:::

Gema Serial Drama Taiwan di Dunia Internasional PTS Ciptakan Lahan Subur Industri Film dan Televisi

Direktur Programming PTS, Yu Pei-hua yakin bahwa dengan menerima isu yang beragam, ia tidak perlu takut mencoba drama genre apapun agar dapat menghasilkan drama berkualitas, semua ini menjadi tanggung jawab bagi PTS. (Foto: Kent Chuang)

Direktur Programming PTS, Yu Pei-hua yakin bahwa dengan menerima isu yang beragam, ia tidak perlu takut mencoba drama genre apapun agar dapat menghasilkan drama berkualitas, semua ini menjadi tanggung jawab bagi PTS. (Foto: Kent Chuang)
 

Serial drama televisi bertajuk “On Children” adalah hasil produksi dari stasiun televisi Public Television Service (PTS). Serial drama ini merupakan film perdana yang diputar secara simultan di Netflix, mulai ditayangkan sejak Juli 2018 dan mendapat sambutan hangat dari lokal Taiwan maupun luar negeri.

Serial drama “On Children” mengeksplorasi permasalahan tentang hubungan orang tua dan anak, sistem pendidikan serta nilai-nilai sosial, yang dikemas rapi dalam skenario berelemen fiksi ilmiah (sci-fi) yang fantasis. Hasil pembuatan serial drama ini memperlihatkan ketekunan PTS mendalami program acara televisi, dan bermaksud agar masyarakat internasional dapat menyaksikan keunggulan serial drama Taiwan.

 

Serial drama “On Children” merupakan adaptasi novel berjudul sama dari karya penulis Wu Xiao-le, dimulai dari pengalamannya menjadi guru privat, kisah novel menceritakan distorsi hubungan keluarga karena konsep peningkatan pendidikan bagi siswa. Sejak tahun 2015 PTS mulai mempersiapkan dan mengangkat topik pengajaran privat di rumah sebagai inti kisah cerita, lalu dihubungkan dengan setiap keluarga, dan ditambah dengan elemen percintaan, lalu dikemas secara cantik dan manis untuk mendeskripsikan topik pendidikan yang getir. Semula penayangan dijadwalkan pada akhir tahun 2016, tetapi akhirnya diundur dikarenakan penyakit kanker dari sutradara Chen Wei-ling kambuh.

 

Memulai Kembali, Target Pasar Global

Jika diproduksi sesuai dengan naskah semula, sangat memungkinkan agar topik yang lebih tajam dipoles menjadi naskah versi yang dapat diterima oleh masyarakat, tetapi dalam hal ini malah meniadakan kekuatan orisinalnya.

Selama menjalani perawatan, sutradara Chen Wei-ling berulang kali bertanya pada diri sendiri, “Jika saja hanya tersisa satu film yang saya buat? Kisah cerita apa yang ingin saya ungkapkan?” Saat bersamaan, Netflix semakin digandrungi masyarakat Taiwan, PTS melihat dan mengetahui permintaan platform streaming internasional akan film bergenre drama. “Kisah drama kami sangat bagus untuk dipertontonkan, berkualitas untuk ditayangkan di platform streaming internasional dan tidak kalah menarik dengan sekumpulan drama internasional lainnya, masih ada pemirsa yang senantiasa menanti pemutaran drama Taiwan,” tutur Direktur Programming PTS, Yu Pei-hua. Oleh karena itu, produksi drama “On Children” dipulihkan dengan tujuan yang jelas yakni “berharap menjadi sorotan dari platform streaming internasional, supaya masyarakat dunia dapat menyaksikan serial drama Taiwan.”

Melompati elemen orisinal drama idola, melalui pendekatan lainnya dengan menempatkan hubungan anak dan orang tua sebagai inti cerita, ditambah dengan elemen fiksi ilmiah mikro. Hasil produksi serial drama dengan 10 episode yang terbagi menjadi lima seri film terpisah dengan tema “Mother’s Remote”, “Child of the Cat”, “The Last Day of Molly”, “Peacock”, dan “ADHD”.

Mempertimbangkan tuntutan atas audio dan video berkualitas tinggi dari platform streaming internasional, maka pembuatan serial drama yang semula dengan format HD ditingkatkan menjadi 4K. Untuk memenuhi tuntutan ini, maka tidak hanya peralatan kamera video yang perlu ditingkatkan, tetapi mereka juga harus memperhatikan secara mendetail penataan dan perlengkapan latar pada setiap adegan. Dekor untuk interior  rumah dari lima seri film terpisah disesuaikan dengan setiap kisah dan setiap elemen fiksi ilmiah yang disisipkan agar terlihat nyata dan realistis.

Seperti seri “The Last Day of Molly” saat ibu Molly bertandang ke sebuah laboratorium tempat teman putranya sedang menjalani riset penelitian neurologi. Ia duduk di kursi bedah dengan bagian kepalanya terpasang alat penginderaan, untuk dapat membaca kenangan dalam otak putrinya yang telah meninggal dunia. Latar ini dibangun dari ruangan kosong menjadi ruangan laboratorium yang lengkap oleh tim seniman. Yu Pei-hua mengambil contoh, jika ingin membuat adegan cerita yang memiliki perangkat berteknologi tinggi, akan terlihat lucu atau tidak masuk akal jika alat sensor yang terpasang di bagian kepala adalah mangkok styrofoam atau helm pengaman, lagipula pemirsa tidak akan terbuai dalam kisah drama itu.

Dengan penataan plot yang luar biasa dan realistis, maka kesuksesan dalam platform streaming internasional sudah ada di tangan. Saat Netflix menyaksikan cuplikan film berdurasi 17 menit yang diberikan oleh PTS, seketika pihak PTS langsung mendesak agar kerja sama penayangan film simultan segera dilaksanakan.

 

Topik Diskusi Terus Bergema di Dalam dan Luar Negeri

Sebelum ditayangkan secara resmi pada laman fanpage Facebook, Netflix memposting satu thriller “On Children” yang berdurasi 3 menit, mengambil salah satu adegan kisah seorang ibu selalu mendesak prestasi sekolah anaknya dan menaruh harapan besar, membaurkan tangisan dan perlawanan anak, dikombinasikan dengan latar musik berirama cepat, alur cerita yang padat sangat menyentuh hati para pemirsa. Jika dibandingkan postingan film pendek lainnya di fanpage dengan rata-rata jumlah puluhan ribu penonton, maka trailer ini hingga sekarang telah disaksikan oleh 1,6 juta orang.

Jangkauan platform streaming internet yang semakin luas dimanfaatkan oleh serial drama produksi PTS untuk menerobos ruang gema dan melampaui perbatasan negara. Pada bulan November, “On Children” menjadi serial drama pilihan terfavorit pertama pada papan perfilman Netflix Jepang. Banyak warganet mendeskripsikan empati yang dirasakan dirinya sebagai “racun neraka orang tua.” Situs hiburan “Decider” di bawah naungan media “New York Post” Amerika Serikat mengakui serial drama ini bagus dan merekomendasikannya kepada pemirsa agar tidak melewatkan serial tersebut.

PTS sebagai media nasional Taiwan, sangat memerhatikan “analisis dan interpretasi konsep nilai dan isu penting” yang diangkat menjadi target pembuatan program acara, menyadari tanggung jawab sosial dalam memandu isu permasalahan sosial serta menghindari sikap bias, maka untuk serial “On Children”, dari tahap awal perencanaan hingga pasca produksi, semua anggota tim kerja senantiasa mengingatkan Wu Xiao-le untuk “tidak mendeskripsikan orang tua layaknya monster yang mengerikan.”

Drama ini menceritakan tentang anak yang secara sepihak menerima tekanan berat dari ayah-ibunya, kisah ini juga menyoroti beragam tekanan yang tidak terlihat dari lingkungan luar yang memengaruhi orang tua. “Bukan kesalahan ayah-ibu, juga bukan semata-mata sistem yang bermasalah. Saat ini semua orang memegang erat nilai yang sudah mengakar dan tidak ingin berubah, sebaik apapun sistem yang disempurnakan maka akan menjadi sia-sia. Reformasi pendidikan yang diubah untuk tidak lagi mementingkan penilaian akademis, tetapi tetap ada perhitungan ini dalam benak pikiranmu,” ujar Yu Pei-hua.

Berkaitan dengan kasus bunuh diri siswa SMA di Amerika Serikat karena meniru tindakan dalam kisah film, maka sebelum penayangan setiap episode, PTS menyisipkan bintang cilik pemeran serial drama ini untuk memberikan pesan-pesan bermanfaat, seperti “Kasih sayang adalah peduli, rangkulan, menghargai tetapi bukan melukai, sudahkah Anda ungkapkan cinta hari ini?” PTS juga mengundang psikolog, pakar hubungan orang tua-anak untuk memberikan bimbingan pada akhir film, membahas hubungan suami-istri, orang tua-anak atau pemerasan emosional dan lainnya, menasihati pemirsa dengan masukan-masukan berupa solusi dari permasalahan yang dialami dalam kehidupan mereka.

 

Memupuk Keragaman Drama Taiwan

Melihat keragaman film drama internasional, sebagian besar serial drama Taiwan lebih berkonsentrasi pada dua kategori yakni drama keluarga dan drama idola. Ketika drama hanya sebatas satu genre maka literasi budaya penonton tidak dapat ditingkatkan, oleh karena itu, selain mempertimbangkan faktor komersial, PTS juga secara alamiah mencoba mengembangkan keragaman genre drama.

Misalkan film thriller psikologis pertama PTS “Green Door” yang diluncurkan pada Februari 2019. Film yang diadaptasi dari novel karya penulis Joseph Chen, dibintangi oleh Jam Hsiao yang berperan sebagai cenayang dan memberikan terapi kepada klien dengan beragam keanehan, ada klien wanita cantik yang dirasuki oleh roh gangster memiliki kepribadian ganda, juga ada pelajar SMA yang terperangkap di dalam cermin dan mengaku meninggal dunia pada 30 tahun kemudian. Melalui kajian psikologis yang mendalam, ia meneliti sifat manusia yang mengejar kebahagiaan dan mengharapkan kehidupan yang tenang.

Film lainnya bertajuk “No Outsiders” berawal dari pembunuhan tanpa pandang bulu, mengeksplorasi situasi batin pelaku kejahatan dan keluarga korban. Kisah ini melibatkan reaksi dari media, upaya penegakan hukum hak asasi manusia serta beragam permasalahan sosial lainnya.

Untuk memberikan kemungkinan berkreasi yang lebih luas bagi industri, PTS mulai membuat program acara “PTS Originals” pada tahun 2017, dan menyambut semua genre film yang berbeda mulai dari detektif, polisi dan kejahatan, horor, thriller hingga film genre fiksi ilmiah yang penuh fantasi, dengan harapan agar penulis memiliki ruang lingkup yang semakin luas untuk menulis kisah cerita mereka.

Ketika kisah cerita tidak dibatasi, kisah tersebut ternyata dapat menarik banyak sekali rencana karya kreatif seperti film hantu yang penuh imajinasi bertajuk “Samsara”, mendeskripsikan pada tahun 2020 ketika seluruh umat manusia pingsan secara mendadak, 49 detik kemudian mereka sadar dan semua orang bisa melihat roh halus. Bayangkan situasi tak terduga seperti apakah yang akan terjadi ketika manusia dan hantu hidup bersama?

Film “Justice” mengisahkan polisi dan kejahatan yang jarang ditemui di Taiwan. Kisah ini bermaksud membuat pemirsa tertarik dengan film genre polisi dan kejahatan, maka dalam adegan dituangkan efek khusus seperti peluru dan ajang baku-tembak yang realistis, bahkan tata rias dalam film horor juga memerlukan keahlian yang lebih tinggi. Di balik layar, dibutuhkan keterampilan tinggi, yang diperoleh dari pengalaman selama bertahun-tahun, baru mampu meningkatkan industri film dan televisi menjadi semakin maju.

Selain memproduksi program acara televisi, PTS juga bekerja sama dengan bioskop untuk menggelar festival film, untuk memberikan pengalaman yang berbeda kepada masyarakat. Di samping penayangan melalui saluran televisi, PTS juga mengirim serial drama berkualitas ke festival film internasional, dan berkali-kali mendapat pujian, misalkan film “Upstream” yang berhasil masuk nominasi Montreal World Film Festival dan film “Last Verse” masuk nominasi dalam Busan Internasional Film Festival.

Pada era kebangkitan platform streaming dewasa ini, para pemirsa tidak lagi terikat dengan batas negara, diperlukan peningkatan kualitas untuk dapat menarik perhatian masyarakat internasional. Kita berharap PTS dapat menghadirkan drama Taiwan yang semakin beragam, agar dunia bisa menyaksikan budaya dan kekuatan dari industri film dan televisi Taiwan.