:::

Program Gentle Birth di Taiwan Tempat Kelahiran yang Indah

Adik Candy Liang memproduksi film pendek tentang proses persalinan yang dilalui, film ini telah disaksikan 70.000 kali, membuat tidak sedikit orang yang penasaran dengan metode gentle birth.

Adik Candy Liang memproduksi film pendek tentang proses persalinan yang dilalui, film ini telah disaksikan 70.000 kali, membuat tidak sedikit orang yang penasaran dengan metode gentle birth.
 

Pernahkah Anda berdiskusi dengan ibu atau anggota keluarga lainnya tentang bagaimana ibu melahirkan Anda? Sejak kecil hingga dewasa, kita diajari bahwa “hari ulang tahun” juga disebut sebagai “hari pengorbanan ibu”. Persalinan merupakan suatu peristiwa besar mempertaruhkan nyawa seorang ibu demi melahirkan anaknya. Pandangan tentang persalinan, selain fisik yang menderita sakit, apakah masih ada ide pemikiran imajinatif lainnya?

 

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan “gentle birth” ? Banyak orang beranggapan bahwa gentle birth adalah “persalinan di rumah” atau “persalinan di air”, tetapi ini tidak benar. Gentle birth (atau persalinan normal yang dilakukan dengan tenang sehingga dapat mengurangi rasa sakit) menjadi pandangan tentang persalinan, suatu fenomena fisiologis yang alami, bukan terapi pengobatan terhadap suatu penyakit, melainkan metode persalinan yang disesuaikan atas dasar kemauan, permintaan dan naluri fisik ibu hamil.

 Gentle birth sangat popular di Benua Eropa, Jepang, Selandia Baru dan Australia, petugas klinis membagi tugas dengan jelas, tugas “bidan membantu persalinan normal, sedangkan persalinan bermasalah ditangani dokter kandungan”, 70% - 80% ibu hamil yang menjalani persalinan normal ditangani oleh bidan yang telah mendapat pelatihan kedokteran modern dan bersertifikat akreditasi profesional. Adapun peranan mereka mulai dari membantu, memfasilitasi metode persalinan antara pengobatan modern dan homeopati, sehingga ibu hamil bisa memilih beberapa alternatif posisi melahirkan diantaranya jongkok, berlutut, berbaring maupun persalinan di air. Untuk membantu ibu dalam proses persalinan dan mengurangi rasa sakit, ada beragam cara pendukung proses persalinan, seperti bola bersalin, pijat panggul, akupuntur, aromaterapi, yoga dan meditasi.

Ketika kami tiba di ruang bersalin klinik spesialis obstetri dan ginekologi di Taiwan, kami mengetahui persalinan di Taiwan pada masa lalu lebih terkonsentrasi dengan penanganan yang dilakukan oleh bidan, tetapi dikarenakan pendidikan kedokteran barat semakin umum, ditambah lagi pada tahun 1983 pemerintah mengeluarkan suatu perintah eksekutif yang menetapkan tenaga yang membantu proses persalinan di rumah sakit wajib dipandu oleh dokter spesialis. Dengan kondisi tersebut, bidan baru diizinkan melakukan tugas persalinan. Pada tahun 1991 – 1999 Jurusan Kebidanan ditutup hal ini semakin membuat pendidikan kebidanan terputus…. Masih banyak alasan lainnya yang menyebabkan metode persalinan Taiwan saat ini diambil alih dokter spesialis kandungan. Ditambah lagi masyarakat umumnya beranggapan “karena sakit maka perlu diobati” dan menganut pemikiran cara yang efektif, maka dibangun standar prosedur pengobatan bertaraf tinggi, meliputi ibu hamil wajib dalam kondisi berbaring, saat proses melahirkan, bagian perut dipasangi alat pendeteksi detak jantung janin (Electronic Fetal Monitoring, EFM), ketuban dipecah secara paksa, suntikan oksitosin untuk mengurangi rasa sakit, mencukur bulu kemaluan, enema, episiotomi, ekstraksi vakum, puasa makan dan minum dan lain-lain. Jika masih sulit melahirkan maka perlu dilakukan bedah caesar, inilah yang disebut dengan mengalami kesakitan persalinan dua kali atau suffering twice.

 

Persalinan adalah Upaya Tim kerja

Baik dalam dunia medis maupun kebidanan, Chen Yu-ping adalah seorang dokter spesialis kandungan yang lain daripada yang lain. Lulusan Kaoshiung Medical University fakultas kedokteran ini pernah bertugas sebagai dokter spesialis kandungan di Mackay Memorial Hospital. Karena setelah memiliki anak ingin merawat anak di rumah maka ia menyandang status sebagai ibu rumah tangga selama 8 tahun. Pada masa perubahan profesi dari seorang dokter menjadi ibu rumah tangga tersebut, ia juga melanjutkan studi strata II di Institut Sains, Teknologi dan Sosial Masyarakat di National Yang-Ming University, yang akhirnya membuka kesempatan baginya untuk mendalami terapi medis dari perspektif humanistik dan menabur benih “gentle birth” untuk dipromosikan.

Ruang persalinan “Moni’s Classroom” adalah studio kerja perorangan milik Chen Yu-ping yang didirikan pada Juni 2016. Ruangan kerja yang tenang  terletak di area pemukiman yang tidak mencolok dan menjadi tempat berkumpulnya para petugas klinis garda terdepan seperti dokter spesialis kandungan, perawat, bidan, dokter pengobatan Tionghoa tradisional, praktisi aromaterapi dan lain-lain. Mereka semua dengan keahlian masing-masing memberi pelayanan kepada ibu hamil dan keluarganya untuk berkonsultasi dan mengikuti pelatihan dengan materi yang mencakup pengobatan tradisional Tionghoa dan kedokteran barat, mulai dari konsultasi pra-persalinan hingga pemulihan pasca-persalinan termasuk pemulihan kesehatan ibu, menyusui, pijat titik akupuntur, pengetahuan pendampingan persalinan dan lain-lain. 

Salah satu anggota, Kao Chia-tai mengatakan, “Selama masa proses persalinan, ibu hamil tetap akan mendapat metode perawatan umum, jika hanya dokter saja yang ingin mendorong pelaksanaan hal tersebut, tetapi suster perawat yang bertugas membantu persalinan tidak bersedia, perawatan hanya terjadi setengah jalan saja. Jika saja bidan berkeinginan untuk melaksanakan, tetapi dokter tidak bersedia maka tidak perlu dibicarakan lagi, karena bidan sama sekali tidak eksis di rumah sakit.” Bagaimanapun juga, seperti yang disampaikan oleh Chen Yu-ping bahwa, “perawatan medis adalah upaya tim kerja”.

 

Pengakuan Tulus dari Ibu Hamil dan Keluarga

Chen Yu-ping mengatakan, sebagian besar dokter terbiasa dengan memperlakukan orang yang datang kepada mereka sebagai pasien yang “menderita sakit”, dan harus “diobati”. Bagi saya menjalani gentle birth adalah belajar untuk menaruh tangan di belakang punggung saja dan membiarkan proses alami berjalan.”

 Kelahiran anak ke-2 Fish Yu ditangani oleh Chen Yu-ping, Fish Yu pernah menjalani 2 metode melahirkan yakni persalinan umum dan gentle birth. 6 tahun yang lalu ia melahirkan putrinya secara normal alami tanpa suntikan obat pengurang rasa sakit, juga melalui episiotomi sama seperti ibu hamil lainnya. Untuk anak ke-2, dengan dukungan keluarga, Fish Yu memilih melahirkan dengan metode gentle birth. “Jika hanya melahirkan satu anak saja, saya merasa apa yang saya alami sangat luar biasa, tetapi setelah episiotomi, saya merasa terluka secara psikilogis. Tetapi saat melahirkan anak ke-2, pasca persalinan tanpa ada luka di tubuh, saya melahirkan pukul 8 pagi, kemudian pukul 2 sore sudah bisa pulang ke rumah, bahkan tidak memerlukan dana subsidi persalinan 3 hari yang diberikan asuransi kesehatan nasional,” ujar Fish Yu mengenang masa tersebut dengan senang hati, “Pada saat itu saya merasa sangat ajaib! Sehingga saya berkeinginan untuk punya anak lagi!”

Persalinan gentle birth dapat menjalin hubungan ibu, bayi dan semua anggota keluarga menjadi semakin baik, terlebih-lebih memberikan kesan mendalam bagi ibu. Grace Liao yang berprofesi sebagai pengajar mengatakan, “Jika ingin mengadopsi metode gentle birth maka diperlukan semangat kerja satu tim, karena ini menjadi urusan satu keluarga!” Bagaimanapun juga, menyambut kelahiran anggota keluarga baru adalah urusan keluarga, sebenarnya metode persalinan manakah yang akan dipilih? Pengaruh apa yang dapat berdampak bagi ibu dan bayi? Apa saja yang semestinya dipersiapkan? Selain ibu hamil harus berperan aktif mengikuti dan memahami proses persalinan, anggota keluarga lainnya tanpa terkecuali juga tidak boleh berpangku tangan.

Seorang ibu lainnya, Candy Liang mengatakan, “Sudah semestinya suami mendampingi istrinya melahirkan!” Ia menceritakan pengalaman persalinan yang dialaminya. Supaya dapat mengurangi rasa sakit saat kontraksi rahim, selama masa persalinan, suami semestinya membantu memijat bagian panggul selama 30 menit dengan interval 10 menit kemudian melakukan pijatan lagi, “Katanya, setelah melahirkan ia ikut menjadi kurus.” Candy Liang mengatakan, “Saya sangat bahagia memilih metode persalinan gentle birth, pengalaman yang sangat indah, kebersamaan dengan keluarga sangat kuat. Selama proses persalinan ini, ibu hamil tidak sendirian masuk ke ruang persalinan dan tidak hanya suami menyadari dirinya telah menjadi seorang ayah saat mengendong bayinya, tetapi proses ini sepertinya juga membuka jalan bagi suami untuk memainkan peranan penting.”

Rita Wu dan Aki Yu adalah sepasang suami istri berkewarganegaraan Taiwan-Hongkong. Sejak Rita Wu kembali ke Taiwan untuk menanti kelahiran bayi mereka, Aki Yu mulai belajar dan mengenal pengetahuan terkait kelahiran melalui video. “Putrinya dilahirkan dengan kondisi masih terbungkus dalam kantong amnion. Metode persalinan umum akan mempercepat proses persalinan dengan memecahkan air ketuban secara paksa. Pernah mendengar kondisi demikian di Irlandia dianggap sebagai suatu keberuntungan!” Proses persalinan gentle birth dilakukan tanpa dipengaruhi obat apapun, bayi  dilahirkan dalam kondisi sadar dan stabil, pemulihan sang ibu juga sangat cepat, kemudian ibu dapat menyusui dan merawat bayinya.

Chen Yu-ping yang menyukai mendaki gunung mendeskripsikan proses persalinan, “Layaknya menaklukkan gunung Yu (Yushan), Anda bisa memilih kendaraan apa yang akan ditumpangi, ada orang yang membopongmu mendaki gunung atau memanjat sendiri, maka apa yang dirasakan tidaklah sama.” Beberapa memori kehidupan yang tiada duanya berkesan mendalam, mempererat hubungan dalam keluarga, juga mendampingi keluarga menyambut perjalanan hidup tahap selanjutnya.

 

Perawatan Detail Mengikuti Tren

Chen Yu-ping mengatakan, “Sebenarnya persalinan akan menimbulkan banyak perubahan mendadak, semestinya dokter wajib mengamati dan merawat dengan cermat dan detail, tetapi dikarenakan rumah sakit kekurangan tenaga medis dan sumber daya untuk merawat ibu hamil secara individual maka beberapa prosedur persalinan disederhanakan.” Sebagai contoh tindakan “menekan perut”, sering terdengar di dalam ruang bersalin untuk mempercepat proses persalinan, suster perawat melompat naik ke atas tubuh dan menekan perut ibu hamil, tindakan demikian akan membuat ibu hamil ketakutan. Jika ditangani oleh Chen Yu-ping, malah disesuaikan dengan kontraksi rahim dengan menekan pada bagian pantat bayi agar memudahkan bayi keluar dari rahim. Suatu waktu Chen Yu-ping membantu mendorong perut ibu hamil, setelah itu suaminya bertanya kepada istrinya, “Tadi dokter begini mendorong kamu, sakit tidak? ” Sebaliknya ibu hamil menjawab, “Dokter tadi hanya perlahan-lahan menyentuh saja?” Di sini terlihat ada dua pendapat yang berbeda. Contoh lainnya tindakan episiotomi yang sering dilakukan dokter dengan tujuan “menghindari kerusakan yang serius pada jaringan otot vagina”, maka dilakukanlah pembedahan tersebut. Jika saja lebih sabar menunggu dan membiarkan lubang vagina berubah menjadi tipis dan licin agar bayi dapat keluar secara alami, sang ibu tidak akan mengalami luka robek yang parah, jadi apakah episiotomi masih diperlukan?

Selain itu Chen Yu-ping menambahkan, “Selama  rahim sedang berkontraksi, tubuh akan mengeluarkan hormon oksitosin secara alami dan pada saat yang sama akan memproduksi zat endorfin agar tubuh manusia dengan sendirinya bisa menghentikan rasa nyeri. Asalkan mekanisme tubuh terkoordinasi, ibu hamil tidak akan merasa sakit, malah seakan-akan sedang mengikuti lomba marathon, bersiap-siap menyambut momen yang membahagiakan!” Gentle birth adalah pemberdayaan perempuan, membangun kejayaan dari tubuh perempuan yang sehat.

 

Semangat Perempuan

yang Menjadi Seorang Ibu

Selain Moni’s classroom difungsikan menjadi basis percontohan persalinan metode gentle birth, masih ada pemilik cafetaria Joyce Hsu dalam facebooknya membentuk platform sosial “The Gentlest Encounter—Gentle Birth”, sutradara  Mimi Chen dan Angel Su memproduksi film “Happy Birthday” jurnalis Chen Shu-ting menulis artikel “Welcoming Gentle Birth”, beberapa ibu yang berasal dari kalangan akademis, kedokteran maupun bidang lainnya, setiap dari mereka berupaya keras menyuarakan inisiatif ini dengan harapan agar Taiwan menjadi tempat indah menyambut kelahiran bayi.