:::

Surat Presiden Tsai Kepada Paus Fransiskus Sebagai Tanggapan atas Hari Perdamaian Dunia 2018

5

 

Presiden Tsai Ing-wen baru-baru ini mengirim sebuah surat kepada Paus Fransiskus sebagai tanggapan atas Pesan Kepausan pada Hari Perdamaian Dunia 2018. Presiden Tsai mendukung seruan Paus untuk merangkul orang-orang-orang yang sedang melarikan diri dari perang dan kelaparan, atau yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka karena diskriminasi, penganiayaan, kemiskinan dan kerusakan lingkungan.

Dalam suratnya, Presiden Tsai menuliskan, "Masyarakat Taiwan sangat berempati kepada orang-orang ini karena keadaan mereka mencerminkan sejarah kami sendiri, sebuah kisah imigran yang berjuang dengan darah, keringat, kerja keras dan air mata. Negara-negara di seluruh dunia seharusnya melihat fenomena migrasi global bukan sebagai ancaman, namun sebagai kesempatan untuk perdamaian.”

Presiden Tsai menjelaskan, penduduk asli Taiwan adalah ras Austronesia, dan gelombang imigran pertama dimulai 300 tahun yang lalu ketika orang-orang menyeberangi Selat Taiwan demi menghindari kemelaratan. Gelombang berikutnya terjadi pada tahun 1949 di mana pada saat itu sekitar 2 juta imigran terpaksa meninggalkan Tiongkok Daratan dan datang ke Taiwan.

Taiwan adalah sebuah komunitas imigran. Oleh karena itu, perpaduan berbagai etnis dan perbedaan ideologi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun Taiwan telah melalui masa-masa transisi yang sulit dan berkembang menjadi sebuah komunitas masyarakat bebas dan demokratis yang menjadi tolok ukur bagi komunitas berbahasa Tionghoa di seluruh dunia.

Rakyat Taiwan menikmati kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama, perasaan aman serta hak asasi manusia lainnya yang dilindungi oleh undang-undang. Berdasarkan fondasi yang kuat ini, dan sejalan dengan seruan Paus tentang rasa belas kasih kepada pengungsi dan imigran, Taiwan adalah rumah bagi sekitar 600.000 pekerja migran dan 500.000 pasangan asing, yang sebagian besar berasal dari Asia Tenggara.

Presiden Tsai lebih lanjut menjelaskan, "Kami melihat mereka sebagai tambahan kekuatan baru dan tenaga untuk pembentukan sebuah masyarakat yang beraneka budaya. Kami juga telah merumuskan Kebijakan Menuju Asia Selatan Baru demi menjembatani serta memperkuat pertukaran perdagangan dan budaya dengan negara-negara Asia Tenggara."

Sebagai strategi penting dalam pembangunan nasional pemerintah, kebijakan tersebut berupaya untuk meningkatkan hubungan di bidang pertanian, bisnis, budaya, pendidikan, pariwisata dan perdagangan antara Taiwan dengan 10 negara ASEAN, 6 negara Asia Selatan, Australia dan Selandia Baru.

Presiden Tsai mengagumi perhatian yang diberikan Paus terhadap para pengungsi dengan mengunjungi orang-orang terlantar di Bangladesh, Yunani, Yordania dan Myanmar. Taiwan telah turut membantu pengungsi internasional dengan memberikan dukungan jangka panjang bagi para pengungsi di wilayah Kurdistan Irak, serta penampungan pengungsi Burma di Thailand dan kamp-kamp Suriah di Yordania.

Keberagaman etnis dan integrasi budaya telah menjadi sebuah keuntungan bagi pembangunan sosial, sebuah negara yang kuat dan makmur harus bersifat inklusif dan mampu merangkul perbedaan.

Presiden Tsai berharap agar pesan Hari Perdamaian Dunia dari Paus Fransiskus dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong komunitas internasional untuk mengambil langkah-langkah yang dapat mengurangi kesengsaraan para imigran dan pengungsi di seluruh dunia.

Tahun ini adalah peringatan ke-76 hubungan diplomatik antara ROC (Taiwan) dengan Tahta Suci (Holy See), di mana kedua belah pihak secara berkelanjutan telah bekerja sama untuk memajukan pembangunan manusia atas dasar prinsip dan pedoman Gereja Katolik.

Berikut adalah beberapa peristiwa penting yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun yang lalu seperti: penyelenggaraan World Congress of the Apostleship of the Sea pada bulan Oktober 2017 di Kota Kaohsiung, penandatanganan nota kesepahaman untuk memperkuat kerja sama dalam memerangi pencucian uang, pendanaan terorisme dan pelanggaran terkait pada bulan Mei 2017, serta kunjungan Wakil Presiden Chen Chien-jen dan delegasi pejabat senior ROC ke Vatikan untuk menghadiri kanonisasi Bunda Theresa dari Kalkuta pada bulan September 2016.