:::

Pertemuan Tingkat Tinggi Surveyor Taiwan-Indonesia Diselenggarakan di Taipei

Manfaat hubungan kerja sama yang dimulai dari pertukaran antar lembaga pemerintah ini diharapkan dapat meluas hingga ke berbagai organisasi penelitian dan industri berskala nasional, guna mempercepat konektivitas layanan industri pemetaan, serta mengimplementasikan Kebijakan Baru Arah Selatan

Manfaat hubungan kerja sama yang dimulai dari pertukaran antar lembaga pemerintah ini diharapkan dapat meluas hingga ke berbagai organisasi penelitian dan industri berskala nasional, guna mempercepat konektivitas layanan industri pemetaan, serta mengimplementasikan Kebijakan Baru Arah Selatan. (Foto oleh MOI)

 

Pada tanggal 9 September kemarin, Kementerian Dalam Negeri Taiwan (MOI) menyelenggarakan “Taiwan-Indonesia Surveyors Summit” pertama, dan turut dihadiri oleh Wakil Presiden ROC (Taiwan), Chen Chien-jen.
 
Sebelumnya pada tanggal 20 Desember 2017, Taiwan dan Indonesia telah menandatangani “Perjanjian Kerja Sama Taiwan-Indonesia di Bidang Geodesi dan Geomatika” untuk meningkatkan sektor industri dan pertukaran SDM dari kedua belah pihak.
 
Pada kesempatan ini, Kepala Chinese Federation of Surveying and Mapping (CFSM), Wang Chi-feng, dan Kepala Ikatan Surveyor Indonesia, Virgo Eresta Jaya, menandatangani MOU kerja sama untuk mendorong pertukaran SDM di bidang pemetaan, peningkatan penelitian dan pengembangan teknologi, serta penguatan perkembangan layanan pada sektor industri terkait. Upacara penandatanganan MOU tersebut turut disaksikan secara langsung oleh Wakil Presiden Chen Chien-jen.   
 
Manfaat hubungan kerja sama yang dimulai dari pertukaran antar lembaga pemerintah ini diharapkan dapat meluas hingga ke berbagai organisasi penelitian dan industri berskala nasional, guna mempercepat konektivitas layanan industri pemetaan, serta mengimplementasikan Kebijakan Baru Arah Selatan (New Southbound Policy, NSP).  
     
Selama beberapa tahun terakhir, Pemerintah Indonesia sangat menaruh perhatian terhadap pengembangan SDM dan infrastruktur, khususnya di bidang pemetaan nasional dan pengelolaan bencana. Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) berdiri pada tahun 1972, memiliki  lebih dari 6.000 orang anggota, dan merupakan anggota dari International Federation of Surveyors (FIG).
 
Sebanyak 20 orang perwakilan dari Badan Informasi Geospasial Indonesia, KDEI, Institut Teknologi Bandung, ISI, serta perwakilan dari berbagai lembaga pemerintah dan akademik lainnya turut hadir dalam pertemuan ini, untuk membahas isu seputar penggunaan teknologi mutakhir dan pengembangan infrastruktur geospasial, seperti standarisasi material, pemetaan nasional, referensi dan penentuan posisi permukaan, sistem pesawat tanpa awak, peta dengan akurasi tingkat tinggi, informasi geospasial, pengelolaan bencana, dan pengukuran air tanah.