemporer, masyarakat dapat mengenal Asia Tenggara lebih dekat, dan bisa benar-benar menerima keberadaannya, tidak lagi terbatas pada citra pasar saja, baik karena tenaga kerja, perkawinan, atau peluang bisnis dari 600 juta penduduknya, semuanya diharapkan bisa menjalin hubungan yang lebih baik.

 

Kesamaan satu sama lain

Meski Taiwan dan Asia Tenggara mempunyai perbedaan dari segi bahasa, agama dan sejarah, tetapi ada kesamaan dalam pengalaman dijajah, demokratisasi dan perkembangan ekonomi yang pesat.

Seniman Myanmar Htein Lin yang dipenjara selama 7 tahun karena terlibat dalam aksi anti pemerintah, pengurungan atas jasadnya tidak bisa mengendalikan kebebasan kreativitas jiwa seninya. Di dalam penjara, Htein Lin melukis di atas kanvas bekas baju tahanan, dengan memanfaatkan bahan seadanya, seperti tabung odol, pecahan kaca, untuk menciptakan serangkaian karya seni dengan nomer seri “00235” nomor tahanannya; setelah ia dibebaskan, karya-karyanya tersebut akhirnya bisa dipamerkan kepada dunia, membuat catatan atas sejarah penahanannya, dan juga mewujudkan hasrat dan ketegaran seorang seniman dalam meraih hidup dan cita-cita.

Karya Htein Lin, mengingatkan kita kepada fotografer Taiwan Ouyang Wen, yang dipenjarakan di Ludao pada masa Teror Putih. Dalam masa ia dipenjara, Ouyang sempat diperintahkan menjadi fotografer saat Chiang Ching-kuo melakukan inspeksi ke pulau tersebut. Berkat kesempatan inilah, ia diberi fasilitas kamar gelap mencetak foto. Kemudian ia memanfaatkan sisa film, dan secara diam-diam mendokumentasikan tradisi budaya lokal di atas pulau, membuat catatan berharga tentang kehidupan pulau Ludao di era 1950 dan 60an.
 

Apichatpong Weerasethakul , Chai Siris “Sunshower ”

Apichatpong Weerasethakul , Chai Siris “Sunshower ”
 

Sumber Daya Cipta yang Kaya

Tidak seperti seni klasik yang menekankan keindahan dan harmonis, seni kontemporer lebih banyak mengundang penonton untuk memeras otak. Dalam waktu 4 dasawarsa, Asia Tenggara mengalami perubahan drastis dalam sektor ekonomi, politik dan sosial, termasuk seni kontemporer bertema sosial, yang juga turut berkembang pesat. Para seniman kenyang dengan sumber daya cipta yang kaya, lalu dituangkan ke dalam karya cipta seni kontemporer Asia Tenggara yang tidak terkekang dan sarat materi.

Seperti halnya Apichatpong Weerasethakul seniman Thailand selaku sutradara film dan seniman Chai Siris yang bekerjasama menciptakan “Sunshower” (2017), mereka membuat sebuah gajah raksasa seberat 4 ton, digantung dalam keadaan melintang di udara, sungguh sangat menakjubkan. Apichatpong yang ahli memainkan sinar, memasang sebuah lampu bulat perlambang bulan di depan gajah, jika diamati dari dekat guratan kulit gajah, dan bulu-bulunya, bisa terlihat dengan jelas sekali, ketika warna bulan berubah dan bersinar di bagian depan, mimik gajahpun turut berubah, matanya yang setengah terpejam bagaikan setengah tidur setengah terjaga, membuat gajah menjadi sangat hidup. 

Karya seni ini dipamerkan di seksi “Antara Perkembangan Ekonomi dan Warisan”, gajah di Thailand adalah simbol keramat, tetapi sekarang menjadi alat untuk menarik wisatawan mengembangkan pariwisata. Seniman seolah-olah bertanya kepada penonton: “Bagaimana manusia modern hidup berdampingan dengan lingkungan?” Lee Yulin mengatakan, perjuangan dampak modernisasi tidak hanya masalah negara Asia Tenggara saja, ini merupakan isu yang harus dihadapi oleh semua negara bekas kolonialisme. Penjajah mengimpor modernisasi, memberikan nilai-nilai tambah seperti demokrasi, hukum, kebebasan, kenyamanan, tetapi tanpa bisa dipungkiri, ada sebagian yang menjadi korban atau terbuang dalam prosesnya.

 

Perspektif Beragam

KMFA mengundang para imigran baru di Taiwan menjadi duta kebudayaan dalam pameran, meningkatkan pengertian masyarakat akan nilai budaya Asia Tenggara, melalui perspektif mereka, memberikan cerita kehidupan di luar pengartian seni.

Biasanya sebuah pameran berakhir begitu saja karena tidak adanya pengertian mendalam akan nilai sejarah asia tenggara. Tetapi di mata imigran baru asal Vietnam Nguyen Thi Thanh Ha dan berpengetahuan sejarah Vietnam, karya seni yang dipamerkan sangat bermakna untuk diceritakan lebih luas.

 Karya seniman Kamboja Lim Sokchanlina berjudul “National Road Number 5” (2015), menggunakan foto mencatat dampak pembangunan jalan tol terhadap perumahan di sekitarnya, melalui karyanya kita dapat merasakan sang seniman ingin memberitahukan dampak kesengsaraan dan harapan akibat pembangunan, Nguyen Thi Thanh Ha bercerita tentang kehidupan keluarga Vietnam yang terlihat dalam foto. Masyarakat Kamboja yang mayoritas beragama Theravada Buddhisme, tidak akan menyembah leluhur di dalam rumah, tetapi dalam foto pameran terlihat ada 3 foto leluhur dan tempat dupa, ini sangat mirip dengan tradisi Vietnam; pemilik rumah menempatkan persembahyangan Dewa Tanah di atas lantai, sama dengan kebiasaan orang Vietnam. Menurut Nguyen, Dewa Tanah di Vietnam mengontrol semua yang ditempatkan di atas tanah, berbeda dengan Taiwan Dewa Tanah ditempatkan di meja altar persembahyangan. Di Vietnam Dewa Tanah merangkap sebagai dewa keberuntungan yang bentuknya seperti Dewa Maitreya, berperut tambun, wajahnya senyum lebar, berbeda dengan dewa keberuntungan di Taiwan yang bertopi hitam dan berpakaian seperti pejabat kerajaan kuno.

 

Memulai Dialog Gerakan Budaya

Para pekerja migran diibaratkan Lee Yulin seperti malaikat, dan ia mendorong koleganya untuk membawa pekerja migran hadir bersama, di museum ia pernah bertemu dengan Aya wanita Indonesia yang bekerja menjaga ibu dari seorang relawan museum, Aya yang semula pemalu, ternyata menjadi ceria dan bercerita panjang lebar tentang kehidupan di kampung halamannya, hal ini membuat ibu relawan menjadi sangat terkejut tapi bahagia, penyebabnya adalah karena Aya telah melihat karya berjudul “Toko Keperluan” (2010/2017) yang dibuat oleh Anggun Priambodo (Aka Culap), hasil karya tersebut memperlihatkan barang barang kebutuhan sehari-hari di Indonesia yang sangat bernuansa nusantara. 

Lee Yulin mengharapkan penonton pameran tidak hanya orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak agar mereka bisa mengenal Asia Tenggara. Ia mengatakan, imigran baru seringkali dicap sebagai kaum ekonomi minor, sehingga keturunan mereka masih asing akan kebudayaan ibunya, mereka sering merasa rendah diri, bahkan remehkan oleh kawan sebaya. Berkat dukungan dari Rotary International, ratusan siswa dari daerah pelosok datang melihat pameran “Sunshower”, pemandu pameran menciptakan nuansa agar anak-anak dengan hati terbuka mengakui budaya ibunya, dan mendorong anak-anak lainnya untuk bertanya kepada mereka.

Walaupun pameran “Sunshower” sudah berakhir, tetapi segera disusul oleh pameran “Seni Tattoo” dan pameran seni kontemporer “Penduduk asli Austronesian” yang akan diselenggarakan pada tahun 2020, yang akan  memamerkan berbagai karya seni dari Asia Tenggara. Lee Yulin mengatakan ini adalah akses gerakan untuk mengenal budaya Asia Tenggara, pengunjung pameran diharapkan bisa menjadi seperti pemicu, untuk membuka jendela pengertian yang lebih luas tentang Asia Tenggara.